ADS

Bersegera Mem-Pancasila (Seri Pancasila, 5)


Sudah niscaya protes-protes menyerbu saya. Bagaimana mungkin simpan dulu Sila Pertama. Siapa yang dapat atur “maaf Tuhan jangan terlibat dulu, nanti pada babak berikutnya saja”. Meskipun maksudnya itu yakni tahap-tahap kependidikan, di mana insan biar mengacu pada pembelajaran Al-Amin terlebih dulu sebelum siap menjadi “Abdullah” lalu “Khalifatullah”, tapi kan tidak mungkin tugas Tuhan di-pending.

Mosok Tuhan diatur semoga mengikuti keadaan terhadap proses sosialisasi dan inkulturasi Pancasila. Mosok Tuhan diikat rundown pembelajaran nilai, ilmu dan peradaban NKRI.

Meskipun insan mengabaikan-Nya, atau bahkan tidak mempercayai bahwa Ia ada, tetap saja bukan insan yang menegakkan aturan gravitasi. Kalau Tuhan mengubah atau membatalkan kadar daya tarik bumi, setiap pesawat terbang harus menyesuaikan regulasi teknologisnya. Dan pada ketika Tuhan membatalkan gravitasi, pesawat-pesawat berjatuhan dan gedung-gedung ambruk, segala tatanan fisik dan bahan mengalami guncangan dan janjkematian massal.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib”.

Apalagi yang kasat mata: Meikarta, reklamasi, LRT, MRT, Pilkada Pilpres, statistik keuangan dan Kawruh Katon lainnya.

”Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri”

Kita sendiri tak tahu jumlah helai rambut dan bulu tubuh kita. Jangankan jumlah pasir di Gurun Sinai. Kita tak dapat melihat warna buang angin kita. Tak ngerti dan tak punya otoritas besok sore jantung kita masih berdetak atau berhenti. Juga tak tahu persis aslinya isi hati istri atau suami kita. Bahkan bahwasanya belakang layar kita tidak memahami konstelasi kemauan riuh rendah kalbu kita.

“Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula. Dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang berair atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab Lauh Mahfudz-Nya”

Bagaimana mungkin Tuhan dikeluarkan dari lapangan menjadi pemain cadangan. Atas dasar saham dan hak apa serta dilantik oleh siapa kita jadi Coach atau Manajer Pelatih, sehingga berkuasa mengatur-atur Tuhan untuk keluar masuk lapangan. Ya jikalau Manajer Kesebelasan Kamboja kemarin 2-0 berada dalam ikatan sejarah dan pertalian nafkah penghidupan dengan Solo Surakarta serta seragam militer Kemboja.

“Innalloha ‘ala kulli syai`in Qadiir”. Ia memegang hak otoriter untuk berbuat sesuka hati-Nya. Sebab ia pemegang saham 100% atas kehidupan alam semesta dan manusia. Apa yang disebut saham insan dengan kreativitas dan kerja kerasnya pun tidak lain memakai alat produksi milik-Nya juga. Ia Maha Semau-mau-Nya.

Ia berhak menciptakan orang yang sangat mencintai-Nya sakit lumpuh, buta, bahkan salah satu bola matanya menyerupai hendak meloncat keluar. Sementara orang yang menghinanya dengan meng-Qorun-kan dirinya, menumpuk kekayaan yang melebihi pemilikan harta 100 juta tetangganya, dibiarkan-Nya hidup nikmat, nyaman, klimis, basi dan tenteram keluarganya. Dan nanti kematiannya tidak mencerminkan bahwa ia penghina prinsip keberbagian di antara manusia. Ia nanti dapat mati biasa-biasa saja sebagaimana orang lainnya yang baik-baik hidupnya, jujur, baik sama tetangga, rajin beribadah.

