Demikianlah jadinya sekalian santriyah yang tergabung dalam Qismul Mathbah (Departemen Dapur) bertugas memasak banyak sekali variasi sajian Jawa. Dari sarapan grontol, makan siang nasi brongkos, malam gudeg, besoknya pecel, kemudian sayur asem dengan snack lemet dan limpung.
Sang Kiai sendiri “cancut tali wondo” mempersiapkan suguhan siang hari yang diperkirakan bakal terik. Ia dengan vespa kunonya melaju, membawa semacam kawasan sayur yang besar. Empat kilometer ditempuh, dan sampailah ia ke warung kecil di tepi jalan. Seorang Bapak renta penjual cendol. Sang Kiai sudah memperhitungkan waktunya untuk hingga pada bapak cendol ini pada dinihari ketika jualannya. Yakni ketika stock masih melimpah.
Terjadilah obrolan dalam bahasa Jawa krama-madya.
"Masih banyak, pak?"
"Masih Den, wong gres saja bukak beberan"
"Alhamdulillah, ini akan saya beli semua. Berapa?"
Pak Cendol kaget, "Lho, Jangan Den!" jawabnya spontan
Sang Kiai pun tak kalah kagetnya: "Kok jangan?"
"Lho, jika dibeli semua, bagaimana saya sanggup berjualan?"
Sang Kiai terbelalak. Hatinya mulai knocked-down, tapi belum disadarinya.
"Lho, kan saya beli semuanya, jadi bapak nggak perlu repot-repot berjualan lagi disini hari ini."
Pak Cendol tertawa dan sang Kiai makin terperangah.
"Orang jualan kan untuk dibeli. Kalau sudah laris semua kan malah beres?"
Pak Cendol makin terkekeh.
"Panjenengan ini bagaimana tho Den! Kalau dagangan saya ini dibeli semua, nanti jika orang lainnya mau beli bagaimana! Mereka kan tidak kebagian!"
Knock-Outlah Sang Kiai.
Ia terpana. Pikirannya terguncang. Kemudian sambil tergeregap ia berkata: "Maafkan, maafkan saya pak. Baiklah kini bapak kasih berapa saja yang bapak mau jual kepada saya."
Seperti seorang pemeran di panggung yang disoraki penonton, ia kemudian mendapatkan vespanya dan ngeloyor pulang.
Sesampainya di Pondok ia pribadi menawarkan cendol ke dapur dan memberi beberapa penugasan kepada santriyah, kemudian ia menuju kamar, bersujud syukur dan mengucapkan istighfar, lantas melemparkan tubuhnya di ranjang.
Alangkah dini pengalaman batinku gumannya dalam hati. Sembahyang dan latihan hidupku masih amat kurang. Aku sungguh belum apa-apa di depan orang luar biasa itu. Ia tidak silau oleh rejeki nomplok. Ia tidak ditaklukan oleh sifat kemudahan-kemudahan memperoleh uang. Ia terhindar dari sifat rakus. Ia tetap punya dharma kepada sesama insan sebagai penjual kepada pembeli-pembelinya.
Ia bukan hanya seorang pedagang. Ia seorang manusia!
(Muhammad Ainun Nadjib/“Indonesia Bagian Dari Desa Saya”/Bentang/PadhangmBulanNetDok)