Pokoknya suguhan serba sip. Setiap pelanggan rnerasa fly to heaven dan akan senantiasa terkenang-kenang, lantas tetapkan sajian masakan warung Anda ialah pacar atau istri kedua.
Nah, 'Pelita' Anda tak cukup hanya dengan membenahi 'segi internal' warung. Sesudah sajian mumpuni, soalnya ialah bagaimana cara menjualnya, di mana Anda menjualnya dan kepada siapa saja info wacana warung Anda harus disampaikan.
Bagi beberapa putuh orang yang sudah selalu makan di warung Anda, perubahan sajian itu eksklusif terasa.
Lantas mungkin mereka menggethok-tular-kan kepada handai tolan mereka. tapi gethok tular itu sifatnya spekulatif, seingga tak dapat Anda daftari dalam 'matematika target-target' Anda.
Ada jarak atau tahap antara pelanggan menuju menu. Sebelum itu ada tahap atau jarak antara warung Anda dengan sangat banyak orang yang tidak tahu menahu wacana warung Anda dan hanya sedikit mendengar slenthang-slenthing bahwa warung Anda menyelenggarakan revolusi menu: tapi hal itu kurang menarik minatnya, terutama lantaran selama ini reputasi warung memang mirip klub Galatama papan bawah.
Dengan kata lain, beratus beribu orang yang kemudian lalang di depan lokasi Warung Anda tidak tahu menahu wacana warung Anda. Maka soalnya ialah bagaimana membikin mereka tahu. kta harus yakin bahwa kini kelas kita ialah Galatama papan atas dan kita harus bermain di hadapan sebanyak mungkin orang.
Petinju Sugar Ray Robinson meniadi idoianya Mohammad Ali. Tapi Ali mempunyai plus dibanding Robinson: di samping keprigelan bertinju yang cemerlang, Ali jauh lebih tahu bagaiamana 'berjualan'. Maka Alilah pionir dari omset bisnis tinju yang fantastik, di mana Ray Leonard dan Tyson kini harus berterirna kasih oleh rintisan itu.
Ali bukan 'the big mouth', lantaran yang disebut 'mulut besar' itu sekadar metode jual jamu. Tentu saja dia akan hancur jika jamunya tidak benar-benar manjur. Tapi semanjur apa pun jamunya, jika dia tak tahu bagaimana menjualnya, maka jamu itu akan diminum hanya oieh beberapa pelanggan yang memang "telanjur menyayangi Anda".
Itu kaiau Anda memang berniat 'berjualan'. Kalau aku sendiri memang tak berbakat dan tak punya niat untuk itu. Saya hanya koki peracik kopi yang pasif. Kalau ada yang berminat, alhamdulillah, tidak ya alhamdulillah.
Saya tidak perlu teriak-teriak keliling kota, bikin poster, menyeponsori pentas, atau apa pun. Silakan bell kopi dari saya, dan jika Anda hendak menjualnya kembali, silakan pakai kerangka dan metode Anda sendiri sesuai dengan cakrawala yang akan Anda arungi. Sesekali aku akan bantu berteriak, alasannya hidup tanpa teriak itu mirip kopi kurang nyegrak.
(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Pakir"/Mizan/1996/PadhangmBulanNetDok)