Dari banyak sekali bacaan, penjajakan dalam lembaga diskusi kalangan intelektual, serta puluhan kali jajak pendapat pribadi dengan publik, muncul hipotesis wacana skala prioritas nilai yang terbalik antara budaya masyarakat kita sekarang, dibanding contohnya tujuh masa silam.
Saya lempar terminologi wacana orang pintar, orang kuat, orang baik, orang kaya dan orang kuasa. Bagaimana urutan skala prioritasnya berdasarkan harapan utama masyarakat, idaman, arah usaha kariernya, juga kadar penghormatannya. Pada kecenderungan masyarakat ‘modern’ hari ini urutannya adalah: kaya, kuasa, pandai, kuat, baik. Terbalik dari skala prioritas insan di peradaban-peradaban terdahulu.
Cita-cita insan kini ini kebanyakan yakni menjadi orang kaya. Orang kuat, orang pintar, orang berkuasa, bahkan mungkin orang baik atau orang alim atau orang saleh – orientasi primernya yakni ingin kaya.
Orang pandai bergerak mendekat ke wilayah kekuasaan: siapa tahu jadi Menteri, sekurang-kurangnya Staf Ahli, Staf Khusus atau Penasehat. Gelarnya, ekspertasi keilmuannya, juga lembaga Universitasnya, Ormasnya, termasuk pengerahan kecerdasan intelektualnya, didayagunakan untuk mendekat ke kekuasaan. Aktif men-support “talbis”, rekayasa, pencitraan, supaya tergabung di simpul utama kekuasaan. Otoritas Negara di-manage sebagai perusahaan makro dengan perusahaan-perusahaan mikro di dalamnya, berdasarkan jaringan, sindikasi, geng dan lingkar silaturahmi masing-masing.
Orang besar lengan berkuasa berentang tangan dengan orang-orang kuat, melaksanakan mobilisasi, menggalang dan mengerahkan kekuatannya untuk pada balasannya bergabung ke area kekuasaan: unjuk rasa, unjuk gigi, unjuk kekuatan, supaya ditawar dan sanggup kaya dengan menjadi Komisaris perusahaan Negara. Pameo “melakukan perubahan dari dalam struktur kekuasaan” dikibarkan pada aktivisme banyak sekali era semenjak Orde Lama sampai kini, dan produknya yakni kemapanan dan kekayaan para pelakunya.
Ada juga yang mengutamakan kekuasaan: berjuang, dengan kalem atau kalap, untuk jadi pejabat. Atau merangkum keduanya: menjadi penguasa supaya kaya. Memanjat dingklik kekuasaan dengan segala cara, mengarang hal-hal wacana kehebatan dirinya, menampilkan wajahnya di sepanjang jalan, meminta dipilih menjadi pejabat tanpa rasa aib sebagai pengemis.
Pun orang-orang “alim”, orang-orang “saleh”, juga sangat getol terhadap materialisme keduniawian. Aspirasi keagamaannya bertitik berat gairah materi, sibuk menumpuk pahala, lipatan angka seratus atau seribu kali lipat. Shalat untuk lipatan angka, sedekah untuk lipatan angka. Mungkin yang dimaksud Sorga juga yakni peluang untuk lebih kaya, punya kemewahan materi bertumpuk-tumpuk, bahkan ada yang menyimpulkan salah satu kesibukan di Sorga yakni pesta seks.
Tuhan bilang pribadi “wala tamnun tastaktsir”, jangan memberi dengan mengharapkan jawaban berlipat ganda”. Atau “ikutilah mereka yang berbuat baik tanpa mengharapkan balasan, itulah parameter wacana orang-orang yang dihidayahi oleh Allah”. Itu tidak menjadi wacana umum di kalangan kaum beragama, tidak juga menjadi prinsip khusus di kalangan para pemimpinnya.
Pola hidup insan kini ini tidak mencerminkan indikator bahwa mereka percaya kepada tanggung jawab Tuhan kepada ciptaan-Nya. Tuhan Yang Maha Esa yang saya kenal, memang juga menjanjikan “angka”. Tetapi tampaknya lebih sempurna kalau melihat pahala itu sebagai ranah di mana “Tuhan mewajibkan Diri-Nya untuk menganugerahkan jawaban berlipat”. Dan jangan dipandang sebagai “hak tagih” insan kepada-Nya. Konsentrasi insan sebaiknya bukan menagih Tuhan, melainkan fokus menjalankan kewajibannya untuk bersyukur dan mengabdi. Manusia modern memang terdidik untuk kalap atas hak-haknya.
Kita nikmati pernyataan Tuhan Buy Two Get Four, serta meyakini bahwa Ia lebih memenuhi kesepakatan itu justru kalau kita tidak menagih-nagih-Nya . Barangsiapa bertaqwa kepada Tuhan, mengikatkan hidupnya selalu kepada-Nya dengan cara senantiasa waspada atas diri dan sesamanya (buy 1), akan memperoleh solusi bagi setiap masalahnya (get 1). Serta akan mendapatkan rejeki dari jalan yang tak terduga, yang di luar perhitungannya, bahkan di luar honor atau pendapatannya (get more 1).
Dan barangsiapa bertawakkal (mewakilkan) kepada Tuhan (buy another 1), mempercayakan kepada-Nya urusan yang ia tidak sanggup menggapainya dengan batas kapasitas kemanusiaannya, akan memperoleh dua pemenuhan lagi (get 2 others) dari Tuhan. Pertama (atau ketiga di urutannya), Allah tampil sebagai manajer atau akuntan hidupnya, menyusun hitungan yang diperlukannya kemudian memenuhinya. Kedua (: keempat), memberikan hamba yang bertawakkal itu ke sesuatu yang diidamkannya, sepanjang disatu-arahkan dengan kebaikan berdasarkan ilmu-Nya. Tentu saja ini tidak berlaku bila insan merasa lebih tahu dibanding Tuhan wacana apa yang dibutuhkan atau dicita-citakannya.
Tuhan Yang Maha Esa memang memperlihatkan “perniagaan” kepada manusia. Tapi saya pribadi menentukan untuk memahami proposal perniagaannya itu sebagai limpahan rahmat-Nya, lantaran pada hakikinya Ia tidak butuh apa-apa dari kita. Itu formula cinta dan tarikat kemesraan.
Mungkin itu sebabnya di masa 8-12 M penduduk Nusantara tidak begitu tertarik pada Islam, lantaran yang menawarkannya yakni Kaum Pedagang. Tetapi kemudian di masa 14-15 mereka menyerap, mendapatkan dan memeluk Islam hampir merata se-Nusantara, lantaran yang mengantarkan Islam kepada mereka bukan orang kaya atau kuasa, melainkan orang baik, insan pengayom, kaum Brahma, anak turun Ibrahim, Masyayikh, Mawaly dan Aulya. Yang menghadirkan Islam sebagai kemesraan cinta, rahmatan lil’alamin, guyub rukun, persatuan dan kesatuan.
Seakan-akan Tuhan Yang Maha Esa hadir sendiri dan berkata lembut: “an la tuhasibNii wa la uhasibtum”. Mari sini Kudekap, tak usah menghitung-hitung pahala-Ku, supaya tak Kuhitung-hitung pula dosamu.
(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
28 Agustus 2017
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/sila-1-buy-two-get-four/