0rang-orang pintar selalu berada di garis depan sejarah. Kaurn Ilmuwan ialah obor setiap perjalanan peradaban manusia. Obor kaum ilmuwan rnenentukan lancar atau macetnya langkah seluruh musafir kemanusiaan. Obor yang menyala terang memancarkan gerakan-gerakan cahaya apinya ke depan menuding cakrawala supaya mata kemanusiaannya tak buta, membuat wajilat qulubuhum, tergetar hati mereka oleh segala pemandangan dan ilmu karya Allah yang mentakjubkan, membuat mereka bernafsu dan bertawadlu memuji-muji kebesaranNya. Adapun obor yang suram atau padam akan membuat kegelapan yang mengakibatkan setiap pejalan sejarah bertabrakan satu sama lain, terserimpung oleh kaki-kaki mereka sendiri, terjatuh dan saling tindih menindih di lumpur.
Obor kaum ilmuwan yang tergenggam di tangan mereka diciptakan oleh Allah melalui sumpah Alif Lam Mim (Q.2:1). Nyala api obor itu bergelar Qur'an yang "tiada keraguan sedikitpun padanya sebagai petunjuk bagi mereka yang alasannya ialah pada hakekatnya 'ijaz (kemukjizatan) Qur'an ialah "keseluruhannya bisa merangkum dan menjelaskan bagian-bagiannya, bagian-bagiannya bisa merangkum dan menjelaskan keseluruhannya".
Innovasi Ilmu Cahaya
Sungguh la raiba fiih (tak ada keraguan padanya) bahwa setelah mentransfer sumber-sumber ilmu pengetahuan Islam dari Timur Tengah, peradaban Eropa bisa membawa sejarah insan ke suatu tingkat pencapaian ilmu dan teknologi menakjubkan ibarat yang hingga hari ini kita alami dan nikmati. Meskipun prestasi peradaban teknologi itu sejauh ini kurang diorientasikan untuk berideologi "Bis-mi robbika lladzi kholaq" (Q. 96 : 1), yakni mempersembahkan, mensubordinasikan atau mengabdikan segala hasil ilmu dan teknologi itu untuk iqarnatihshalat (membangun sembahyang kehidupan), untuk qiyam ' indallah (bersemayam di sisi Allah), untuk utammima makaarimal akhlaq (menyempumakan keutamaan moral perilaku), dst. sehingga malah menghasilkan kehampaan hidup, keterasingan dari diri sendiri, dekadensi moral, kebingungan dan kegilaan (junun) serta banyak sekali bentuk kebuntuan hidup yang lain yang menjadi ciri penting kehidupan modern namun tetap harus disadari oleh Kaum Muslimin bahwa rekayasa iqra' bangsa-bangsa Eropa sejauh ini melebihi yang diselenggarakan oleh KaumMuslimin.
Dunia Islam telah menganggap dirinya sendiri akan tampil menjawab problem-problem kemanusiaan periode 21, dipastikan akan muncul di panggung peradaban masa tiba sebagai 'ideologi ketiga' yang mengatasi relativisme dua ideologi besar sebelumnya yang sampaumur ini sedang 'merintis kehancuran'nya; akan hadir dengan membawa obor benderang untuk membuat para pejalan sejarah berdiri kembali dari keterserimpungan kaki-kakinya, dari penyakit yang merabunkan mata dan membatukan hatinya, dari kebuntuan, kecemasan dan kesunyian.
Itu berarti Kaum Ilmuwan Muslim yang oleh Allah diangkat derajatnya melebihi orang-orang biasa akan harus bisa meminyaki obornya supaya cahaya bisa berpendar-pendar. Minyak itu ialah :
・Upaya penggalian dan rekonstruksi alam kefilsafatan menurut hudallah melalui Qur'an yang mengatasi dan menerobos batas-batas kerdil yang pernah dicapai oleh sekulerisme, humanisme, atau bahkan universalisme. Mata kefilsafatan Islam memandang jauh ke al'arsyul 'adhim' atau al ufug almubin. Tangan filosofi Islam akan mengambil belum dewasa kemanusiaan yang terjatuh lantaran terjebak oleh kebuntuan eksistensialisme, membawa mereka memahami esensialisme ilahiyah.
・Melakukan tajdid atau pembaharuan ilmu pengetahuan alam, melahirkan kembali khasanah tersebut dengan merelevansikannya terhadap konteks tugas keilahian. Seorang insinyur menjadi tidak hanya pintar menelorkan mode-mode gres pembangunan berhala-berhala dunia, melainkan berafiliasi dengan ilmu dan keterampilannya untuk mengerjakan pembangunan-pembangunan kebudayaan dan peradaban yang mengabdi kepada Allah. Sebab yang diperlukan oleh insan bukan sekedar baldatun thoyyibah tapi juga robbun ghofur, bukan hanya negeri adil makrnur, namun juga dengan sikap budaya yang diampuni oleh Allah. Kaum ilmuwan alam ialah orang-orang terpilih yang pangling mempunyai kemungkinan dan kesanggupan untuk mentakjubi Allah, lantaran merekalah golongan insan yang diberi rezeki pengetahuan
sehingga tak habis-habisnya kagum dan bersujud karenanya.
