Saya balik ke rumah sesudah melaksanakan perjalanan agak jauh menemui sahabat saya di tengah hutan rimba yang hampir tak pernah dijamah oleh manusia. Cukup usang saya merayunya biar bersedia kembali ke Indonesia, tetapi tetap gagal untuk kesekian kalinya.
Ia mengajukan tiga syarat untuk memenuhi seruan saya. Tetapi syarat pertama saja tidak kunjung final kami sepakati. “Kapan Indonesia sudah ber-Pancasila, saya akan lega hati untuk kembali. Kapan saja Indonesia benar-benar tetapkan keseriusan konstitusionalnya untuk menegakkan Pancasila, serta meneguhkan kesungguhan hati dan sikap Pancasilanya, maka tanpa kamu jemput kemari pun saya akan balik sendiri ke Indonesia…”
Saya bilang sudah semenjak lahir 72 tahun silam Indonesia sudah mendasari Negaranya dengan Pancasila. Dia membantah “Siapa bilang? Mana Buktinya?”. Kalau rakyatnya, terutama yang di bawah, relatif selalu sangat Pancasilais — tanpa merasa sok Pancasilais. Tapi elitnya? Pemerintahnya? Stakeholder-nya? Banyak sikap mereka yang mencederai Pancasila, bahkan menentang atau mengkhianatinya". Lantas kami berdebat, sangat panjang, dan makin tidak selesai.
Memang hutan di mana ia menyepi itu secara teritorial yakni potongan dari tanah air Indonesia. Hutan ini resminya milik Negara: entah siapa yang dimaksud Negara. Tetapi koordinat dan frekuensi rimba yang ia tinggali itu hampir tidak pernah tersentuh oleh prosedur Negara.
“Indonesia ada di ruangan terdalam dari hati saya. Indonesia yakni potongan penting dari cinta kalbu saya”, kata sahabat saya itu pada suatu saat, “Adapun saya bukanlah potongan dari Indonesia, alasannya saya tidak pernah meminta potongan apa-apa dari Indonesia. Indonesia justru yakni potongan dari saya alasannya saya yang memberi potongan kepada Indonesia. Saya mensedekahi Indonesia, saya tidak memakai hak-hak saya untuk memperoleh pembagian apa-apa dari Indonesia, baik harta benda, jabatan, kekuasaan atau apapun”
Sahabat saya itu tahu bahwa pikirannya tidak sanggup dipahami oleh kebanyakan orang, sehingga relatif hanya saya sendiri yang menemani hidupnya. Ia bekeluarga dan punya rumah di sebuah desa. Istri, belum dewasa dan cucu-cucunya tinggal di rumah itu. Tetapi kalau kita ke rumahnya, ia tidak pernah ada. Ia di rumah itu hanya untuk dan bersama keluarganya, dan tidak untuk siapapun lainnya.
Di tengah hutan rimba itu saya pernah amati beliau meminta rejeki eksklusif kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia menerima gumpalan emas, terkadang jatuh dari angkasa, ketika lain menyerupai menggalinya dari tanah – saya tidak benar-benar yakin itu – atau mengambilnya dari gerumbul-gerumbul dedaunan. Gumpalan emas itulah yang ia pakai untuk membeli rumah dan menghidupi keluarganya. Selebihnya, ia berada di tengah rimba, ulang-alik ke rumahnya. Atau sekaligus ia berada di rumah dan juga di tengah rimba.
Saya kelelahan merayunya. Dan perdebatan kami hal Pancasila sangat alot dan terkadang mengerikan. Hal itu menimbulkan saya selalu ragu untuk menuliskannya. Maka sesampainya di rumah, saya menghela napas dan mengajak belum dewasa saya omong-omong, biar supaya terhibur dan enteng hati saya.
“Anak-anak, salah satu yang Bapak tidak disukai dalam kehidupan yakni menasihati orang yang bukan Bapak sendiri. Kalian mungkin mencicipi selama ini, jangankan kepada para tetangga atau masyarakat: sedangkan kepada Ibu kalian pun Bapak tidak pernah menasihati”
Dua anak saya sekilas berpandangan satu sama lain. Mudah-mudahan semakin tidak pahamnya mereka kepada Bapaknya, justru menghasilkan pemahaman yang lebih otentik dari dalam diri mereka sendiri. Pemahaman yang tidak terdapat pada kata-kata Bapaknya.
