Sekarang Presiden bangsa saya ialah SBY. Itu
orang turun pribadi dari langit. Menjelang
Pemilu banyak kelompok penggagas menggelisahkan
dan menolak kepemimpinan militer lantaran
trauma-trauma sejarah. Tapi itu semata-mata
lantaran mereka belum tahu bahwa SBY bukan
militer. SBY yang Presiden kini ini tidaklah
sama dengan SBY produk kekuasaan militer
Soeharto, yang dulu menjadi Komandan Korem di
Yogya di masa kekuasaan Soeharto. Tidaklah sama
dengan yang dulu selama menjadi Menteri
Pertambangan tidak pernah menanda-tangani satu
Surat Keputusanpun.
SBY yang Presiden RI ini bukanlah SBY yang dulu
ikut terlibat Penyerbuan kantor PDIP, yang
menyetujui ekstradisi warganegara AS ke AS
apabila mereka melaksanakan kesalahan di Indonesia,
yang berpikiran sebaiknya kasus Aceh
diserahkan kepada PBB. Atau yang selama ini
dirumorkan perihal istri di Malang atau skandal
di Mest Point. SBY Presiden RI ini bukanlah itu
semua. SBY yang Presiden RI kini ini ialah
Matahari Harapan. Adalah yang kuasa mempesona yang
diturunkan oleh Tuhan pribadi dari langit.
Adalah “Satria Piningit” yang kini keluar dari
pingitannya. Mungkin juga ia ialah semacam
Messiah, Ratu Adil. Jika tidak, bagaimana
mungkin mendadak Partai Demokrat yang
dipimpinnya tiba-tiba begitu masyhur dan
memperoleh angka tak terduga. Bagaimana mungkin
cahaya wajahnya muncul dalam mimpi kebanyakan
rakyat sehingga saat terbangun mereka sangat
ingin sesegera mungkin mencoblosnya di kotak
Pemilu. Hanya saja yang rakyat tak mengetahui
ialah bahwa SBY ini seorang insan yang sangat
baik hati dan seorang negarawan yang sikap
demokratisnya melimpah ruah.
Pengumuman Kabinet Indonesia Bersatu yang
dipimpinnya terpaksa ditunda tiga kali, mestinya
pukul 08.00 pagi gres terealisasi pukul 23.00
hampir tengah malam. Itu semua tak lain lantaran
SBY membutuhkan waktu tidak sedikit untuk
memproses pengayoman dan sikap demokratisasi.
Demokrat sejati ialah pemimpin yang meletakkan
dirinya sendiri pada urutan nomer setelah semua
yang lain. SBY menginginkan jumlah Menterinya
32, sesuai dengan tahun berkuasanya Soeharto.
Tapi Wakil ia menghendaki 34, sehingga dan
Departemen yang dibelah dan ditambah satu
Kementerian yang lucu. Dalam waktu kurang dari
12 jam, draft Menteri-menteri kabinetnya berubah
hampir total. Bahkan Kementerian terpenting yang
seharusnya ia pegang penuh – Keuangan,
Perisdustrian, Perdagangan, Sekretariat Negara :
SBY melepaskan pilihannya demi pembuktian etika
demokrasinya.
Untuk pertama kalinya elite pemerintahan RI
menjalani suatu preseden baru: SBY Kepala
Negara, Wapres de facto menjadi Kepala
pemerintahan dengan fungsi semacam Perdana
Menteri, yang mengkoordinir seluruh Menteri,
sementara Mensesneg menjadi Waperdamnya. Mereka
berdua yang berperan memilih siapa-siapa
menjadi Menteri. SBY mengalah. Karena ia
orang Jawa, mengenal benar falsafah “Ngalah kuwi
dhuwur wekasane”. Beda dengan Perdana Menteri
dan Wakilnya yang orang Sulawesi dan Sumatra.
Kebesaran jiwa SBY meneteskan airmata. Pendapat
umum menyampaikan bahwa huruf utama SBY ialah
tidak berani mengambil keputusan. Yang benar
ialah ia berhati luas, bersedia membuang
kepentingan dan pendapatnya sendiri,
mempersilahkan yang lain mengambil keputusan.
