Sayang sekali ketika itu belum ada smartphone, internet, medsos, dan youtube. Sehingga kini tidak ada dokumentasi apapun perihal Pasukan Putih itu untuk diviralkan. Akan tetapi memang goresan pena aku ini bukan perihal kebenaran masa silam, yang toh terbuntu pada versi-versi dan madzhab-madzhab penafsiran. Yang aku tulis ini yakni pijakan untuk kemashlahatan masa depan, harmoni, kedamaian, dan keselamatan anak cucu di masa depanmu.
Sebelum Pasukan Putih itu tiba ke Majapahit, sebelumnya memang terjadi dua kali “tawur” alasannya gosip Agama dan situasi saling curiga. Yakni antara para nasionalis Majapahit yang Pancasilanya yakni Kutaramanawa melawan kelompok Islam. Di Mojoagung, Kawedanan yang desa kelahiran aku termasuk di dalamnya, bentrok kedua terjadi. Sunan Ngudung, pimpinan Pasukan Islam, meninggal terbunuh oleh Pangab-nya Majapahit, yakni Raden Terung, putra ke-2 dari 117 putra-putri Prabu Brawijaya V, adiknya Raden Patah. Sunan Ngudung yakni Imam Masjid Demak di Glagahputih.
Yang memimpin pasukan Sembilan putih-putih menuju Keraton Majapahit itu yakni KH Jakfar Shadiq, yang kemudian digelari Sunan Kudus, tokoh toleransi luar biasa yang menciptakan rakyat Kudus hingga hari ini tidak ada yang makan daging sapi. Kalau mau menyerbu Majapahit, kenapa jumlah pasukan hanya sembilan orang. Ternyata memang Sunan Kudus tiba untuk hanya memberikan surat dari Sunan Kalijaga kepada Prabu Brawijaya V.
Isinya menyatakan bahwa Sunan Kudus tiba bertamu untuk memberikan bahwa ia sudah memaafkan Adipati Terung yang membunuh Bapaknya. Selebihnya mengajak Brawijaya dan seluruh brayat Majapahit untuk berafiliasi mencari dan menemukan “bebener, pepener, lan kawicaksananing urip”. Mengajak “Sinau Bareng” untuk mencari kebenaran, ketepatan, dan budi hidup.
Prabu Brawijaya V bukan Raja otoriter. Filosofi Majapahit yakni rajutan harmoni antara budi Hindu dengan kearifan Budha. Konstitusinya, Kutaramanawa, membuka pintu kebebasan bagi rakyatnya untuk memeluk doktrin yang dipilihnya. Majapahit juga mengakomodasi pertumbuhan Islam yang mengalir dan melebar dari Tuban dan Gresik. Sejak usang Raden Sahid alias Sunan Kalijaga juga sudah blakrakan masuk Keraton Majapahit, bergaul dengan para Empu, para anggota Parlemen maupun pejabat-pejabat lain, serta kerabat Keraton.
Bahkan ia juga yang memandu Empu Supo Anom untuk menyamar ke tlatah Kerajaan Blambangan, yang Menakjingganya mencuri keris pusaka Kiai Sangkelat dari Keraton Majapahit. Skenario intelijen Kalijaga berhasil membawa kembali Kiai Sangkelat ke Majapahit. Bahkan dua bentrok atau tawur antara kelompok “Pancasila” melawan “Islam” sudah diperingatkan sebelumnya oleh Sunan Kalijaga semoga tidak usah terjadi. Tetapi keduanya susah dikasih tahu. Akhirnya bergelimpangan korban dari kedua belah pihak, termasuk Pangeran Handayaningrat yang sakti dari pihak Majapahit.
Surat Sunan Kalijaga yang disampaikan oleh Sunan Kudus kepada Brawijaya V mengubah segala-galanya. Itu bukan sekadar kematangan diplomasi, tapi juga budi kemanusiaan dan karamah dari langit. Surat itu memenggal dendam sejarah, meskipun tidak seluruhnya, alasannya masih menyisakan ratusan tahun bara api Sabdopalon Noyogenggong, yang mewacana hingga ke Keraton Yogyakarta ketika erupsi Merapi 2006 dan 2010, bahkan hingga hari ini.
Terjadilah Bedhol Negoro. Semacam transmigrasi besar-besaran dari Trowulan ke Demak. Majapahit sendiri sedang dalam keadaan krisis ekonomi dan mengalami labilitas politik alasannya peristiwa besar semburan lumpur di Canggu bersahabat Delta Brantas yang beranak Porong dan Kalimas. Semua pihak berpikir perlu recovery dan mungkin transformasi.
Sampai memuncak pada strategic grand design “Sirna Ilang Kertaning Bhumi”, yang seakan-akan hanya merupakan aba-aba dari tahun 1500. Suatu formula evakuasi masa depan melalui pembumihangusan atas sejumlah fakta, pemendaman di timbunan tanah dan gunung, serta penyamaran yang hanya dapat dikuakkan bila anak turun kelak menemukan kode-kodenya. Kekuatan bangunan politik di Pulau Jawa sedang rapuh, bahaya skala kecil Portugis faktual di lelautan Nusantara, serta skala besar kooptasi panjang efek Renaissance. Seolah-olah mereka sudah tahu akan terjadi 3,5 masa kolonialisme dari dunia Barat. Sesungguhnya hingga hari ini recovery dan transformasi itu belum terjadi. Karena bangsa Jawa sudah bermetamorfosis menjadi Bangsa Indonesia dan “Barat” dan “Arab”.
Adipati Terung, yang membunuh bapaknya Sunan Kudus, termasuk ikut berhijrah ke Demak dan aktif dalam pembangunan untuk mengantisipasi kemungkinan transformasi dari Majapahit yang darurat. Mantan Pangab Majapahit itu kemudian menjadi Pangab Demak, tetapi pensiun sesudah dua setengah tahun. Kemudian “mendito”, menjadi Sufi pertapa di tempat Bantul Yogya dan menyebut dirinya Panembahan Bodo. Silakan kalau sempat bertamu ke makam ia untuk menyapa dan berguru perihal kebijaksanaan.
(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
13 Agustus 2017
#Khasanah