ADS

Mempelajari Aturan Rimba

Tema maiyahan Padhangmbulan di Jombang semalam ialah “Binatang dalam Al-Qur`an: Posisi dan Fungsinya”. Ternyata majelis ilmu perihal binatang sangat menarik bagi ribuan komunitas “Sinau Bareng” atawa “Belajar Bersama” yang hadir.

Yang tidak kebagian tempat, berkerumun di jalanan menatap layar. Yang tak bisa menatap layar, asal duduk di pinggir pagar atau di bawah pohon, yang penting bisa mendengar dan menyimak. Banyak yang sengaja menentukan daerah jagongan di warung-warung, tertawa-tawa sendiri sambil nyruput kopi dan merokok meskipun membunuhmu. Yang paling rajin dan duluan tiba ialah keluarga-keluarga, bawa bontot sendiri, siap tikar, bersama istri dan anak-anaknya, termasuk yang bayi.

Tidak sedikit juga yang pulang kerja, tiba ke Padhangmbulan, untuk menggelar tikar dan tidur. Hadir saja, sudah cukup. Ketika tidur, jantungnya tetap berdetak, darahnya tetap mengalir, napasnya tetap keluar masuk, sejumlah alat pendengar jasmani dan rohaninya tetap bekerja. Dapat dua tiga kalimat saja sudah cukup. Nanti makna kalimat itu akan loading sendiri, menjadi file ilmu baru, bekerja di nalar dan hatinya, mewujud menjadi pertimbangan dan kebijaksanaan dikala mereka meneruskan usaha hidup.

Waktu loading-nya terserah rute dan prosedur alamiah dan gelombang hidup mereka masing-masing. Ada yang paginya eksklusif loading, ada yang seminggu atau sebulan kemudian. Mungkin juga loading sesudah tahun kesekian tatkala ia mengalami suatu benturan dalam hidupnya.

Orang-orang Maiyah ini bukan kelompok, bukan korps, bukan golongan. Mereka berkumpul bukan untuk rapat program, rundingan proyek atau persiapan 2019. Mereka macam-macam, ada yang Muslim ada yang tidak. Ada yang Muhammadiyah, ada yang NU. Prinsip majelis ilmu Maiyah mereka ialah dengan “Sinau Bareng” maka yang Muhammadiyah menjadi lebih Muhammadiyah, yang NU menjadi lebih NU. Yang ahlussunnah menjadi lebih ahlussunnah. Yang insan menjadi lebih sungguh-sungguh manusia, yang butuh dimanusiakan, sehingga selalu setia memanusiakan sesama manusia.

Majelis Ilmu Maiyah bisa dihadiri tiga ribu orang, bisa tiga puluh ribu orang, bisa juga hanya lima puluh orang, atau bahkan bisa sepuluh orang saja. Tidak ada pengaruhnya secara substansi. Hidup bukan jumlah. Hidup ialah keteguhan iman, kesungguhan usaha dan abadinya kesetiaan.

Maiyah Padhangmbulan yang sudah berlangsung 24 tahun tiap bulan ini ialah ruang pembelajaran tanpa dinding, tanpa syarat identitas atau latar belakang. Setiap yang hadir boleh meninggalkan majelis kapan saja, meskipun itu tidak pernah terjadi, alasannya ialah selalu duduk tertib dan khusyu’ menyimak senang 6-8 jam hingga menjelang Subuh. Yang belum tiba boleh masuk kapan saja. Maiyah boleh ada, dan boleh tidak ada. Ada Maiyah Tuhan tidak laba, tidak ada Maiyah Tuhan tidak rugi.

Maiyahan di mana-mana di banyak sekali titik di Nusantara, dengan atau tanpa saya. Tidak ada panitia resminya. Tidak ada anggaran biaya resmi. Tidak ada tim keamanan. Tidak ada sponsor. Semua yang tiba beramal untuk saling-silang kebersamaan. Mereka berguru mempraktikkan aturan rimba. Mempelajari Organisme karya Allah untuk menata Organisasi kebersamaan mereka. Hukum rimba ialah teladan organisme ciptaan Tuhan, sehingga niscaya baik dan sempurna.

Yang tidak baik ialah kalau insan berlaku menyerupai komponen-komponen rimba. Manusia bertindak menyerupai harimau memakan kijang. Manusia tidak berpikir dan pasif menyerupai pepohonan yang bergantung penuh pada kehendak Tuhan. Manusia mau diinjak-injak menyerupai tanah. Hukum rimbanya insan bukan aturan rimbanya pepohonan dan hewan. Organisasi sosial insan bukan organisme alam, meskipun di dalam dzat dan wujud insan terkandung komponen alam.

Kalau insan memaki sesama manusia; “Anjing kamu!”. Jangan lantas menyimpulkan anjing itu buruk. Yang jelek ialah insan yang berlaku menyerupai anjing. “Dasar rakyat cacing, klugat-kluget klelar-kleler!”—jangan pikir cacing itu lemah. Yang lemah ialah dikala insan men-cacing dalam pengelolaan sosial kehidupan dengan sesama manusia. Anjing cacing pohon tanah dan semua warga alam tidak ada yang masuk neraka, bahkan mereka sudah menjadi penghuni sorga semenjak awal penciptaan. Yang masuk neraka ialah insan yang berlaku binatang yang tanpa nalar dan rasio. Atau insan yang memposisikan dirinya menyerupai batu, tak punya nurani, dan mau diperalat oleh insan lain untuk melempar kepala sesama manusia.

