ADS

Tuhan Sebagai Embel-Embel Penderita (Bedhol Negoro, 7)

Pada edisi kesepuluh aku akan paksa khatamkan goresan pena ini. Sekadar sebagai laporan dedikasi kepada yang menugasi aku menjadi rakyat kecil di Indonesia yang besar. Asalkan Beliau tidak memurkai saya, cukuplah sudah darma dan ibadat hidup saya.

Adapun bangsa Indonesia, udah pada gedè, wis gerang-gerang. Bangsa besar ini, dengan seluruh perangkat sejarahnya, sudah sangat cukup umur dan matang untuk sempurna melangkah ke masa depan. Saya merdeka untuk kembali masuk hutan dengan hati tenteram. Karena bangsa ini sudah tenang, sudah mencapai toto tentrem kerto raharjo , gemah ripah loh jinawi. Sudah baldatun thayyibatun, dan toh tidak terlalu penting apakah Robbun Ghofur atau tidak.

Sejauh ini telah aku kuak-kuak sejumlah pintu di masa silam. Ah, tetapi semua itu terlalu jauh ke belakang. Memangnya ada yang merasa perlu tahu ihwal masa silam? Apakah pernah ada tanda-tanda bahwa Indonesia membutuhkan mencar ilmu kepada masa silam? Seberapa jauh rentang ke masa lampau yang dibutuhkan oleh Indonesia hari ini untuk lompatan terjauhnya ke masa depan? Agar NKRI tahu dirinya, perlukah bawah umur bangsa mempelajari kurun Salakanagara, Keritang, Kanjuruhan, Nan Sarunai, Mengwi, atau sekadar Mataram Islam kemarin sore? Apakah rakyat Ngayogyakartahadiningrat yang kemarin gaduh antara Buwono dengan Bawono, mengerti berapa dan apa saja buku pola konstitusi Kesultanannya?

Apakah Presiden dan para Menteri perlu tahu Kerajaan besar Sriwijaya atau Majapahit dulu sistemnya Kesatuan ataukah Persemakmuran? Apakah Tanjung Puri, Mandar, Gowa,  Dipa dan Daha yaitu Kerajaan Otoriter, Pemerintahan Monarki, ataukah Koalisi Perdikan-perdikan? Apa Mensos dan Mendiknas perlu tahu apa itu  Selapanan Kendi Emas yang diminum bergiliran di Trowulan? Kalau ada yang berpikir ihwal Negara Persemakmuran Indonesia, kita tegur: Negara Kesatuan saja berhasil dipecah belah, apalagi kita memecah belah diri kita sendiri dengan Persemakmuran. Kita tidak semakin tahu akan melangkah ke mana dalam sejarah.

Pada pemerintahan ratusan Kerajaan di Nusantara kemarin-kemarin itu apakah dipilah antara Kepala Negara dengan Kepala Pemerintahan? Apakah berbeda antara Bendahara Negara dengan Kasir Pemerintahan di kantor Kementerian Keuangan? Supaya kita dapat mencar ilmu memastikan KPK, KY, MK dan sejumlah institusi lain itu Lembaga Pemerintah ataukah Lembaga Negara? Ketua KPK dilantik oleh Kepala Negara atau oleh Kepala Pemerintahan? Siapa yang paling harus diawasi oleh KPK? Kepala Negara ataukah Kepala Pemerintahan? Bagaimana mungkin dia mengawasi pihak yang melantiknya?

ASN itu pekerja Negara atau karyawan Pemerintah? Apa perbedaan konstitusional antara ASN dengan ASP? Apakah ASN di Kantor Kabupaten yaitu bawahannya Bupati? Apakah mereka harus taat kepada Undang-undang Negara ataukah kepada Bupati? Apakah rakyat itu bawahannya Pemerintah, ataukah pemilik tanah air dan Negara? Kenapa para Bos Indonesia ini mengemis-ngemis kepada karyawan-karyawannya yang mereka upah? Kenapa rakyat membungkuk-bungkuk di hadapan buruh yang diupahnya, menyerupai bersujud-sujud kepada Tuhan semoga dilimpahi rejeki?

