Koran SINDO, Jum'at, 23/11/2007
TIGA pekan lagi, 14 Desember, saya akan sediakan panggung-panggung untuk beberapa penyair PENA Malaysia di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Besoknya saya ajak ke program Komisi Yudisial, ada Rendra,Taufiq Ismail,M Sobary,Kiai Kanjeng, dll di sana.
Besoknya lagi saya coba koordinasikan dengan Taman Budaya Yogya. Besoknya sehabis itu di padangbulanan Yogya ”Mocopat Syafaat”Yogya. Kemudian sudah saya pesan kolaborasi dengan Fakultas Sastra Unair dan Bengkel Muda Surabaya. Justru lantaran Indonesia dan Malaysia sedang tak yummy hati. Orang Indonesia uring-uringan soal ”Rasa Sayange”, ”Reog”, ”Batik”, dll.
Malaysia dianggap ‘ngelunjak’, ang kuh, merendahkan, bahkan semua warga kita yang di Malaysia kebal dengan sebutan ”Indon”. Malaysia sendiri juga punya perasaan yang sama. Heran kenapa Indonesia marahmarah. Pejabat-pejabat di sana mengeluh bahwa pers Indonesia terlalu membesarbesarkan masalah.
Seorang anak muda, dalam program ”Kongres Budaya Serumpun” menyampaikan kepada saya: ”Bangsa Indonesia bersikap menyerupai itu lantaran pendidikannya lebih rendah dari bangsa Malaysia”. Sebenarnya agak malas, tetapi saya eksklusif jawab saat itu: ”Please don’t ever ever ever say such a word again...”.
Apalagi jika pas di Indonesia, kalimat itu jangan pernah diucapkan. Saya tidak tergerak untuk membantahnya, meskipun budayawan senior Baharudin Zainal kemudian setengah mati mengatakan: ”Saya dibesarkan secara intelektual di Indonesia.Harsya Bachtiar, Umar Kayam, Goenawan Muhamad,Taufiq Abdullah,dll bukan hanya sahabat-sahabat saya, tapi juga inspirator dan guru-guru saya.
Dalam konteks pencapaian intelektual,kebudayaan dan karya seni, Indonesia sama sekali bukan tandingan kita. Secara keseluruhan, bahkan Indonesia yaitu gurunya Malaysia....” Saya sendiri tidak akan membela diri menyerupai itu.Andaikan dikejar kenapa sa- angya bilang ”Do not ever say that again”, saya akan jawab: ke mana pun pergi, saya selalu mencar ilmu dan berguru.Apalagi ke Malaysia.
Kalau guru saya merendahkan saya, maka saya batalkan pembelajaran saya, lantaran verbal superioritas orang lain sudah lebih dari cukup bagi saya untuk merogoh, menyerap, mencuri dan menelanjanginya hingga ia kopong kosong hampa. Ada sangat banyak dan cukup panjang soal Indonesia-Malaysia ini jika dituliskan.Banyak segi,dimensi, dan nuansa.
Berulang kali saya ke Malaysia, beberapa kali dengan Kiai Kanjeng, tanpa pernah mengalami perilaku arogan atau meremehkan dari mereka. Ada sejumlah fakta dan data dapat digunakan jika mau pertandingan keunggulan, bangsa Indonesia sesungguhnya tak terlawan oleh siapa pun di muka bumi ini, kecuali (kita juga memiliki) sejumlah kecenderungan menyerupai ‘selengean’, ‘cengengesan’, ‘iseng’, tidak percaya satu sama lain, terlalu permisif, dan suka menggampangkan sesuatu.
Kita dapat diskusi wacana Indonesia- Malaysia sekian bab. Misalnya kontinuasi perang hirau taacuh dan dendam Melaka-Majapahit. Bab lain wacana Hang Tuah dan Hang Jebat.Bab lain wacana Kementerian Pariwisata dan Eny Beatric.Bab lain wacana TKI-TKW sebagai representasi bangsa Indonesia, sehingga generasi terbaru Malaysia membayangkan Indonesia itu hutan rimba, suku terasing, kampung-kampung, dusun-dusun, uneducated dan uncivilized nation.
Bab lain wacana paradoks antara fanatisme Melayu, tetapi orientasi kebaratan yang makin meninggi. Bab lain wacana perlunya bangsa Malaysia dikasih data wacana jumlah orang Jawa di tengah bangsa-bangsa dan sukusuku di wilayah Nusantara. Cukup statistik saja dulu, tak perlu hal Ronggowarsito, Gajahmada, filsafat adiluhung, Tari Bedoyo Ketawang, apalagi hingga Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer atau BJ Habibie. Juga tak perlu hitung dulu berapa jumlah mal di Kelapa Gading saja, tak perlu seluruh Jakarta, dibanding Kuala Lumpur.
Bab lain wacana hal-hal internal di kandungan kehidupan bangsa Malaysia.Tentang posisi persaingan Melayu melawan etnik China dan India.Tentang konstelasi nilai pencapaian akademis mahasiswamahasiswa Indonesia di Malaysia. Tentang bandingan omzet Digi, Maxis, dan Celcom yang mencerminkan prestasi administrasi pada perusahaan-perusahaan ‘etnik’ di belakangnya.
