
Pada tahun 2011, di rumahnya, Mas Yon pernah bertanya kepada saya: “Kalau kita Jumatan itu Khatibnya hampir selalu mengucapkan ‘Para Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah’. Itu bagaimana sebenarnya. Mulia itu kan soal derajat. Manusia punya derajat mestinya kan alasannya kelakuannya terpuji. Lha saya kan jadi malu, alasannya kelakuan saya belum pantas dipuji…”
Mas Yon meneruskan bahwa kalau kalimatnya ‘Para Jamaah yang dikasihi Allah’ mungkin ada pantasnya. Karena semua kan makhluk Allah, jadi selayaknya kalau Pencipta mengasihi ciptaan-Nya. Tapi kalau dimuliakan oleh Allah, ah, kok rasanya aneh. Apalagi di zaman kini kelakuan
insan tidak makin baik.
Sepengenalan saya keluarga Koeswoyo ini memang tekun dan sungguh-sungguh soal nilai dan pencarian spiritual. Bahkan para cucu menyerupai Chicha dan Sari, kebanyakan orang tak menyangka sejauh dan sedalam itu proses pencarian spiritual mereka. Manusia itu bukan “barang jadi” menyerupai Malaikat, alam dan hewan. Manusia memperoleh keistimewaan dari Tuhan untuk menjadi makhluk dinamis, melaksanakan pencarian, kreativitas, ijtihad, tajribah dan tajdid.
Maka semua makhluk Tuhan perlu bersikap hati-hati kepada manusia. Orang yang kita tuduh Kafir hari ini, tahun depan sanggup lebih bertauhid dibanding kita. Jangan memvonis final kepada manusia, dan selalu kita mendoakan biar semuanya dibimbing Allah untuk mendapat tamat yang baik. Husnul khatimah.
Manusia sangat berbakat terserimpung oleh keburukan, kebodohan dan kejahatan. Maka Tuhan menyediakan banyak sifat Maha Pengampun: Al-‘Afuw, Ar-Ro’uf, Al-Ghafur, Al-Ghaffar. Bahkan sifat Al-Wadud, Al-Karim, apalagi Ar-Rahman dan Ar-Rahim—main icon of kehadiran Allah—sangat asoiatif dan mempunyai rentang kompatibilitas terhadap tindakan Allah mengampuni manusia.
“Wahai anak Adam, bila engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula”. Bahkan “Orang-orang yang apabila melaksanakan kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, mereka kemudian ingat kepada Allah, kemudian memohonkan pengampunan alasannya dosa-dosa mereka itu. Siapakah lagi yang sanggup mengampuni dosa-dosa itu selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus mengulangi perbuatan yang jahat itu, sedang mereka mengetahui.”
Menjelang tamat hayatnya, Tonny Koeswoyo menyampaikan kepada Yok bahwa ada dilema fundamental yang ia sesali dalam hidupnya. Ia menyerupai sudah melangkah melewati batas kehidupan dan mencicipi betapa hidupnya “terlalu indah dilupakan, terlalu duka dikenangkan. Setelah saya jauh berjalan, dan Kau kutinggalkan”. Padahal begitu sayangnya Allah kepadanya. “Betapa hatiku bersedih, mengenang kasih dan sayang-Mu”. Tonny cemas, “andaikan Kau tiba kembali, balasan apa yang kan kuberi.
Adakah jalan yang kutemui, untuk kita kembali lagi…”
Tonny Koeswoyo, yang dituntun Allah menjadi pengarang lagu, penulis syair dan komponis musik paling produktif dibanding siapapun lainnya di dunia: ialah ciptaan Allah. Bagaimana mungkin saya berani tidak ber-husnudhdhon kepada makhluk-Nya? Bagaimana mungkin saya tidak takut untuk menyimpul-nyimpulkan begini-begitu dalam hal hubungannya dengan Tuhan?
Sebagaimana kepada paman Nabi Muhammad, dia Abu Thalib. Meskipun tak ada gosip sejarah bahwa dia pernah ber-Syahadat: tidaklah saya akan pernah punya keberanian untuk memastikan bahwa ia tidak bertauhid. Bahwa ia tidak mengakui kenabian keponakannya—yang ia bela bertaruh nyawa, pasang tubuh total untuk dakwah Islamnya? Yang kalau tidak alasannya usaha dia membentengi Muhammad, belum tentu Islam hingga kepada saya.
Saya takut suatu hari ketemu dia Abu Thalib dan disemprot: “Emangnya kalau saya bersyahadat mesti lapor ke Elu?”
Apalagi Allah mengirim Muhammad Saw ialah “untuk mengakibatkan akhlakul-karimah sebagai faktor utama bagi manusia”. Liutammima makarimal akhlaq. Dan Tonny bukan hanya tidak berkelakuan jelek dan jahat: ia bahkan menggembirakan dan membahagiakan ratusan juta insan dengan lagu-lagunya.
13 Januari 2018
#Khasanah
https://www.caknun.com/2018/manusia-bukan-barang-jadi-9