Tamu yang lain lagi memberondong aku dengan parade pertanyaan yang bobotnya bisa menciptakan kepala aku retak. Sekumpulan bawah umur muda yang luar biasa: cerdas, berani menerjang, pandangannya penuh lengkungan dan lipatan dalam bulatan. Mereka bukan “anak didik Indonesia”. Mereka santrinya Tuhan. ‘Allamal insana ma lam ya’lam. Allah mengajarkan kepada mereka apa-apa yang mereka sebelumnya belum mengetahui.
Di hadapan mereka, aku menjadi orang renta dungu yang tidak efektif, sakit-sakitan sehingga sering muntah-muntah. Sementara mereka tegak berdiri dan berjalan dengan kewaspadaan terhadap masa depan. Ittaqullah waltandhur nafsun ma qaddamat lighod wattaqullah. Anak-anak muda pentaqwa Allah dengan meragukan kehidupan, kemudian berjalan mengarungi masa kini sampai ke depannya, tetap dengan kewaspadaan terus di setiap langkahnya.
“Buktikan apa benar Walisongo itu benar-benar ada”, salah seorang menerjang, “Beberkan kepada kami fakta bahwa Majapahit berkuasa se-Nusantara, atau bahkan se-Asia Tenggara. Sodorkan kepada aku bahwa bendera Gula Kelapa ialah sanad utama sejarah Merah Putih Indonesia Raya. Bahwa Gadjah Mada dan Sunan Kalijaga itu bukan dongeng. Bahwa Ken Arok itu bukan rekayasa kolonial, untuk menciptakan bangsa Indonesia merasa bahwa nenek moyang mereka memang kejam dan culas”
Badan aku gemetar, wajah aku pucat, otak aku buntu. Dengan gugup aku terpaksa menjawab: “Anak-anakku, maaf-maaf ya. Setelah usia Bapak meluncur di atas angka 60, Bapak semakin menemukan bahwa manusia, masyarakat, Negara dan dunia ini ternyata alam ghoib…”
“Ghoib bagaimana maksudnya, Pak?”, lainnya bertanya.
“Saya pikir aku tahu, ternyata tidak. Saya sangka aku mengerti, ternyata tidak. Ghoib ialah segala sesuatu yang aku tidak, tahu, belum tahu, gagal tahu, salah tahu, meleset tahu, terbalik tahu. Dan Indonesia ialah alam paling ghoib yang letaknya jauh di lubuk paling dalam dari kekelaman yang remang-remang…”
“Aaah, Bapak ini lebay!”
Disusul seorang lainnya: “Kita cespleng saja lah Pak…”
“Aduh anak-anakku mohon jangan terlalu keras kepada orang renta yang hatinya sudah amat ringkih. Pertanyaan anak-anakku ini menyerupai nge-bom semut. Bapak ini bukan siapapun untuk sanggup mempertanggungjawabkan hal Gadjah Mada, Sunan Kalijaga dan semua itu benar atau salah, ada atau tidak ada. Yang hari ini saja alam ghoib, apalagi yang dulu-dulu. Bapak ini setengah mati berusaha menguak kegelapan, menyibak alam ghoib itu, supaya nanti tidak tiba-tiba mati gelap dan buta…”
“Tapi kan Bapak mantap banget ngomongin itu semua?”
Saya tertawa. Puji Tuhan ternyata aku masih bisa tertawa. “Hidupnya Bapak ini tidak pernah mantap, anak-anak. Lha jika omong juga tidak mantap, kan jadi tepat ketidakmantapan Bapak”
“Untuk apa menuliskan sesuatu yang Bapak sendiri tidak tahu?”
“Lho, Bapak tahu, Nak. Kan aku sudah bilang: itu alam ghoib. Jangankan hal-hal besar menyerupai itu, sedangkan hari dan tanggal kelahiran Kakek pun Bapak tidak tahu. Bahkan Kakeknya Bapak sendiri juga tidak tahu. Kalau Bapak nulis Walisongo, justru menunggu penegasan dari anak-anakku dan siapapun bahwa Walisongo itu tidak ada. Bahwa wilayah kekuasaan Majapahit itu omong kosong. Bahwa Gula Kelapa itu tak ada kaitannya dengan bendera nasional kita. Serta bahwa Gadjah Mada dan Sunan Kalijaga itu homogen kisah Thok-Thok-Ugel…”
Saya rasakan bawah umur itu mulai jengkel. Dia kasih kerjaan ke saya, malah aku kasih kerjaan balik. Mereka agak terbelakang alasannya ialah menyangka aku pinter. Mungkin agak parah ketidaktahuannya, alasannya ialah mengira aku tahu.
“Anak-anakku salah memilih tuan rumah”, aku menambahi, “Kalau anak-anakku tiba dengan seribu pertanyaan, maka Bapak juga siap dengan minimal sepuluh ribu pertanyaan. Sebab anak-anakku jauh lebih advanced dari saya. Kalau anak-anakku mengantongi seribu balasan ihwal masa silam bangsa kita, Bapak cukup menandingi dengan satu biji jawaban. Yakni kepastian ihwal ketidakpastian. Ya alam ghoib tadi itu. Bapak sangat usang mengikuti parade ketidaktahuan, pameran ketidakpahaman dan turnamen ketidakpahaman. Hasilnya aneh: kini Bapak justru sangat menikmati ketidaktahuan. Kalau ada tamu datang, Bapak cemas, jangan-jangan ia seorang Mursyid yang akan menguakkan alam ghoib itu, sehingga Bapak akan mulai kehilangan kenikmatan…”
Dialog kami mandeg. Karena mereka membawa seribu “tidak”, sementara aku tak punya satu pun “ya” yang benar-benar “ya”, kecuali alam ghoib itu. Saya sangat kagum kepada siapapun, orang sekolahan, orang kebatinan, yang perpustakaannya manual, digital atau bacaan-bacaan penuh cahaya di tengah gelap gulita hutan belantara – yang bisa menemukan bahwa Indonesia atau Jokowi bukan alam ghoib.
