ADS

Sakti, Ahmaq, Atau Kalap (Seri Pancasila, 10)



Di tengah semacam perdebatan wacana Pancasila, ia malah memberi tawaran aneh: “Atau batalkan atau hapus saja Pancasila dari nilai keIndonesiaan, saya malah merasa kondusif bila balik ke Indonesia”
   
“Lho, gimana to…”, tentu saja saya bingung.
   
“Sebab muatan Pancasila itu sopan santun semua, sementara yang diperjuangkan Indonesia yaitu materialisme”
   
“Aduh”
   
“Pancasila itu prinsipnya pembangunan manusia, bukan pembangunan Negara: insan yang adil dan beradab. Gedung-gedung tinggi, kecanggihan teknologi dan kehebatan peradaban materiil hanya arena untuk memperjuangkan keberadaban insan dan keadilan di antara mereka”
   
“Walah”
   
“Pancasila itu goal-nya keadilan sosial, bukan kemajuan fisik, bukan kemakmuran atau kekayaan”
   
“O jadi anti-materi ini ceritanya?”

“O tidak. Anti-materi itu lucu, tidak nalar dan haram. Tapi bila menyembah materi lebih konyol lagi. Materi itu ‘washilah’, perangkat atau sarana. Bukan ‘ghoyah’, bukan tujuan, bukan sesembahan yang dituhankan sebagaimana dalam kasus materialisme. Yang ditempuh Indonesia yaitu materialisme dan hedonisme, maka mesin yang digunakan yaitu kapitalisme liberal. Sedangkan Pancasila mengutamakan bebrayan antar manusia: permusyawaratan, perwakilan, hikmat kebijaksanaan”
   
“Ampun…”, sementara saya belum membantah.
   
“Kalau pinjam istilahnya penyair Taufiq Ismail: yang diselenggarakan secara penuh gairah oleh Indonesia yaitu Keuangan Yang Maha Esa. Sementara Pencasila menegakkan benang berair di Indonesia: Ketuhanan Yang Maha Esa”
   
“Ya nggak segitu-gitu amat…”
   
“Berapa kali saya ulang-ulang dalam pembicaraan kita: bila pakai Pancasila, berarti pemegang saham primernya, bahkan absolut, yaitu Tuhan. Maka semua ketetapan langkah, orientasi arah, kegiatan pembangunan, kebijakan dari atas hingga bawah – mengacu pada konsep Tuhan dalam membuat manusia, daratan, lautan, gunung, hutan, kandungan bumi, dan semuanya”
   
Saya biarkan ia merampungkan kata-katanya.
   
“Maka Kitab Utama Kebangsaan Indonesia, bila pakai Pancasila, yaitu semua kepustakaan yang berasal dari Tuhan. Terserah apa Taurat, Zabur, Injil, Al-Qur’an, Bagawadgita, atau apapun. Perlu ada proses verifikasi dan identifikasi yang mana yang otentik dari Tuhan, dan mana yang sudah diamandemen oleh manusia”
   
Agak mengerikan juga bila itu semua digulirkan.
   
“Makanya saya tawarkan Catur Sila saja. Hapus Sila Pertama, daripada ruwet berurusan dengan Tuhan. Tapi kemudian saya pikir lebih lanjut: empat Sila yang lain juga merepotkan. Mana mungkin habitat politik nasional dan budaya kependidikan kita ditabrakkan dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Mustahil Parpol-parpol dan Ormas-ormas, bahkan konstelasi ketokohan nasional dari banyak sekali latar belakang dituntut membangun Persatuan Indonesia. Lha wong mereka berhenti pada kebenaran masing-masing, tidak meneruskan langkahnya ke budi bersama. Mereka pikir kebenaran yaitu puncak nilai hidup. Padahal kebenaran hanyalah salah satu input, alat, bekal, modal atau perangkat untuk tolong-menolong mencapai hikmat kebijaksanaan”
   
Abracadabra!

“Begitu bila Pancasila. Makanya kini ini Pancasila malah menjadi sumber pertengkaran dan perpecahan. Setiap kelompok mengklaim dirinya Pancasilais dan Pro-NKRI, dengan menyimpulkan dan menuduh bahwa yang bukan mereka yaitu anti-Pancasila dan tidak Pro-NKRI. Makara untuk apa Pancasila? Kalian ini ibarat bawah umur kecil yang berebut mobil, padahal sama-sama belum dapat nyetir”

Hwarakadah!

“Mbok sudah, mobilnya taruh dulu di garasi. Sekarang sinau bareng bikin gerobak dan mencar ilmu naik sepeda”

Lama-lama jadi menyakitkan kata-kata sobat saya ini.

“Kalian para NKRI ini kan anak bungsu Bangsa Indonesia. Masih terlalu muda usianya. Sama sekali belum matang. Bahkan tidak ada gejala bahwa kalian ingin matang sebagai manusia, apalagi matang sebagai bangsa. Yang kalian inginkan kan bagaimana menjadi kaya. Yang kalian perjuangkan kan bagaimana ikut berkuasa. Sudahlah ngaku saja. Nggak usah sok Pancasila”

Benar-benar makin memanjang penderitaan indera pendengaran dan hati saya.

“Anak bungsu penuh gaya, pethitha-pethithi, merasa paling pintar dan andal di tengah Bapak Ibu bangsanya sendiri, tapi membungkuk-bungkuk rendah diri di depan orang lain. Kalau orangtua bilang ‘Jadi dirimu sendiri dulu’, kalian teriak:

"Kami bukan kaum Xenophobia. Kami bukan jago kandang. Kami membuka pintu lebar-lebar bagi globalisasi dan masuknya tamu-tamu dari luar, alasannya kami perlu belajar, transformasi pembangunan, alih teknologi, kita harus mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain. Sementara para inovator ilmu dan teknologi kalian sia-siakan, bahkan kalian buang atau bunuh kariernya. Para jenius ilmu, para penemu, para perintis masa depan, para mujtahid cahaya esok hari, bawah umur muda kreatif di banyak sekali bidang, malah dicurigai oleh Pemerintah Daerah dan ditangkap oleh Polsek”

Saya relakan mendengarkannya hingga kapanpun dan seberapapun sengsaranya hati saya.

“Katakanlah untuk sementara saya oke dengan globalisasi kapitalisme liberal, pasar bebas yang merobohkan pagar Negara, bahkan tak apa kalian munafiki itu semua dengan pseudo-Pancasila. Tapi bila gerbang kedaulatan kalian copot dan pagar kenegaraan kalian robohkan ibarat kini – saya akan mengetuk pintu rumahmu – dikala sudah tuntas kalian anak bungsu cukup umur puber ini ditelan mentah-mentah oleh raksasa neo-kolonialisme yang kini kalian sambut dengan berbinar-binar ibarat menyongsong kekasih…”

Ternyata belum selesai.

“Kalian bawah umur bermain air becek di bawah hujan deras. Kalian tak mencicipi sedang menderita komplikasi majemuk penyakit yang hampir tidak mungkin disembuhkan. Kalau kiprah utama kepemimpinan yaitu merampungkan masalah, maka saya sangat kagum kepada orang yang mau, bahkan meminta-minta, untuk menjadi pemimpin nasional. Kemungkinannya ada tiga. Pertama, niscaya itu orang sakti mandraguna. Kedua, Ahmaq, tak mengerti problem dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti masalah. Ketiga, itu orang kalap oleh ambisinya. 

(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
31 Agustus 2017
#Khasanah

https://www.caknun.com/2017/sakti-ahmaq-atau-kalap/

Subscribe to receive free email updates:

ADS