Bahkan hal yang menyangkut mutasi pejabat tinggi
TNI, SBY sangat mengalah. Rancangan ia
ditentang oleh Parlemen dan kalangan elite
militer sendiri. Perwira tinggi yang
dicalonkannya menjadi Kepala Staf Angkatan Darat
dan Panglima Angkatan Bersenjata direlakannya
untuk tidak menjabat setelah Pejabat Panglima
Angkatan Bersenjata mengirim utusan dua orang
Perwira untuk melaksanakan negosiasi dengan SBY
padahal pada periode berikutnya yang
bersangkutan tak akan sanggup naik ke jabatan itu,
alasannya menurut konstitusi gres harus
digilirkan kepada perwira non-AD. Banyak orang
salah sangka menyimpulkan “SBY tidak berani
menambah problem dengan mempertentangkan
Istana Kepresidenan dengan Markas Besar TNI,
alasannya Menteri-menterinya sendiri sudah banyak
masalah”. Padahal sebetulnya yang berlangsung
ialah kebesaran jiwa. SBY memang bukan penambah
masalah, lantaran ia tampil sebagai Presiden
justru untuk menuntaskan dan mengurangi
masalah.
Hari saat teks ini saya tulis, tiga orang
sahabat SBY, yang bukan pejabat Negara, sedang
menampung airmata beliau. Mereka bertiga
sangat-sangat memprihatinkan dan mengkawatirkan
SBY akan menanggung beban yang sangat berat di
hari-hari mendatang lantaran sangat banyak
Menterinya yang bermasalah. Indonesia akan
segera terbangun dari tidurnya oleh keriuhan
tatkala masalah-masalah itu satu persatu
diungkap oleh media massa dan diperkarakan oleh
Parlemen maupun perangkat-perangkat hukum. Belum
lagi SBY terlanjur memberkan janji-janji besar
kepada rakyat terutama hal korupsi dan
terorisme, yang akan dibereskannya dalam jangka
waktu 100 hari. Tetapi no problem. Rakyat sudah
sangat andal untuk tidak menagih janji.
Bangsa saya sangat pendendam, sekaligus sangat
pemaaf. Terdapat jenis kejahatan yang khas di
kandungan hati bangsa saya, tapi mereka berbudi
mulia. Ada semacam keangkuhan yang sangat
egoistik, tapi jangan lupa mereka juga sangat
penuh kerendah-hatian. Tetapi sangat terperinci
sikap yang paling menonjol pada kehidupan
mereka ialah bergurau. Atau barangkali orang
lain menjumpai mereka sebagai bangsa
pemalas.Atau bangsa pelupa. Bangsa saya tidak
serius-serius amat menjalani hidup ini.
Soeharto Jangan Sampai Tidak Masuk Neraka
Bahkan Soeharto, yang berkuasa semenjak 1966 hingga
1998, ialah sentra kebencian bangsa saya,
target utama cacian, disimpulkan secara umum
sebagai lambang kelaliman dan kekejaman, serta
diyakini sebagai sumber segala kesalahan dan
kesengsaraan seluruh rakyat. Kalau presiden
sesudahnya, berapapun jumlahnya, gagal
mengeluarkan negara dari aneka macam krisis: yang
salah ialah Soeharto. Kalau rupiah terpuruk
terus, itu akhir dari ketololan Orba dan
keluarga Soeharto. Kalau nasib petani, buruh,
pedagang kakilima, nelayan, serta aneka macam
segmen rakyat kecil lainnya tak pernah berubah
nasibnya: tidak ada lain penyebabnya ialah
Soeharto.