Akhirnya tanpa sengaja kami terseret ke tengah lautan antara benua “ya” dengan benua “tidak”. Memang ternyata demikianlah kehidupan. Demikian pula koordinat manusia. Ya-nya insan tidak pernah sungguh-sungguh ya. Tidak-nya insan tidak pernah benar-benar tidak. Hakikat hidup insan ialah “semoga”.
Bahkan si insan ini sendiri apakah ada atau tidak ada: termasuk alam ghoib. Apakah ya atau tidak. Ada yang bagaimana dan tiada yang macam apa. Ya berdasarkan resolusi pandang yang mana, tidak berdasarkan spektrum pandang yang bagaimana. Manusia ini dibilang sekadar animasi, ya mungkin. Dibilang sungguh-sungguh ada, rasanya ya juga. Buktinya kita pusing kepala tatkala duduk di pantai, memandang maritim luas sambil menyongsong datangnya kapal impor garam.
Kita ini dibilang subjek, sutradara, diri yang mandiri, terkadang menyerupai ya. Tapi di tengah rasa sanggup berdiri diatas kaki sendiri itu kita sangat sering menemukan momentum bahwa ternyata kita hanya diselenggarakan, diwayangkan, atau disutradarai. Sangat banyak faktor yang menunjukkan bahwa kita tidak sepenuhnya mandiri, contohnya detak jantung dan fatwa darah kita. Kita tidak bisa bikin skedul harian jam berapa saja mau buang air kecil dan besar. Tidur kita tak menjamin berdiri kita. Kalau jualan belibis goreng tak tahu berapa yang akan dibeli orang. Kalau narik ojek tak bisa memastikan akan sanggup penumpang berapa. Kita hanya berusaha memperhitungkan, tanpa bisa memastikan.
“Maha Suci Tuhan yang memperjalankan hamba-Nya di malam hari”. Tidak siang hari. Melainkan malam hari yang gelap. Kondisi tubuh kita dan istri normal dan subur, tapi setelah tidur dengannya, ternyata belum tentu hamil. Kita tak bisa menjadwal ajal kita akan terjadi sebelum atau setelah pensiun. Kita kredit rumah bayar 10 tahun: itu bukan kepastian, melainkan optimisme dan keyakinan. Sepulang dari kantor developer, sore harinya kita bisa dipindah ke rumah duka. Padahal tidak sakit apa-apa. Karena ajal memang tidak ada kaitannya dengan sakit atau tidak sakit.
Belum ketemu apa bahwasanya penyebab kanker. Tidak pula bisa memastikan apakah akan tiba lagi makhluk ghoib yang berjulukan virus ini atau basil itu. Lantas ada tamu tiba mau memastikan kepada aku ihwal tinggi tubuh Gadjah Mada, warna kulit Sunan Kalijaga. Juga data KTP-nya Nabi Khidlir. Jenis rambut Nabi Nuh keriting atau ikal atau lurus. Berapa panjang jempol kaki Jengis Khan. Apakah Bapa Adam punya pusar. Cara Ibu Hawa memotong kuku pakai kayu tajam atau pakai gigi. Selama pelayaran perahu Nuh, apa benar masakan mereka ialah padatan témpé. Sebab jika tidak, bagaimana memperoleh materi mentahnya dan masak-manualnya untuk ribuan hewan dan hampir seratus manusia. Belum lagi diganggu-ganggu oleh Iblis yang melukai Gajah sehingga keluar Cèlèng, kemudian melukai Cèlèng sampai keluar tikus.
Sedangkan aku tidak punya materi dan jalan sama sekali untuk memastikan berapa jumlah anaknya Bung Karno. Berapa di antara mereka yang menjadi stakeholders politik dan prosedur aturan nasional kini ini. Tidak bisa melacak dulu Bung Tomo tokoh utama 10 November ataukah ia hanya yang ditugasi ke Radio untuk mengkremasi jiwa kepahlawanan arek-arek Surabaya. Berapa jumlah dukun Pak Harto tatkala berkuasa. Apa korelasi antara Jenderal Benny Moerdani dengan Gajah Putih dari Aceh. Apa beda antara Nyi Roro Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul. Yang mana yang Nawangwulan, dan mana yang Nawangsih. Mereka berdua lahir sebelum atau setelah Yesus. Siapa di antara mereka yang di-SMS oleh Gus Dur disarankan semoga pakai jilbab.
Tidak ghoib sama sekali bagi Allah. ‘Alimul ghoibi was-syahadah. Tetapi aku muta’allimul ghoib, sudah setua ini gres mencar ilmu nithili layar tabir ghoib. Tapi semakin hari Indonesia semakin ghoib. Barat, Arab, pembangunan, globalisasi, bid’ah, sesat, kafir, radikal, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika tetap saja ghoib. Apalagi Cina, ghoibul ghuyub, seghoib-ghoibnya keghoiban….*
(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
16 Agustus 2017
#Khasanah