ADS

Cucu Garuda (Bedhol Negoro, 8)


Alangkah tak terbatas jumlah fakta kehidupan yang saya tidak tahu. Saya sama sekali buta pengetahuan ihwal berapa perbandingan prosentase antara jumlah kasus korupsi dibanding yang diproses oleh KPK. 50-50-kah? 99-1-kah? 99,999-00,001-kah? Kalau dalam satu kasus korupsi kolektif diolah, berapa perbandingan antara yang didakwa dan dieksekusi dibandingkan yang tidak?

Kalau ada santunan dana untuk desa, berapa ratus atau ribu jumlah “Desa Hantu”? Yakni desa yang tertera di lembaran birokrasi namun tak ada di permukaan Bumi? Kita tidak punya data, dan tak punya jalan untuk mendata, yang kesimpulannya yakni “semua pejabat yakni koruptor”, meskipun kita tidak berdosa untuk merasa “sukar membayangkan bahwa ada pejabat yang tidak korup”.

Iseng-iseng adakah di antara Anda yang punya data ihwal salah seorang prajurit Korea yang dipaksa menjadi tentara Jepang, ikut menjajah ke Indonesia, kemudian membelot, bergabung ke Tentara Rakyat Indonesia dan berganti nama menjadi Mustakim?

Ada apa sebetulnya kok Indonesia tidak memproklamasikan kemerdekaan tanggal 15 Agustus 1945, sebagaimana Korea, alasannya yakni Hiroshima Nagasaki dibom masing-masing pada 6 dan 9 Agustus, tapi Indonesia mengulur waktu kemerdekaannya hingga 17 Agustus 1945? Apakah ada di antara Anda yang punya data ihwal anaknya siapa Pak Harto itu sebenarnya? “Seberapa bersaudara” ia dengan Pak Probosutejo dan Pak Sudwikatmono? Apa korelasi antara Suharto kanak-kanak dengan arit dan rumput?

Andaikan saya menjawab itu semua, tidaklah akan hingga pada kebenaran apapun, kecuali berhenti pada versi saya. Saya kelahiran Jombang, dan Jombang hingga hari ini tidak bisa memilih hari kelahirannya. Saya tidak tahu di mana tongkat kiriman Syaikhona Kholil Bangkalan kepada muridnya Hasyim Asy’ari sebagai perintah untuk mendirikan NU.

Jangankan lagi Ayat berapa Surat apa pula yang menyertai tongkat itu, yang dititipkan kepadanya melalui santri As’ad Syamsul Arifin. Jangankan menjelaskan ihwal kenapa Gus Dur Waliyullah sementara Mbah Yai Hasyim atau Mbah Wahid Hasyim bukan. Atau Kitab apa yang diamanatkan oleh Syaikhona Kholil kepada KH Hasyim Asy’ari dan KH. A Dahlan. Pisang yang dikasih ke Mbah Romli pisang ambon atau pisang emas. Mana pula cincin itu, untuk apa ia, yang diamanatkan bersamaan dengan pisang dan kitab.

Tapi apa perlunya itu semua. Toh bangsa Indonesia sudah punya cermin sendiri, untuk memahami rute perjalanan sejarah NKRI, hingga hari ini kenapa begini, dan besok mau ke mana. Bangsa Indonesia sudah tahu apa yang akan terjadi besok pagi, sudah bisa menghitung apa yang akan mereka alami dua dan tujuh tahun ke depan. Bahkan sudah ber-muhasabah menyiapkan diri setelah dua puluh delapan tahun dari sekarang.

Bagi saya sendiri mungkin malah lebih gampang menjelaskan apakah bumi ini lingkaran ataukah datar. Tinggal yang perlu klarifikasi maunya apa. Kalau yakinnya datar, akan dibikin tampak datar di pandangan matanya. Kalau maunya bumi bulat, akan dibentuk kelihatan lingkaran dikala dilihatnya.

