- Maiyah ialah cara berguru kehidupan yang unik.
- Keunikan tersebut terlihat pada beberapa ciri yang menempel pada Maiyah, di antaranya: ‘Tidak bersifat otoritatif’, ‘Motif berkumpulnya yang menegasikan motif-motif yang ada selama ini’, dan ‘dibangunnya semangat mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar.’
- Yang dimaksud ‘Tidak bersifat otoritatif’ ialah di dalam Maiyah siapa saja bisa dan boleh berbicara. Berbeda pada komunitas atau organisasi lainnya, yang lazimnya orang disodori ‘ini lho yang benar’, di Maiyah semua teori dilontarkan. Masing-masing orang yang akan mengujinya di dalam pengalaman hidup. Teori-teori, pengetahuan, dan pandangan yang dilontarkan sebagai diskursus untuk mencari kebenaran masing-masing.
- Dalam proses pembelajaran yang unik itu, maiyah cenderung menempatkan kasus perkasus hanya sebagai contoh, sehingga tidak terjeseret dalam wilayah pro-kontra, mendukung-menolak, memihak-memusuhi, setuju-tidak setuju.
- Yang dimaksud ‘Motif berkumpulnya menegasikan motif-motif yang ada’ ialah jamaah tidak berkumpul di dalam Maiyah dengan motif yang ada pada lazimnya orang berkumpul, contohnya untuk mencari surga, mencari kekuasaan, mencari laba ekonomi, atau kesamaan nasib, lantaran Maiyah tidak menjanjikan semua itu. Pada faktanya, setiap jamaah mempunyai motifnya masing-masing (bisa termasuk motif-motif tersebut di atas), tetapi yang mengikat mereka ialah ‘kebersamaan.’ Di dalam kebersamaan itu yang berlangsung ialah pengayaan perihal dan ilmu. Pengalaman masing-masing memilih apa yang diperoleh. Dan lantaran itu, mereka tidak memperdebatkan ilmu, lantaran mereka menikmati kekayaan ilmu, sehingga yang tumbuh di dalam diri mereka ialah kelapangan jiwa dan toleransi, dan bisa menampung semuanya.
- Di dalam Maiyah, jamaah dinalurikan untuk ‘tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar’. Lazimnya, dikala mendapatkan informasi, orang akan mempunyai reaksi ‘benar’ atau ‘salah’ dan kemudian ‘percaya’ atau ‘tidak percaya’. Dalam hal ini, Maiyah mendorong semoga setiap individu mengolahnya (dengan metodologi yang mengandung prinsip ‘tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar’) sedemikian rupa secara berdaulat sehingga dikala ia hingga pada suatu kesimpulan, itu tetap menurut kedaulatan dan kemandiriannya. Di sini, siapapun bisa menjadi guru dan teori apapun diterima sebagai perihal untuk masing-masing individu menemukan kebenaran. Pemahaman dan pengalaman hidup yang akan menguji kebenaran itu. Demikianlah, Maiyah memberi jarak antara perihal dan keyakinan akan kebenaran, sehingga masing-masing individu mempunyai ruang untuk mengolah semua informasi yang diperoleh untuk menjadi kebenaran yang diyakininya.
- Output dari semua proses di atas ialah kedaulatan insan Maiyah. Yaitu insan yang berkebersamaan. Di dalam kebersamaan itu, mereka membangun naluri-naluri dasar. Mereka mengidentifikasi, kemudian mempunyai kesimpulan, yang boleh jadi sama. Kebersamaan di dalam Maiyah tersebut membantu memperkaya view yang akan menumbuhkan dan meneguhkan kedaulatan individu tersebut.
- Di dalam maiyah tidak ada kewajiban untuk patuh terhadap figur. Jika pun masing-masing jamaah Maiyah mencicipi dan menemukan keharusan untuk patuh terhadap figur semata didasarkan dan merupakan hasil dari proses kedaulatan individu.
- Aktifitas ber-Maiyah berangkat dari keseharian masing-masing individu. Sehingga perilaku bermasyarakat orang-orang maiyah tidak berbasis gosip tapi berakar pada permasalahan hidup yang dihadapi sehari-hari di lingkungannya.