Jelas pandangan sobat saya itu yaitu hasil pikiran orang yang hidup di tengah hutan. Kurang pergaulan. Ketinggalan zaman. Indonesia sudah gebyar-gebyar, gedung-gedung canggih, cahaya berpendar-pendar, teknologi tinggi dan canggih menjadi urat saraf dan ajaran darah Indonesia. Tapi sobat saya itu ibarat makhluk pra-sejarah. Ultra-ortodoks. Jumud bin mbegugug.
Pernah saya sindirkan itu, tapi sobat saya tersenyum dan menjawab: “Siapa tak tahu Indonesia makin gebyar? Tapi rajinlah menghitung: berapa persen dari Indonesia yang milik Indonesia? Apakah Indonesia semakin menjadi milik Indonesia atau semakin menjadi bukan milik Indonesia? Saya tidak mengerti kenapa makin banyak insan yang senang dan besar hati menjadi jongos…”
Ketika di hadapannya saya mendengarkan omongan sobat itu, hampir semuanya ingin saya bantah. Tetapi, ini masalahnya, begitu saya berkumpul dengan anak-anak, hampir semua omongan sobat itu rasanya saya setuju. Seakan-akan semua pandangan sahabatku itulah yang diharapkan untuk masa depan anak-anakku. Mungkin sebab bersama sobat itu saya yaitu seseorang yang berpikir. Tetapi di tengah anak-anak, saya yaitu Bapak yang harus bertanggung jawab.
Sahabat saya itu pola ekstrem dari seorang radikalis. Keberangkatan pemikiran dan praktik hidupnya sangat fundamentalis. Eksplorasi intelektual dan spiritualnya sangat liberal. Dan setiap kali berdialog dengannya saya benar-benar merasa dan mengalami berhadapan dengan seorang teroris, yang menciptakan kepala saya retak-retak, isi otak saya diaduk-aduk.
Dia juga sangat intoleran terhadap hidupnya sendiri: bersemadi di tengah hutan rimba, berselang-seling menyepi bersama keluarganya di rumah yang tertutup. Ia punya daerah tersendiri untuk menemui tamu-tamu. Ia sangat sewenang-wenang kepada dirinya sendiri, tetapi sangat memerdekakan siapapun di luar dirinya. Ia sangat diktator kepada dirinya sendiri, tetapi santun dan mencintai siapa saja. Ia sangat militeristik atas dirinya sendiri, tetapi lembut kepada sesama manusia.
Kami lima bersaudara. Yang pertama “pancer” kami. Yang kedua selalu berada di depan saya. Ketiga di belakang saya. Keempat mengamati kami dari aneka macam koordinat dan arah. Di antara mereka ada yang punya semua perangkat untuk melaksanakan revolusi di Negeri ini, bahkan kudeta, tanpa menyentuh kulit pihak yang dikudeta. Tapi tak pernah ia mengizinkan kakinya untuk melangkah menuju kemungkinan itu. Meskipun ia sangat mendasar dan radikal, namun setiap keluar dirinya ia hanya memakai dan mengembangkan kebijaksanaan.
Dari merekalah saya mengerti “nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake” (menyerbu tanpa tentara, menang tanpa merendahkan) dari urutan sejarah dan pengalaman hidupnya. Ia pernah melelehkan puncak gunung yang bangun kokoh puluhan tahun hanya dalam beberapa saat. Meredakan amuk binatang-binatang di hutan, yang amukannya tidak dipicu oleh sesuatu dari dalam diri binatang-binatang itu, melainkan sebab makhluk di luar mereka. Ia tidak pernah mengganggu berlangsungnya aturan rimba, sebab aturan rimba yaitu ekosistem ciptaan Tuhan.
Sahabat saya itu jikalau ada singa di depannya, ia menjinakkannya tidak dengan berkelahi, atau mengakalinya dengan masakan dan rayuan. Begitu singa mencium baunya, tak perlu melihatnya atau bertemu langsung: sang singa menjadi jinak, lembut dan memancar kasih sayang dari sorot matanya dan seluruh pori-pori tubuhnya. Sahabat saya itu dekat dengan alam dan semua ciptaan Tuhan.