Kalau pencurian kayu hutan meningkat 300% mulai
masa reformasi, itu lantaran dirintis oleh Soeharto
semenjak sebelumnya. Kalau negeri tropis subur kami
semakin asyik mengimpor beras, gula dan garam:
itu semata-mata lantaran dismanagemen Orba. Kalau
rakyat negeri padang pasir Israel mandi dan
minum air berlimpah lantaran teknologi Water
Generator sementara di jakarta persediaan air
minum semakin menipis, kalau Mesir yang di tahun
1962 dikasih sejumlah biji mangga dari
Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia, oleh
Soekarno, dan kini mengekspor mangga itu
besar-besaran ke Indonesia, Soeharto yang masuk
neraka.
Di sepanjang jalan kota-kota Indonesia dijual
‘Pepaya Thailand’, ‘Durian Bangkok’, ‘Apel
Negeri Gajah” dll padahal bebuahan itu diambil
dari kebun-kebun di dusun-dusun Indonesia
sendiri terperinci masalahnya ialah lantaran Soeharto
selama beberapa dekade telah menghancurkan
national dignity bangsa Indonesia. Hampir semua
perusahaan-perusahaan umum milik Negara dijual
sahamnya ke luar negeri, dan asal usulnya sangat
gamblang: Soeharto dan keluarganya yang
mengajarkan hal semacam itu.
Kalau ada kucing hilang, niscaya orangnya Soeharto
yang mencuri. Kalau ada lembu dan kerbau menjadi
kurus, itu lantaran hati mereka sedih mencicipi
kediktatoran Soeharto. Kalau nyamuk menggigit
jidat seorang rakyat, itu gara-gara Soeharto.
Bagi kebanyakan hati rakyat Indonesia, Soeharto
harus masuk neraka. Jangan hingga masuk sorga.
Harus dilakukan segala daya upaya biar jangan
hingga Soeharto berproses memperbaiki dirinya.
Soeharto harus dipertahankan kedudukannya
sebagai lambang keburukan dan kejahatan. Kalau
hingga Soeharto menjadi insan baik lantaran usia
tuanya, atau kalaupun sekedar mempunyai sedikit
saja kebaikan itu sungguh mengecewakan hati
rakyat. Soeharto harus dipasang gambarnya
berjajar dengan Jengis Khan, Hitler, Pinochet,
Mussolini. Bangsa Indonesia perlu berhubungan
dengan kalangan Iblis dan Setan untuk
menghalangi para Malaikat membawa petunjuk
kebaikan kepada Soeharto. Soeharto harus
digelari masyarakat sebagai Bapak Korupsi
Nasional dan Tokoh Kegelapan Nasional.
Ini justru lantaran bangsa Indonesia bermaksud
mempertahankan kesadaran mereka perihal
kebenaran dan kemuliaan hidup. Diperlukan
Soeharto yang gelap untuk mempertahankan cahaya
kebaikan dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Bangsa saya sangat pendendam, sekaligus sangat
pemaaf. terdapat jenis kejahatan yang khas di
kandungan hati bangsa saya, tapi mereka berbudi
mulia. Ada semacam keangkuhan yang sangat
egoistik, tapi jangan lupa mereka juga sangat
penuh kerendah-hatian. Tetapi sangat terperinci
sikap yang paling menonjol pada kehidupan
mereka ialah bergurau.Atau barangkali orang
lain menjumpai mereka sebagai bangsa pemalas.
Atau bangsa pelupa.Bangsa saya tidak
serius-serius amat menjalani hidup ini.
Sweet Rom Hotel Cipinang dan Anak Kecil
Tetapi Soeharto tidak pernah mendapat akhir
aturan apapun atas kesalahan-kesalahannya yang
tak terhitung oleh angka. Ia hidup kondusif tenteram
hingga siang hari ini. Sahamnya dan saham
keluarganya kondusif di sebagai bidang usaha.
Putra-putrinya rajin belanja ke luar negeri.
Putra bungsunya yang dipenjara di sebuah pulau
pengasingan sanggup pulang ke Jakarta kapan saja.