Tentang dangdut dan campur sari,serta sejarah etos ekonomi di Chowkit. Tentang tukang batu, tukang kayu Jawa, bagaimana gerangan prestasi ekonomi mereka. Tentang tugas masa depan TKW bagi belum dewasa Malaysia. Tentang bangsa yang menghindari ”3D”: dirty, difficult, dangerous....
Tetapi semuanya itu bantu-membantu tak perlu diungkap.Kalau SBY punya kalimat yang memenuhi kepiawaian diplomatik sekaligus keindahan budaya dan kearifan rohani, segera semua dapat dieliminasi. Kecuali menentukan menyerupai Bung Karno: ”Ganyang Malaysia!”, meskipun terpaksa kita tambahi ”Tapi selamatkan Siti Nurhaliza”. Atau mungkin dapat duta SBY dan perutusan Pak Lah duduk bersama, kemudian bikin pernyataan bersama.
Bangsa Malaysia yaitu bangsa yang sebaiknya dipangku disayang oleh bangsa Indonesia. Soal ribut-ribut hak cipta itu silakan pilih beberapa jalan berpikir, misalnya: ”O, itu orang Jawa Sunda Bugis Ambon sendiri yang berbaju Malaysia yang menarik hati Indonesia melalui Rasa Sayange dll semoga bangsa Indonesia bangkit dari tidurnya, marah, dan bertindak sungguh-sungguh untuk membangun kembali dan membela martabatnya.
Klaim dan godaan itu dilakukan bersumber dari kandungan belakang layar rasa nasionalisme anak turun kita sendiri di Malaysia....” Menantu Rasulullah Muhammad SAW, Ali ibn Abi Thalib, menang duel, musuh tergeletak dengan ujung pedang Ali di lehernya. Si musuh meludahi wajah Ali, sehingga Ali menarik pedangnya, ngeloyor pergi meninggalkan musuh yang bantu-membantu dengan satu gerakan kecil dapat ditumpasnya.
Ketika ditanya, Ali menjawab: ”Karena diludahi, saya meninggalkannya. Karena saya takut gerak ujung pedangku digerakkan oleh amarah, bukan bergerak lantaran Allah”. Kita tak perlu pergi menyerupai Ali, lantaran kita sangat besar: kita pangku saja Malaysia. (*)
EMHA AINUN NADJIB
TIGA pekan lagi, 14 Desember, saya akan sediakan panggung-panggung untuk beberapa penyair PENA Malaysia di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Besoknya saya ajak ke program Komisi Yudisial, ada Rendra,Taufiq Ismail,M Sobary,Kiai Kanjeng, dll di sana.
Besoknya lagi saya coba koordinasikan dengan Taman Budaya Yogya. Besoknya sehabis itu di padangbulanan Yogya ”Mocopat Syafaat”Yogya. Kemudian sudah saya pesan kolaborasi dengan Fakultas Sastra Unair dan Bengkel Muda Surabaya. Justru lantaran Indonesia dan Malaysia sedang tak yummy hati. Orang Indonesia uring-uringan soal ”Rasa Sayange”, ”Reog”, ”Batik”, dll.
Malaysia dianggap ‘ngelunjak’, ang kuh, merendahkan, bahkan semua warga kita yang di Malaysia kebal dengan sebutan ”Indon”. Malaysia sendiri juga punya perasaan yang sama. Heran kenapa Indonesia marahmarah. Pejabat-pejabat di sana mengeluh bahwa pers Indonesia terlalu membesarbesarkan masalah.
Seorang anak muda, dalam program ”Kongres Budaya Serumpun” menyampaikan kepada saya: ”Bangsa Indonesia bersikap menyerupai itu lantaran pendidikannya lebih rendah dari bangsa Malaysia”. Sebenarnya agak malas, tetapi saya eksklusif jawab saat itu: ”Please don’t ever ever ever say such a word again...”.
Apalagi jika pas di Indonesia, kalimat itu jangan pernah diucapkan. Saya tidak tergerak untuk membantahnya, meskipun budayawan senior Baharudin Zainal kemudian setengah mati mengatakan: ”Saya dibesarkan secara intelektual di Indonesia.Harsya Bachtiar, Umar Kayam, Goenawan Muhamad,Taufiq Abdullah,dll bukan hanya sahabat-sahabat saya, tapi juga inspirator dan guru-guru saya.
Dalam konteks pencapaian intelektual,kebudayaan dan karya seni, Indonesia sama sekali bukan tandingan kita. Secara keseluruhan, bahkan Indonesia yaitu gurunya Malaysia....” Saya sendiri tidak akan membela diri menyerupai itu.Andaikan dikejar kenapa sa- angya bilang ”Do not ever say that again”, saya akan jawab: ke mana pun pergi, saya selalu mencar ilmu dan berguru.Apalagi ke Malaysia.