Karena berguru kepada empat sobat itulah demi Tuhan Yang Maha Esa saya getol memperjuangkan biar belum dewasa saya menjadi Pancasilais. Tanpa menunggu Indonesia ber-Pancasila. Meskipun seandainya Pancasila dihapus dari prinsip kenegaraan Indonesia, atau Indonesia memunafiki Pancasila – berlagak Pancasilais padahal melaksanakan hal-hal yang mengkhianati muatan-muatannya – saya tetap perjuangkan biar belum dewasa saya punya tabiat dan kepribadian Pancasilais.
Bahkan andaikan Indonesia tetap belum merdeka kedaulatannya, keuangannya, martabat kebangsaannya, harga diri kenegaraannya: saya tetap sinau bareng belum dewasa saya biar menemukan formula dan taktik tetap merdeka sebagai manusia, tanpa menunggu atau bergantung kepada merdeka tidaknya Indonesia.
“Kalian semua kini sudah mulai berguru menjadi Aqil Baligh”, saya membuka diskusi dengan mereka.
“Saya kan sudah sunat, sudah khitan”, kata si bungsu, “berarti sudah aqil baligh…”
Mereka memang diajari oleh masyarakatnya bahwa Aqil Baligh itu dimulai sehabis khitan, mimpi basah, atau menstruasi bagi abang wanita mereka. Kami harus menemukan kelengkapan substansi dan keluasan makna Aqil Baligh. Mana tega saya membiarkan belum dewasa menyangka Aqil Baligh yaitu kasus kelamin, dan kedewasaan yaitu pasal seks.
Aqil (‘aqil) yaitu ketika insan sudah mendayagunakan akalnya untuk ‘menguasai’ pengetahuan, pemahaman, pendalaman dan penghayatan atas sesuatu hal. Baligh yaitu tahap ketika pengetahuan, pemahaman, pendalaman dan penghayatannya membawa insan hingga ke kesanggupan untuk mewujudkannya, melakukannya, mengaplikasikan atau memanifestasikannya di dalam atau menjadi kehidupannya.
Secara sedikit demi sedikit belum dewasa saya ajak menapaki itu: Pengenalan (tadris, madrasah). Menuju pemahaman (tafhim, mafhamah) di level pengetahuan (ta’lim, ma’lamah). Kemudian pendalaman (ta’rif, ma’rafah). Sampai pada pemberadaban (ta`dib, ma`dabah) atau pelaksanakan dalam kehidupan. “Ngelmu kuwi kelakone kanti laku” kata orang Jawa. Semacam urutan kenal, tahu, mengerti, bisa dan mau. Atau dialektika “learning by doing”, “doing by learning”.
Kalau ini kita anggap sebagai metodologi, maka tampak Indonesia belum Aqil Baligh Pancasila. Terdapat inkonsistensi yang mendasar antara apa yang dilakukan oleh Indonesia dengan Pancasila. Terdapat diskontinuitas dan diskoneksi serius antara sikap Indonesia dengan Pancasila.
Tidak berarti 72 tahun NKRI ini pencapaiannya masih balita atau remaja, sebab kita tahu betapa berjuta-juta jumlah kaum intelektual yang cerdik pandai. Mungkin lebih sempurna jikalau rumusannya yaitu kecendekiawanan modern Indonesia enggan untuk berada dalam perspektif nilai Pancasila.
Dan memang tidak diperuntukkan atau bertujuan Pancasila. Karena tujuan Indonesia yaitu Aqil Baligh Materialisme dan Hedonisme. Cari hidup enak, jikalau bisa tanpa berjuang. Siapa saja, Iblis pun tak apa Dajjal pun oke, yang kasih uang dan akomodasi hidup enak, disembah, diangkat jadi pemimpin, bahkan dikasih podium, peci dan serban.
Sekolahnya, Universitasnya, lembaga-lembaga pendidikannya, para sarjana dan kiainya, ormas dan parpolnya, para pejabat dan institusi kepemerintahannya, aspirasi pikirannya, harapan masa depannya, sikap budayanya, pertimbangan-pertimbangan kariernya – tidak di-aqil-kan berdasar Pancasila dan tidak di-baligh-kan menuju pencapaian Pancasila.
Saya kaget sendiri kok pikiran-pikiran saya balasannya ibarat pandangan-pandangan sobat saya. Ia pernah mengatakan: “Kalau engkau bisa beramal ikut memerdekakan Indonesia, terpujilah Tuhan yang menganugerahkan kemampuan itu. Tapi jikalau tak bisa, berjuanglah biar engkau merdeka dari Indonesia. Merdeka dari ketidakmerdekaan Indonesia. Seberapapun kadarnya”
(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/aqil-baligh-pancasila/