DI kedua lengan tangan bawah saya kepingan dalam terdapat sejumlah tabrakan kecil-kecil yang kayaknya nggak sanggup hilang.
Orang yang meliriknya normal kalau menyimpulkan itu bekas luka-luka suntikan narkoba, tanpa sanggup menemukan alasan apa pun untuk menggeremeng di dalam hatinya kenapa orang macam saya niscaya bebas dari narkoba. Luka-luka itu berasal dari praktik Ilmu Hijamahnya Rasulullah SAW yang di Jakarta populer dengan aplikasi nama ”bekam”. Seharusnya ujung jarum ditutul-tutulkan secara sangat hati-hati dan peka sehingga kedalaman bacokan itu tak boleh lebih dari 0,4 mm sebagaimana teknik bacokan dan hisapan lintah.
Tetapi lantaran pelakunya kecapaian, yang ia lakukan atas tangan saya bukan tutulan, melainkan goresan. Semacam malapraktik kecil-kecilan yang menguntungkan saya lantaran memperoleh rahmat seumur hidup untuk disangka orang pemakai narkoba. Setiap hari, terutama ketika mandi, selalu terpandang goresan-goresan itu sehingga selalu juga saya ingat narkoba.Tak ada hari saya lewati tanpa ingat narkoba.Dia menjadi sobat hatiku sehari-hari,menjadi teman dialektika kesadaranku siang dan malam.
Kalau di suatu siang yang panas gerah selintasan angin menerpa badanmu dan mengusap rambutmu, angin itu menjadi kepingan dari dirimu. Segala sesuatu yang kamu pandang, kamu dengar, kamu rasakan,kau alami, apalagi memasuki dirimu dan menjadi anasir dalam darahmu, ia menjadi kepingan dari dirimu, kepingan dari ingatan dan kesadaranmu, kepingan dari sejarahmu. Menjadi file hard disk-mu, hidden atau unhidden.
Kau sukai atau kamu benci, ia tetap ialah kepingan dari kosmologi dan dzat kemakhlukanmu. Soekarno, Soeharto, SBY, Hitler, Iblis, malaikat, apa saja, tak sanggup hilang dari sistem komprehensif hidupmu.Semula ia sekadar kita sangka merupakan ”bagian dari” dirimu, suatu ketika engkau menemukan ia ”adalah”dirimu. Itulah sebabnya terdapat nasihat ”kuno” perihal kehati-hatian: ”Setiap butir nasi dan tetes air yang memasuki tenggorokanmu, perhatikan asal permintaan kebenaran dan kebatilannya, posisi halal haramnya.
Sebab engkau sedang mengawali dan memproses takdir bagi belum dewasa dan cucu-cucumu.” Ini bukan filsafat teoretis. Ini ilmu dan pengetahuan empiris.Para ilmuwan meneliti tikus yang sakit turunan semenjak kakek neneknya: mereka tidak melaksanakan tindakan kuratif medis untuk menyembuhkan tikus, melainkan mengubah habitatnya, merangsang perubahan perilakunya, tata ruang daerah tinggalnya, teladan makan minumnya, memastikan keabsahan asal permintaan segala konsumsinya. Pada jangka waktu tertentu tikus itu sembuh dan tidak mewariskan sakit yang sama kepada anakanaknya lagi.
Demikian berlangsung hingga generasi berikutnya, kecuali perubahan sikap dan sejarah konsumsi itu diubah lagi. Dari kasus tikus itu kita temukan betapa terkait akrab kekerabatan antara kondisi seseorang dengan habitat di mana ia hidup.Tidak sanggup orang kena narkoba sendirian tanpa habitat yang memang aman terhadap kenarkobaannya. Itu tak harus berarti pemakai narkoba selalu lahir dari lingkungan pemakai narkoba, tetapi ada faktor- faktor yang jauh lebih luas dan komprehensif-dialektis.
Tradisi konsumsi narkoba sangat sanggup terkait dengan teladan budaya, cara berpikir, nilai sosial, cara- cara mempertimbangkan sesuatu, kualitas nilai yang dipilih perihal siapa tokoh siapa bukan, siapa duta siapa bukan, termasuk kewaspadaan atau kesembronoan institusional ketika menentukan atau menentukan ini dan itu. Bagian dari korek api yang terbakar hanya sumbunya,tetapi tak ada nyala api tanpa bagian-bagian lain dari korek api. Jangan berpikir korek api ialah nyala api ”saja”, jangan berpikir bahwa habitat narkoba hanya pemakai narkoba ”saja”.
Kalau diperluas, jangan berpikir bahwa pelaku korupsi ialah koruptor saja, alasannya ialah mereka melaksanakan korupsi ”berkat” adanya faktor-faktor lain yang komprehensif yang memungkinkannya melaksanakan korupsi.Tegasnya,kita semua ”menanggung dosa” sistemik dan struktural atas penyalahgunaan obat terlarang, atas korupsi, juga atas munculnya apa yang kemudian terpaksa kita sebut sebagai fatwa sesat. Ada dimensi-dimensi sosial di mana kita semua telah melaksanakan ketidakbertanggungjawaban kolektif atas sejumlah nilai dasar kehidupan bermasyarakat dan bernegara sehingga suburlah ketiga ”narkoba”itu.
Dengan teori habitat itu, tak ada yang mengherankan kenapa forum penanggulangan narkoba ”salah pilih” dutanya: api menyala pada sumbu, tapi berasal dari sistem menyeluruh korek api. Oleh lantaran itu memang dibutuhkan ekstrakewaspadaan di dalam mempersepsi, menganalisis, dan mengatasinya.
Apalagi kita sedang berada pada habitat alamiah kemanusiaan yang hingga batas tertentu justru sangat potensial untuk lambat atau cepat niscaya menghancurkan kemanusiaan kita hingga anak cucu. Misalnya, mari sejenak kita keluar dari rumah tikus itu dan memperhatikan faktor yang lain sama sekali. Misalnya, para ilmuwan itu lebih tertarik pada tikus yang sakit dibanding jutaan tikus lain yang sehat. Ini aturan alam. Sakit lebih menonjol dibandingkan waras.
Kacau lebih menggairahkan dibanding aman.Buruk lebih laris dibandingkan baik. Jahat lebih sensasional dibandingkan mulia.Hancur lebih gampang dipasarkan dibandingkan bangkit. Curang lebih nendang dibandingkan jujur. Bentrok lebih nikmat dipergunjingkan dibandingkan rukun.Chaos lebih nyaman diinformasikan dibandingkan tenteram. Kalau rumus ”orang baik” kalah menarik dan kalah unggul dibandingkan ”orang pernah buruk” yang digunakan oleh birokrasi, forum informasi, institusi pengelolaan sosial serta semua kepengurusan kehidupan bangsa kita, bekerjsama kita sedang menyediakan ruang utama dalam pengelolaan pembangunan sejarah bangsa ini kepada ”orang pernah buruk”,sekadar lantaran kurang selera atas ”orang baik”. Adalah narkoba nasional yang segera menghancurkan kita semua bila tak segera berhenti menyerahkan negara ini kepada ”orang yang menarik”, bukan kepada ”orang yang mengamankan”. (*)
EMHA AINUN NADJIB