Pada suatu siang seusai berworkshop dengan
ribuan narapidana LP Cipinang mendadak saya
pingsan, dan tatkala terbangun saya menjumpai
diri saya terbaring di kasur sangat nyaman,
berada di kamar yang sejuk, yang indah dengan
perabot-perabot glamor melebihi perlengkapan
sweet-room hotel berbintang tertinggi – itu
ialah kamar putra bungsu Soeharto. Saya kagum
pada kegantengan wajahnya. Di balik kulit
putih-kuningnya niscaya mengalir darah Raja-Raja
dunia. Tubuhnya mempunyai suatu kelas sehingga
penyakit yang menimpanya tentulah
penyakit-penyakit elite: jantung, lever,
paru-paru, over-kolestrol, atau epilepsi –
ibarat Julius Caesar. Berbeda dengan badan saya
yang hanya didatangi sakit gatal, diare, pucat
kurang gizi. Ingatnya Bapaknya, Soeharto, yang
juga ganteng aristokratik.
Tgl 11 Mei 1998 saya wiridan dengan massa Padang
Bulan, 12 Mei penembakan mahasiswa Trisakti, 13
dan 14 Mei kerusuhan di Jakarta, 15 Mei
diteruskan di Solo. Tgl 16 Mei 1998 di Hotel
Regent Kuningan Jakarta Cak Nurkhalish Madjid
dan teman-teman melaksanakan negosiasi untuk
merumuskan Surat Saran biar Soeharto
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai
Presiden. Sebagai ingusan saya kagum pada diri
saya sendiri mengingat-ingat bagaimana malam itu
saya sanggup berada di antara para tokoh nasional
yang hendak melaksanakan revolusi gagasan.
Mungkin saya pas nyapu di Hotel dan terlihat
oleh Cak Nur yang kemudian memanggil saya
sebagai bentuk solidaritas kolusial sesama orang
Jombang. Kami merumuskan goresan pena berjudul
“Husnul Khotimah”, saran biar Soeharto turun
gelanggang. Besok sorenya, 17 Mei 1998 teks itu
dikonferensi-perskan di Hotel Wisata. Saya
bertugas membaca doa terakhir – saya ingat Ekky
Syahrudin nangisnya sesenggukan tak ketulungan
kerasnya. 18 Mei 1998 saran disampaikan resmi
melalui Saadillah Mursyid Mensesneg. Menjelang
maghrib disampaikan dengan lugu oleh Mensesneg
(itu sukar dibayangkan terjadi kalau Mursyid
orang Jawa).
Sesudah Isya Soeharto ternyata baiklah untuk
mundur. Cak Nur ditelpon: Soeharto bersedia
turun dari jabatannya tapi minta ditemani oleh
“orang-orang tua”. Diputuskan secara agak
impulsif 9 (sembilan) orang: 5 penandatangan
“Husnul Khatimah” plus 4 tokoh renta yang dipilih
oleh Soeharto dan Cak Nur. 19 Mei 1998 pukul
09.00 bertemulah 9 orang itu dengan Soeharto.
Siang harinya hingga kini saya didendami
banyak orang dan rumah saya mau dibakar
gara-gara bertemu Soeharto pagi itu. “Mewakili
golongan apa Emha di situ?”. Bahkan beberapa
tahun kemudian, Malik Fajar, beberapa kali
Menteri Pendidikan Nasional, ditanya oleh
seorang mahasiswa bagaimana kok Emha ada bersama
9 orang itu ketemu Soeharto, Malik menjawab
enteng dengan bahasa Jawa Timur yang artinya:
“Entah anak kecil satu itu ikuuuut saja”.
Pertemuanpun berlangsung....
Tapi baik diingat kembali: Bangsa saya sangat
pendendam, sekaligus sangat pemaaf. Terdapat
jenis kejahatan yang khas di kandungan hati
bangsa saya, tapi mereka berbudi mulia. Ada
semacam keangkuhan yang sangat egoistik, tapi
jangan lupa mereka juga sangat penuh
kerendah-hatian. Tetapi sangat terperinci sikap
yang paling menonjol pada kehidupan mereka
ialah bergurau. Atau barangkali orang lain
menjumpai mereka sebagai bangsa pemalas. Atau
bangsa pelupa. Bangsa saya tidak serius-serius
amat menjalani hidup ini.