Terserah apapun, yang penting NKRI Harga Mati. Tapi bertanyalah kepada bawah umur di Sekolah, mahasiswa di kampus, penjual makanan di jalanan, para administrator di kantor, para pejabat di pendopo, atau siapa saja: Apa maksudnya NKRI Harga Mati? Sadumuk bathuk senyari bumi? Tanah menghampar, gedung-gedung menjulang, hutan dan kebun mencakrawala, modal dan uang berputar-putar, maju makmur sejahtera “tapi bukan kami punya” kata Leo Kristi Imam Sukarno? Anak cucuku generasi milenial, berhimpunlah, susunlah peta data, bagan, grafik dan statistik NKRI Harga Mati.

Ah, alangkah bising. Betapa gaduh NKRI. Orde Lama itu baik atau terkutuk? Pertanyaan ini sangat berdekatan atau mungkin sama dengan pertanyaan: Bung Karno itu baik atau terkutuk? Orde Baru itu kasatmata atau negatif? Pak Harto itu Pengkhianat Bangsa atau Bapak Pembangunan? Kemudian Reformasi: makhluk apa dan beralamat di mana sebenarnya? Ia rombongan Malaikat atau gerombolan Iblis? Pak Harto lengser ataukah dilengserkan? Turun atau diturunkan? Dia nrimo mundur atau dipaksa mundur? Kalau ikhlas, kenapa dan bagaimana bisa? Kalau dipaksa mundur, siapa dan apa yang memaksanya? Kemudian Habibie, Gus Dur, Mega, SBY dan yang sekarang: bagaimana bahwasanya kita menggambarnya menurut nilai ilmu sejarah, teori kebangsaan dan administrasi kenegaraan?

Kalau sorga bercampur aduk dengan neraka, bagaimana cara menempuh perjalanan dan menggapai arah cita-cita? Siang malam lalat-lalat dan nyamuk-nyamuk beterbangan mengitari kepala dan tubuh kita. Hari ini saja berapa ratus hoax kemudian lalang di medsos. Pun di media massa, seberapa jauh berita-beritanya bukan hoax, bila kualifikasinya diperketat secara prinsip fakta dan moral jurnalisme? Dan bila aku lapor ke Anda bahwa itu dan itu yaitu hoax, atas dasar apa Anda percaya bahwa informasi aku itu sendiri bukan hoax?
   
Apa pedomannya, siapa marja’nya atau institusi mana sentra pola kebenaran untuk memastikan satu abjad itu hoax atau bukan hoax? Pemerintah? Kementerian Kominfo? Bagaimana bila kriteria mereka ihwal hoax yaitu segala sesuatu yang merugikan mereka, yang tidak sejalan dengan kepentingan mereka? Kepada siapa kita bertanya sesuatu itu dusta atau jujur? Kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad? Di mana alamat kantor dan rumah beliau-beliau?

Atau kepada Malaikat Isrofil? Yang suka tiup-tiup terompet kasih-kasih kabar kepada manusia? Coba tanya ke Pusat Informasi di Lembaga-lembaga Pemerintah, Universitas, Ormas, atau Kantor Intelijen: apakah ada lembar atau file database ihwal Malaikat? Atau baiknya ke Tuhan langsung? Bagaimana caranya berkomunikasi dengan Tuhan? Pakai Bahasa apa? Bagaimana mekanisme dan upacaranya? Coba tanya pribadi kepada Presiden atau Ketua DPR: apakah Tuhan benar-benar ada? Kalau ada, Tuhan itu Maha Kepala Negara yang mengatur langkah kita, ataukah Tuhan yaitu anak buah kita yang harus patuh kepada kemauan dan konstitusi kita? Tuhan itu faktor primer, atau tambahan penderita?

Betapa teguh akidah bangsa Indonesia. Semua berdiri tegap, melangkah berderap ke depan dengan mantap. Tak ada kecemasan apapun di wajah mereka. Indonesia semakin berdiri dan sejahtera. Tak dilema bahwa itu semua bukan lagi milik mereka, yang penting memperoleh cipratan-cipratannya.

(Bersambung)


Emha Ainun Nadjib
18 Agustus 2017
#Khasanah

Subscribe to receive free email updates:

ADS