Atau ambil padanan wacana yang tidak populer: Bangsa Indonesia tak perlu jadi Arjuna tak apa, asal tekun teguh dan rajin berlatih ibarat Bambang Ekalaya untuk meraih peluang masa depannya.

Apa pula ini? Indonesia tidak mematuhi “Jasmerah”-nya Bung Karno tak apa, asalkan mempertahankan kepribadian dan konsistensi usaha ibarat Ekalaya, yang terbukti bisa mengalahkan Arjuna. Lebih bermartabat jadi Kumbokarno, meskipun jelek rupa tapi berprinsip. Daripada Sumantri yang sibuk ngèngèr, melamar, mengemis, memohon-mohon, ndlosor-ndlosor.

Bangsa Indonesia tidak butuh fakta objektif ihwal Gadjah Mada atau Gaj Ahmada atau Haji Ahmad, Semar Tsamar Smarabhumi, Petruk Fatruk, Gareng Ghoiron, Bagong Bagho, Negeri Saba Wanasaba, Sulaiman Sleman Salam Salaman, atau siapapun otak-atik gathuk pseudo-puzzling dari sejarah masa lampau.

Yang mereka butuhkan yakni berhala Latta dan Uzza: tokoh mitologi dari masa silam, atau huruf imajiner di masa depan. Yang mereka perlukan yakni ide harga diri dan semangat nasionalisme dari siapapun saja, baik yang tokoh konkret atau mitos. Bangsa Indonesia tidak butuh fakta ada atau tiadanya Sunan Kalijaga atau Sunan-sunan Kali-kali lainnya. Yang mereka perlukan yakni pola kerja keras, kesetiaan nasional, kasih sayang kerakyatan dan budi hidup.

Waktu kanak-kanak di desa dulu, kalau ada teman ingah-ingih klenyat-klenyit dikala laga lawan anak desa lain, saya bilang: “Kakekmu dulu Pendekar hebat, mosok kau penakut begitu”. Maka dia pun bangkit, laga dengan penuh vitalitas dan spirit. Sesudah dia menang, saya bisiki: “Mbah-mu sebetulnya tidak bisa pencak silat, dan bukan Pendekar, sama dengan Mbah saya”.

Perhatikan teman saya itu. Faktanya hari itu ia menang berkelahi, alasannya yakni percaya kepada provokasi saya ihwal masa silam. Padahal fakta masa silamnya: Kakeknya orang biasa-biasa saja. Tidak rasionalkah jikalau fakta masa silam yang diketahui oleh teman saya itu yakni Kakek yang memang benar-benar sakti dan berkepribadian – maka kemenangannya akan berlipat-lipat?

Kenapa Khidlir, alias Kilir, alias Balya, alias Qoli’, atau Muammar, atau Amaniel, atau siapapun: membocorkan kapal, membunuh anak kecil dan menegakkan pagar raksasa? Karena berdasarkan Ilmu Waktu versi beliau: “Pemenang dalam pertarungan sejarah yakni Ksatria yang berpijak di masa kini, yang di tangan kirinya tergenggam masa lampau, dan di tangan kanannya ia usap-usap masa depan”.

Baiklah tak usah mengandalkan kenyataan masa silam. Masa silam hanya bab dari kebangkitan hari ini dan budi masa depan. Tapi cobalah tengok data-data ihwal kepemilikan saham, peta modal, gumpalan-gumpalan keuangan, sertifikat tanah dan bangunan-bangunan, suara undang-undang dan hukum – sesungguhnya berlandaskan cara berpikir yang bagaimana verbal kita bisa keras-keras meneriakkan NKRI Harga Mati? Belum bedhol-kah Negoro ini dari rakyat yang dulu memilikinya?

Garuda terbang di angkasa. Anak Garuda hidup dalam kurungan, tubuhnya tidak berkembang, tidak punya pengalaman terbang. Cucu Garuda kerdil badannya, ia menyangka dunia yakni kurungan di mana ia berada.

(Bersambung)

Emha Ainun Nadjib
19 Agustus 2017
#Khasanah

Subscribe to receive free email updates:

ADS