“Oleh alasannya itu apa yang akan Bapak kemukakan kepada kalian ini”, saya meneruskan, “mohon jangan dianggap sebagai nasihat, meskipun seorang Bapak memang selazimnya menasihati anak-anaknya. Tetapi mungkin lebih banyak pintu-pintu ilmu yang terbuka bila kalian anggap omongan Bapak ini yakni ungkapan seorang sahabat kepada sahabatnya. Kita yakni sekumpulan sahabat yang gotong royong mencari makna hidup”
Anak-anak itu saling menoleh dan bertatapan lagi.
“Kalian yakni manusia-manusia yang dititipkan oleh Tuhan kepada Bapak dan Ibu. Kalian bukan sungguh-sungguh secara hakiki yakni anak Ibu dan Bapak. Kalian yakni ciptaan Tuhan yang diamanatkan kepada kami. Amanat itu berupa upaya terus- menerus untuk memastikan kehidupan kalian ini akan hingga kembali kepada Tuhan. Kita sama-sama ciptaan Tuhan, diletakkan di bumi, untuk meniti dan meneliti jalan biar datang kembali di rumah-Nya. Yakni kampung asal-usul dan kawasan pulang kampung kita semua”
“Masing-masing makhluk Tuhan menempuh jalannya sendiri-sendiri, meskipun mereka selalu berkumpul dan bersama untuk mencocokkan pengetahuan dan inovasi mereka perihal sempurna tidaknya jalan yang mereka lalui untuk datang di depan pintu gerbang Tuhan. Kita masing-masing akan berhadapan dan mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing di hadapan Tuhan, tanpa sanggup menolong satu sama lain”
“Bapak dan Ibu kalian tidak mengerti kebenaran. Sebab tidak ada kebenaran yang lahir atau muncul dari manusia. Menurut Tuhan, kebenaran selalu dan hanya berasal dari-Nya, sedangkan insan sekadar menemukannya, memetiknya dan menggunakannya. Makara kalau ada unsur kebenaran dalam kata-kata Bapak kepada kalian, Bapak menjamin bahwa itu bukan pendapat Bapak, bukan kebenaran milik Bapak, melainkan kebenaran Tuhan. Al-haqqu min Rabbika, wa laisa minnii…”
“Bapak berterima kasih bahwa kalian tidak mengantuk mendengar kalimat-kalimat Bapak yang semakin kabur, melebar dan tidak begitu jelas. Tapi andaikanpun kalian tertidur, Bapak yakin bahwa indera pendengaran kalian tetap mendengar. Aliran darah kalian mempunyai pendengarannya sendiri. Detak jantung kalian, berpendarnya miliaran urat saraf kalian, terutama apalagi ruh kalian yang bertapa di dalam jiwa kalian, senantiasa mendengarkan dan mencatat apapun yang hingga kepadanya, untuk ia proses menjadi potongan dari panduan perjalanan kalian”
“Ada banyak aplikasi penyerap dan pemroses data di dalam diri setiap orang. Telinga, otak dan logika hanya salah satunya. Bahkan seandainya Bapak diam dan diam saja tiap hari, sebenarnya kalian masing-masing mempunyai alat serap untuk mengakses semua yang mengalir di hati dan pikiran Bapak, meskipun tak pernah Bapak ucapkan…”
Anak bungsu saya tiba-tiba memotong: “Pak, ke mana arah pembicaraan kita ini. Setahu saya yang Bapak bicarakan semenjak tadi dan kemarin-kemarin kan Pancasila. Dan saya konsentrasi menantikan apa saja yang Bapak akan kemukakan perihal Pancasila. Sekarang kok pergi ke mana-mana…”
Saya senang mengalami anak saya memprotes saya. “Bapak tidak pergi mana-mana”, saya menjawab, “semua yang Bapak bicarakan ini masih di wilayah Pancasila. Dan kita gres menapakkan kaki mendekat ke Sila Pertama. Bapak gres saja akan membuka lembaran Surat Pengusiran…”
(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
30 Agustus 2017
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/surat-pengusiran/