Bahkan wanita-wanita merelakan bagian-bagian tubuhnya bertempelan dengan laki-laki. Ada semacam moralitas khusus dalam budaya naik bis. Moralitas itu tak berlaku begitu kita turun bis. Kalau kita terus melekat di badan perempuan sekeluarnya dari bis, akan terjadi dua kemungkinan. Kita didamprat dan dikeroyok oleh banyak lelaki lain yang dijamin niscaya membela sang wanita. Atau kemungkinan kedua kita justru sanggup jodoh.
Pokoknya naik biskota itu perlambang dari marginalitas. Keterpinggiran, keterpojokan.
Pusat sosial ekonorni yakni bila Anda naik kendaraan pribadi. Nukleolusnya yakni bila kendaraan eksklusif Anda berganti sesuai dengan proposal mimpi gres dari produser kendaraan.
Kita bertegur sapa, dalam bas itu, dengan beberapa orang yang bangun mernbungkuk alasannya tipe biskota ini bekerjsama dirancang khusus buat orang Suku Kerdil.
"Capek membungkuk, Mas?"
"Yaa, bila tidak salah memang capek...
"Prihatin dulu, Mas"
Lelaki itu tersenyun masam.
Tapi kita mungkin didera oleh pertanyaan kita sendiri: Prihatin dulu, apa maksudnya? Sekarang menderita dulu, kelak tidak, begitu? Kelak kita sanggup punya kendaraan pribadi? Bagaimana bila sarnpai bau tanah tak juga sanggup bell? Apakah ada di aritara kita yang ngobyek entah bagaimana--terrnasuk korupsi di kantor--agar ter-
bebas dari keprihatinan?
Sebenarnya keprihatinan itu apa? Keprihatinan ialah naik biskota? Naik biskota itu mewah. Bahkan naik sepeda atau jalan kaki itu juga bukan penderitaan. Keprihatinan ialah makan-minum dan berpakaian bertempat tinggal pas-pasan? Pas: itu yang ideal berdasarkan semua agarna. Artinya, keadaan pas-lah yang paling menjamin kebahagiaan.
Tetapi memang, keprihatinan atau penderitaan ialah bila sebagian insan punya lima kendaraan beroda empat serumah sementara lainnya harus ngonthel sepeda atau berdesakan di kendaraan umum. Penderitaan ialah apabila ketidakadilan diciptakan dan disistemi sendiri oleh sebagian insan atas banyak insan lain.
Maka, tuan-tuan, belilah kendaraan beroda empat dengan harga kerja objektif Anda. Kasih itu kendaraan beroda empat untuk keperluan siapa saja sekitar Anda yang memerlukan, sementara Anda silakan tetap naik biskota tanpa mencicipi bahwa itu yakni keprihatinan.
(Emha Ainun Nadjib/"Secangkor Kopi Jon Pakir"/Mizan/1996/PadhangmBulanNetDok)