Sambil mengingatkan biar tak usah "menodong" dengan ayat, saya tetap imbaukan kepada calon Bapak atau Ibu Penyantun. Termasuk buat anak kita yang lain, siswa Aliyah di Guluk-Guluk (Luk-Guluk), Sumenep, Madura, yang orang tuanya megap-megap sebab kapital teri tembakaunya semakin tak dapat diandalkan.
"Pekerjaan saya dan keluarga yaitu bercocok tanam," katanya, "Cak Nun, apakah zaman kini ini memang bukan zamannya kaum tani? Apakah ini yang disebut Gelombang Industri dan Gelombang Teknologi Informasi, di mana Gelombang Agraris sudah lewat, sehingga kami tak punya prospek hidup?"
Jembatan Madura-Surabaya gres akan dibangun, memang. Artinya, dari Madura yang masa silam" gres akan ada jembatan ke masa depan" itu akan juga sangat menggelisahkan. Belum tentu Madura akan menyerap, salah-salah malah hanya akan diserap.
Tapi memang pembangunan yang sedang gencar kita selenggarakan ini fokusnya yaitu pertanian, belum tentu petani.
Ada juga anak kita yang lain yang lebih tua, yang kasus hidupnya relatif sama dengan yang barusan kita bicarakan. Seorang mahasisva Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah: keluarganya pontang-panting menutupi biaya kuliahnya. Empat kali cocok tanam: tembakau gagal terus. Padahal kini ini diharapkan setidaknya setengah juta rupiah untuk kuliah dan beli buku-buku wajib.
Kok forum pendidikan banyak memproduk problem, sih? Tampaknya Indonesia belum makmur, jadi belum dapat menggratiskan sekolah. Atau sudah makmur, tapi belum adil, belum ada just economic sharing.
Pendistribusian keadilan itu jikalau tak dapat ditempuh melalui sistem sosial ekonomi yang berlaku, tak dapat melalui Majelis Ulama atau Dinas Sosial -- yang cobalah melalui kearifan sosial di hatinurani hamba-hamba Allah tersebut.
Saya yakin di antara Anda ada yang dipanggil oleh Allah, misalnya, untuk membapak-asuhi puluhan, bahkan belum dewasa kecil SD-SMP yang hidup mereka beserta keluarga mereka sangat
terbengkalai di bukit kering kerontang tepian Waduk Kedungombo, Jawa tengah.
Kalau sekolah mereka berjalan kaki beberapa kilometer menapaki bukit-bukit, kemudian naik Akudes. Kalau tak ada uang seratus rupiah saja pada suatu pagi, mereka tak dapat sekolah. Jangan bayangkan mereka punya realitas sosial yang memungkinkan mereka kelak dapat meneruskan sekolah. Menamatkan SD saja sudah slametan rasanya. Menurut Anda, apakah Allah lebih sering "berada" di kawasan sepi, terasing dan amat jauh dari kesejahteraan itu; ataukah Allah lebih suka rnenemani kita di sini? Betapa indahnya jikalau kita mengambil dan mengantarkan mereka ke hari depan! Sebab betapa indahnya pula tangan-tangan mungil mereka mengantarkan kita kepada cinta kasih Allah.
Tentu saja tidak harus mengambil mereka atau salah seorang dari mereka ke rumah kita dan menjadi anak angkat. Bisa cukup dengan membiayai sekolah salah seorang dari mereka sekarang. Atau mengambilnya dan mengirimkannya ke Pesantren atau forum pendidikan lainnya. Atau, sangat mungkin juga sesekali dolan ke pinggiran waduk raksasa yang sangat bermanfaat buat orang-orang kota itu: bawa beras, ketan, baju, tikar untuk "masjid alamiah" mereka. Dan yang terpenting bawa: cinta dan senyuman.
(Harian SURYA, Senin 22 Maret 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kampung Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)