Kalau guru saya merendahkan saya, maka saya batalkan pembelajaran saya, lantaran verbal superioritas orang lain sudah lebih dari cukup bagi saya untuk merogoh, menyerap, mencuri dan menelanjanginya hingga ia kopong kosong hampa. Ada sangat banyak dan cukup panjang soal Indonesia-Malaysia ini jika dituliskan.Banyak segi,dimensi, dan nuansa.
Berulang kali saya ke Malaysia, beberapa kali dengan Kiai Kanjeng, tanpa pernah mengalami perilaku arogan atau meremehkan dari mereka. Ada sejumlah fakta dan data dapat digunakan jika mau pertandingan keunggulan, bangsa Indonesia sesungguhnya tak terlawan oleh siapa pun di muka bumi ini, kecuali (kita juga memiliki) sejumlah kecenderungan menyerupai ‘selengean’, ‘cengengesan’, ‘iseng’, tidak percaya satu sama lain, terlalu permisif, dan suka menggampangkan sesuatu.
Kita dapat diskusi wacana Indonesia- Malaysia sekian bab. Misalnya kontinuasi perang hirau taacuh dan dendam Melaka-Majapahit. Bab lain wacana Hang Tuah dan Hang Jebat.Bab lain wacana Kementerian Pariwisata dan Eny Beatric.Bab lain wacana TKI-TKW sebagai representasi bangsa Indonesia, sehingga generasi terbaru Malaysia membayangkan Indonesia itu hutan rimba, suku terasing, kampung-kampung, dusun-dusun, uneducated dan uncivilized nation.
Bab lain wacana paradoks antara fanatisme Melayu, tetapi orientasi kebaratan yang makin meninggi. Bab lain wacana perlunya bangsa Malaysia dikasih data wacana jumlah orang Jawa di tengah bangsa-bangsa dan sukusuku di wilayah Nusantara. Cukup statistik saja dulu, tak perlu hal Ronggowarsito, Gajahmada, filsafat adiluhung, Tari Bedoyo Ketawang, apalagi hingga Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer atau BJ Habibie. Juga tak perlu hitung dulu berapa jumlah mal di Kelapa Gading saja, tak perlu seluruh Jakarta, dibanding Kuala Lumpur.
Bab lain wacana hal-hal internal di kandungan kehidupan bangsa Malaysia.Tentang posisi persaingan Melayu melawan etnik China dan India.Tentang konstelasi nilai pencapaian akademis mahasiswamahasiswa Indonesia di Malaysia. Tentang bandingan omzet Digi, Maxis, dan Celcom yang mencerminkan prestasi administrasi pada perusahaan-perusahaan ‘etnik’ di belakangnya.
Tentang dangdut dan campur sari,serta sejarah etos ekonomi di Chowkit. Tentang tukang batu, tukang kayu Jawa, bagaimana gerangan prestasi ekonomi mereka. Tentang tugas masa depan TKW bagi belum dewasa Malaysia. Tentang bangsa yang menghindari ”3D”: dirty, difficult, dangerous....
Tetapi semuanya itu bantu-membantu tak perlu diungkap.Kalau SBY punya kalimat yang memenuhi kepiawaian diplomatik sekaligus keindahan budaya dan kearifan rohani, segera semua dapat dieliminasi. Kecuali menentukan menyerupai Bung Karno: ”Ganyang Malaysia!”, meskipun terpaksa kita tambahi ”Tapi selamatkan Siti Nurhaliza”. Atau mungkin dapat duta SBY dan perutusan Pak Lah duduk bersama, kemudian bikin pernyataan bersama.
Bangsa Malaysia yaitu bangsa yang sebaiknya dipangku disayang oleh bangsa Indonesia. Soal ribut-ribut hak cipta itu silakan pilih beberapa jalan berpikir, misalnya: ”O, itu orang Jawa Sunda Bugis Ambon sendiri yang berbaju Malaysia yang menarik hati Indonesia melalui Rasa Sayange dll semoga bangsa Indonesia bangkit dari tidurnya, marah, dan bertindak sungguh-sungguh untuk membangun kembali dan membela martabatnya.
Klaim dan godaan itu dilakukan bersumber dari kandungan belakang layar rasa nasionalisme anak turun kita sendiri di Malaysia....” Menantu Rasulullah Muhammad SAW, Ali ibn Abi Thalib, menang duel, musuh tergeletak dengan ujung pedang Ali di lehernya. Si musuh meludahi wajah Ali, sehingga Ali menarik pedangnya, ngeloyor pergi meninggalkan musuh yang bantu-membantu dengan satu gerakan kecil dapat ditumpasnya.
Ketika ditanya, Ali menjawab: ”Karena diludahi, saya meninggalkannya. Karena saya takut gerak ujung pedangku digerakkan oleh amarah, bukan bergerak lantaran Allah”. Kita tak perlu pergi menyerupai Ali, lantaran kita sangat besar: kita pangku saja Malaysia. (*)
EMHA AINUN NADJIB