Mencari asal.
Orang menentukan Jokowi mungkin setahap perjalanan di alur "sangkan paran", bawah sadar mencari asal muasal, kerinduan kepada din sejatinya. Di mana mereka menemukannya pada Jokowi. Ya, namanya, ya, sosoknya. Jokowi kurus menyerupai rakyat, kalah ganteng dari Foke. Mungkin rakyat sadar dulu salah pilih SBY alasannya ialah gagah-ganteng.
Tidak penting, apakah Jokowi benar-benar mengindikasikan asal-usul itu atau tidak, bahkan Jokowi juga tidak akan dituntut-tuntut amat, apakah ia nanti bisa menjadi pemimpin yang baik atau tidak. Manusia Indonesia di Jakarta tidak sadar sedang mencari dirinya, bukan mencari Jokowi.
Jokowi beruntung alasannya ialah mereka menyangka is yang dicari. Namun, Jokowi punya peluang untuk menandakan bahwa memang ia yang dicari.
Bagi orang Jakarta yang Sunda, belakang layar menemukan sosok insan Sunda Wiwitan pada Jokowi. Bagi orang Jakarta yang Jawa dan darahnya mengandung virus wayang, Jokowi menyerupai Petruk, anaknya Kiai Se-mar, Sang Prabu Smarabhumi, perintis tebang bantalan Jawa.
Allah membuat Adam dengan menyatakan, "Sesungguhnya Aku membuat khalifah di, Bumi". Manusia dan bangsa Indonesia mengakui mereka gagal mengkhalifahi kehidupan. Maka, mereka rindu, seolah-olah ingin mengulang dari awal, dengan sosok dan kepribadian yang mereka pikir sebagaimana di awal dulu.
Secara rahasia bangsa Indonesia berpikir bahwa "bukan ini Indonesia". Maka bawah sadar mereka terbimbing untuk Nasionalisasi Indonesia.
(EMHA AINUN NADJIB, KOMPAS, 22 September 2012)