Sampai Kanjeng Nabi Musa tidak tega kepada si lumpuh buta mata ‘mendolo’ itu, sehingga memeluknya dan mendoakannya, memohon semoga Allah mengangkat penyakitnya. Si lumpuh murka dan membuang pelukan Nabi Musa. “Jangan berani-berani memohon semoga Allah menyembuhkan saya”, katanya, “Jangan berani-berani mengurangi sekulit tipispun kedekatanku dengan-Nya. Sakit yang kuderita ini amat berjasa mengakrabkanku dengan Tuhan dan mentotalkan keikhlasanku pada kehendak-Nya”.

Tindakan Tuhan itu sangat berbahaya dan menciptakan frustrasi orang-orang yang menkonsep kehidupan dunia ini sebagai “turnamen satu babak”. Hitungan mereka akan sangat keliru alasannya yakni menganggap dunia yakni satu-satunya area membangun, berkarier, sukses atau gagal. Mereka tidak percaya kepada proses transformasi, metamorfosis dan tahap-tahap evolusi menuju kesejatian dan keabadian sehabis babak final.

Sebaliknya contoh administrasi Tuhan itu melegakan hati orang-orang yang merasa sukses di bumi, berkuasa, memegang dominan modal, memilih dan mengendalikan pengelolaan nasional, mengutus adiknya se-Bapak jadi Raja. Mereka puas alasannya yakni jikalau alhasil mereka pindah ke kuburan, segala sesuatunya selesai. Sebab alam abadi hanyalah khayalan, imajinasi dan halusinasi. Bagi mereka ini, Tuhan Yang Maha Esa bukanlah Tuhan itu sendiri, yang mereka tidak mungkin melihatnya, me-riset dan merumuskan-Nya. Sila Pertama bagi mereka yakni prasangka mereka atas yang disebut Tuhan Yang Maha Esa.

Tapi memang aneka macam fakta sejarah yang mencerminkan seperti Tuhan memang ‘hobi’ istidraj. Mbombong. Nglulu. Bahkan njlomprongke. Membiarkan para pendurhaka-Nya hidup berlama-lama dan merasa berhasil. Dinasti Firaun “diternakkan” oleh-Nya hampir 3 Milenium. Sementara Andalusia dan Ottoman dibiarkan hancur. Itupun sepanjang lebih 33 Dinasti Firaun kehidupan rakyatnya berlangsung “gemah ripah loh jinawi”, “toto tentrem kerto raharjo”, tidak punya kasus ekonomi, tidak berhutang hingga ribuan triliun. Kesalahannya cuma satu: menuhankan diri.

Isa bin Maryam, makhluk yang diistimewakan-Nya, di-pause pada usia 32 tahun. Kekasih utama-Nya, Muhammad, 63 tahun. Guru Besar Mega-Teknologi, Kebatinan, kasyaf antara bumi dengan langit, “tanfudhu min aqtharis samawati wal ardl”, yakni Sulaiman bin Daud, dikasih jatah hanya 66 tahun. Sementara Nuh, ruh-Nya sendiri, disuruh prihatin Sembilan era dengan perolehan pengikut tak hingga 100 orang. Bandingkan dengan Hary Tanoesudibjo 2-3 tahun sudah merekrut ribuan ranting dan jutaan pengikut.

Usia NKRI kini hampir sama dengan Singasari. Majapahit sukses tiga kali lipatnya. Demak lamanya belum disamai oleh NKRI. Pajang transisi sejenak menyerupai era Habibie dan Gus Dur menuju Mataram Islam – yang  berlipat-lipat lebih usang pencapaiannya dibanding NKRI Harga Mati.

Siapa saja dan faktor apa saja yang hari-hari ini merupakan tiang pancang kekokohan NKRI Harga Mati? Siapa yang bahwasanya menghargai NKRI? Siapa yang menjamin NKRI tidak mati? Kita boleh tidak bersegera mem-Pancasila-kan diri, tidak cepet-cepet menyapa dan berguru kepada Tuhan Yang Maha Esa – asalkan ada di antara penduduk WNI atau WNA yang yakni Tuhan. Bukan yang sekedar menuhankan diri dan menguasai NKRI.

(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
26 Agustus 2017
#Khasanah

https://www.caknun.com/2017/bersegera-mem-pancasila/

Subscribe to receive free email updates:

ADS