Di Padhangmbulan malam itu terbukti binatang sangat menggoda manusia. Setelah ngaji nderes dan wirid-wirid, pukul 21.00 sudah mulai dialog, lebih dini dari biasanya. Hanya diselingi satu shalawat kurang dari 5 menit, obrolan berlangsung segar hingga tepat pukul 03.00. Bapak Fuad Effendy dari Majelis Umana’ Kerajaan Saudi, satu dari sembilan pengelola Bahasa Arab Dunia, serta Kiai Madura NU KH Ahmad Muzammil menjadi marja’ atau referensi alias narasumber hal-hal mengenai binatang dalam AlQur`an.

Cak Fuad bercerita perihal 28 binatang yang disebut dalam AlQur`an dengan banyak sekali posisi, konteks dan pemaknaannya. Misalnya bagaimana untuk melacak pembunuh di suatu kalangan masyarakat Yahudi, Allah memberi jalan keluar dengan menyuruh mencari sapi untuk disembelih. Ini metode penyidikan yang tidak masuk akal, tetapi kemudian bisa mengambarkan siapa pembunuhnya.

Yai Muzammil menginterupsi dengan mengutip firman “baqorotin shafra`un faqi’un launuha tasurrun nadlirin”, Sesungguhnya Allah berfirman bahwa “sapi betina itu ialah sapi betina yang kuning, yang kuning renta warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya”. Yai Muzammil yakin sapi berwarna kuning ialah ciri khas sapi Madura. Maka ia menyarankan pembenahan fakta sejarah sebetulnya apa hubungan nasab antara Yahudi dengan Madura.

Tapi hipotesis itu saya potong: “Ungkapan Yai Muzammil barusan dikonfirmasikan ke langit oleh Malaikat Mikail kepada Baginda Jibril kemudian diteruskan kepada Allah. Dan Allah memberi keputusan: “Karena yang bertanya ialah orang Madura, yang tidak bisa membedakan antara warna hijau dengan biru, maka segala pengajuan dari orang Madura yang menyangkut warna, tidak bisa dipertanggungjawabkan…””

Cak Fuad kemudian menguraikan pemaknaan hewan-hewan di Al-Qur`an itu: tawon, bagal, keledai, kuda dan seterusnya. Misalnya bagaimana pembunuh pertama dalam sejarah, Qabil atas Habil, berguru kepada burung gagak cara memperlakukan jenazah. Bagaimana semua teknologi insan menggandakan formula dan sistem yang dihamparkan oleh Allah dalam organisme alam.

Juga Cak Fuad menjelaskan toleransi dan kebijaksanaan masyarakat semut kepada pasukan Nabi Sulaiman, yang dikala berbaris, tidak merasa bahwa mereka menginjak dan membunuh semut-semut. “La yasy’uruun”. Mereka tidak merasa menginjak, jadi tidak bisa didakwa bersalah sepenuhnya. Andaikan salah pun tidak lantas ia boleh dibakar beramai-ramai. Hanya Paduka Khidlir yang memperoleh privilese dari Allah untuk “membocorkan kapal”, “membunuh anak kecil” dan “menegakkan pagar” yang berisi masa silam untuk tujuan masa depan.

Yang tak kalah dahsyat ialah burung Hud-hud, Direktur Lembaga Riset Kerajaan Sulaiman. Sekaligus Kepala Intelijen. Semua bangunan teknologi supercanggih, melebihi supra-teknologi  “Iroma dzatil ‘Imad” di era Nabi Hud yang kemudian dihancurkan oleh angin puting-beliung es – hingga level piring terbangnya Sulaiman yang diarsiteki oleh Tim Jin, mengacu pada hasil penelitian burung Hud-hud.

Sedemikian primernya fungsi Hud-hud, sehingga dikala suatu hari tiba terlambat dalam Sidang Kabinet Kerajaan, Baginda Sulaiman mengancam akan menyembelihnya. Untung Pak Hud-hud segera tiba dan membawa gosip A1 perihal Negeri Saba dan Ratu Balqis, yang kini diasumsikan itu ada di Gunung Dieng, Wanasaba, Jawa Tengah. Ditambah asumsi bahwa Candi Borobudur ialah peninggalan Sulaiman, alasannya ialah wilayah-wilayah di sekitar itu berjulukan Sleman, Salam, Salaman. Nama yang pakai “an” diduga ciri khas Jawa, sebagaimana Sugiman, Suparman atau Sudarman.

Tetapi kehebatan Jin yang sang Ifrith hanya bisa memindahkan Istana Ratu Balqis dan tiba di Istana Sulaiman sebelum Baginda berdiri, tetap kalah oleh kezuhudan makhluk insan Asif bin Barkhiyah yang sebelum Baginda Sulaiman simpulan berkedip: Istana sudah teronggok di hadapannya.

Begitu asyiknya obrolan pembelajaran perihal tadabbur pemaknaan binatang-binatang dalam Al-Qur`an, sehingga dikala ayat “..tetapi mereka cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya menyerupai anjing jikalau kau menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jikalau kau membiarkannya ia mengulurkan lidahnya juga…” hendak dipelajari bersama, pukul 03.00 tiba berkunjung. PR bagi semua. *

Emha Ainun Nadjib
#Khasanah


Subscribe to receive free email updates:

ADS