Ibarat Bedhol Negoro yaitu kelapa, mohon izin aku merasa perlu nyicil menelusuri secara sedikit demi sedikit dan pelan-pelan kulit halus luarnya, sabutnya, batoknya, kerambilnya, isi cairannya, bahkan mungkin manggar, glugu dan blaraknya.
Gara-gara di goresan pena aku menyebut Sunan Kalijaga, sejumlah orang menyangka aku mengerti perihal beliau. Padahal tidak ada apapun dalam hidup ini yang aku benar-benar tahu. Saya hanya merasa tahu. Dan sering sok tahu.
Misalnya aku merasa tahu sedikit mengenai sehelai daun yang mengering, tetapi 99% pengetahuan yang menyangkut asal-usulnya, sanad penciptaannya, dasar irodahnya, spesifikasi dzatiyahnya, kebijakan rububiyah diadakannya, ketentuan isimnya, posisi fi’ilnya, pilihan sifat dan wujudiyahnya, dan beribu hal lagi, sama sekali aku tidak tahu. Setiap zarrah itu tak terbatas, meskipun benda.
Apalagi perihal Sunan Kalijaga. Sedangkan kawruh aku perihal diri aku sendiri pun sedang terus aku cari, kejar, pelajari, lacak, dan masih jauh dari tahu. Para Guru menyampaikan “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Robbahu”. Saya sering belakang layar menggeremangkan budi dialektisnya: “man ‘arafa Robbahu faqad ‘arafa nafsahu”. Kedua-duanya aku belum pernah benar-benar tahu.
Tetapi alasannya sudah terjebak dan terpojok, aku wajib menjawab.
“Mbah, siapa sih bahwasanya Sunan Kalijaga itu?”
Saya mantap-mantapkan menjawab: “Sunan Kalijaga yaitu Semar Bodronoyo sekaligus Panembahan Ismoyo, juga Prabu Kresna sekaligus Wisanggeni atau Ontoseno…”
“Lho ditanya perihal Sunan Kalijaga kok malah menyebut figur-figur lain”, si penanya memprotes.
Tentu saja aku kebingungan. Jawaban aku itu bukan berasal dari pengetahuan saya, melainkan sekadar membaca running text di layar otak saya.
“Memahami manusia, apalagi multikarakter ibarat Sunan Kalijaga, diharapkan kesabaran, alasannya harus tahap demi tahap. Kalau sekadar tubuh dan wajahnya mungkin tidak terlalu ruwet. Tapi andaikan aku lukis wajah beliau, apa landasannya bagi siapapun untuk percaya bahwa itu wajah Sunan Kalijaga?”
“Maksud Mbah?”
“Seperti wajah dan tubuh gempal Perdana Menteri Gadjah Mada yang dikenal sekarang, yang selalu digambar-gambar ulang untuk banyak sekali keperluan – atas dasar metodologi ilmiah apa sehingga itu disimpulkan sebagai wajah Gadjah Mada?”
“Kan semua orang yakin itu Gadjah Mada, Mbah”
“Semua orang yakin. Berarti landasannya yaitu keyakinan. Apakah keyakinan dapat dibenarkan oleh prinsip ilmu yang kita anut di Sekolah-sekolah?”
“Kan tidak ada sanggahan atau penolakan dari para sejarawan”
“Apakah kebenaran menjadi benar-benar kebenaran hanya alasannya tidak dibantah atau disanggah?”
Si penanya tertawa. “Mbah, aku menemui Sampeyan ini untuk bertanya. Kok malah aku ditanya-tanya terus…”
“Bagaimana jikalau wajah yang diyakini sebagai wajah Gadjah Mada itu ternyata wajah Nambi, Ronggolawe, Raden Wijaya, atau Damarwulan, Layang Seto kembaran Layang Kumitir, atau malahan seorang komedian di zaman itu?”
Si penanya mulai meradang. “Yang aku tanyakan yaitu Sunan Kalijaga, Mbah, bukan Gadjah Mada...”
“Bagaimana jikalau ada yang menyatakan bahwa Gadjah Mada itu orisinil Tangbatang bersahabat Sumenep Madura?”, aku mengejar terus, meskipun tidak untuk mendapat apa-apa, “Dan Sumpah Palapa itu suara aslinya yaitu Sumpah Lapa-Lapa. Tapi alasannya Gadjah Mada orang Madura maka membacanya Palapa, sebagaimana Ronto-Ronto menjadi Toronto?”
“Saya ini serius, Mbah…”
“Bagaimana jikalau dulu ada seorang sejarawan memeriksa-meriksa reruntuhan patung-patung di Trowulan, kemudian menemukan seonggok kepala, yang berdasarkan selera dia wajah semacam itulah seharusnya wajah Gadjah Mada, sesuai dengan kehebatan, kesaktian dan kepahlawanannya?”
Kemudian aku tertawa terpingkal-pingkal, alasannya running text yang aku lihat ada emoticon wajah tertawa lebar.
“Baiklah, Mbah”, katanya, “Kenapa Sunan Kalijaga dihubungkan dengan Semar, Kresna, Wisanggeni dan Ontoseno?”
“Tidak boleh kah?”
“Lha wong Sunan Kalijaga saja belum tentu nyata, kok Njenengan malah melebar ke yang lebih tidak konkret lagi. Semar, Kresna, Wisanggeni dan Ontoseno kan cuma wayang. Cuma dunia bayang-bayang…”
Mendengar pernyataan itu tiba-tiba percepatan running text meningkat. Saya agak kelabakan.
(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
15 Agustus 2017
#Khasanah