・Mengusahakan lahimya iimu-ilmu ihwal insan dan masyarakat atau segala pilah ilmu-ilmu sosial yang berpedoman kepada pola berpikir Allah yang tercermin dalam Al-Qur'an. Konsep bahwa Al-Qur'an ialah hudan lilmuttagin ialah titik berangkat ilmuwan muslim menuju kerangka-kerangka teori dan contoh ilmu-ilmu sosial versi Allah sejauh yang sanggup diterjemahkan dari petunjuk Qur'an yang wilayah penjelajahannya, visinya, hakekat perannya, disiplin dan konvensi-konvensinya berbeda dengan yang selama ini dikenal oleh ilmu-ilmu sosial modern (: Barat) yang dianut di sekolah-sekolah seluruh dunia. Hanya dengan mempedomani
Qur'an kaum ilmuwan muslim mempunyai kemungkinan untuk menjadi bertaqwa, atau hudaliah itu hanya bisa diterima apabila seorang ilmuwan mempunyai dasar-dasar taqwa: itulah sebabnya idiom AlBagarh itu berbunyi 'hudan (petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa) dan bukan hudan lilkadzibin (petunjuk bagi orang-orang yang berdusta) atau hudan lilmutakallifin (petunjuk bagi orang yang mengada-ada).
Ada informasi bahwa kelak akan terjadi pergeseran serius dalam peradaban insan di muka bumi menuju suatu pencerahan keilahian yang berlangsung 'revolusioner', yakni ketika para ilmuwan menemukan pengetahuan gres ihwal cahaya. Peristiwa tersebut akan merupakan terobosan sejarah yang dahsyat di mana kecemasan ummat malusia terhadap bumerang sekularisme, teknologi dan kebudayaan berhala bahkan juga pertentangan-pertentangan ideologi atau agama serta kepentingan-kepentingan lain akan diatasi dan 'disembunyikan' secara tak terduga.
Inovasi ilmu cahaya itu akan merupakan hidayah Allah yang amat mentakjubkan, penuh 'blessing in disguise', serta nembuktikan kemenangan Allah dengan cara yang asing dan ironis terutama bagi 'musuh-musuh Allah'.
Cahaya yang dimaksud bukan sekedar cahaya dalam arti simbolik atau metaforik, tetapi yang sungguh-sungguh cahaya yang selama ini menjadi obyek penelitian keilmuan alam. Orang akan menemukan jenis-jenis cahaya dalam skala hakekat.yang jauh lebih luas. Orang akan berjumpa dengan sambung sinambung cahaya dari yang paling wadag hingga rohaniah. Dan pengetahuan gres itu akan merupakan wangsit baru, visi dan contoh gres yang membuat ummat insan mempunyai wawasan dan kejernihan gres dalam memahami alam, insan dan kebudayaan, nilai-nilai yang 'berseliweran' di dalamnya, serta huburigan-hubungan yang berlangsung di antara semua itu.
Pada dikala bencana itu jelaslah bagi kita semua betapa kaum ilmuwan muslim sungguh-sungguh
menggenggam obor peradaban yang nyalanya berpendar-pendar dan cahayanya menaburi seluruh permukaan bumi. Mereka membawa perubahan besar filsafat dan ilmu pengetahuan, pola-pola budaya serta peran-peran teknologi; termasuk juga fungsi-fungsi lain dalam kehidupan insan ibarat politik, sikap ekonomi, relasi sosial atau karya-karya seni.
Ancamari Kepada Kaum Ilmuwan
Namur hari-hari ini belum 'hari obor menyala'. Para ilmuwan muslim gres sedang sibuk 'menambang minyak'.
Sekarang ialah era di mana mereka suntuk mernpelajari dialektika antara ayat-ayat Allah di alam,-manusia Qur'an (tiga informasi cahaya).
Sementara itu mereka masih dikepung dan dirasuki oleh banyak sekali ancaman:
・ Belum dipenuhinya tiga syarat untuk memperoleh 'minyak' ibarat yang telah saya uraikan di awal goresan pena ini (Q. 2 : 3). Hal ini bersumber dari ketergantungan terhaiap etos-etos ilmu pengetahuan sekularistik dan atheistik yang mereka suntuki tiap hari.
・ Kemurigkinan ada di antara mereka yang 'terlibat' dalam tuduhan Allah, contohnya :
"Ia mendengar ayat-ayat Allah, namun ia tetap menyombongkan diri" (Q. 45 : 8). Salah satu kesombonganya ialah tanda-tanda diskoneksi antara kepercayaan terhadap ilmu Al-Qur'an dengan kepercayaan terhadap atheisme sikap pengetahuan.
"Dan apabila ia mengetahui barang sedikit ihwal ayat Allah, maka ia memperolok-olokkannya" (Q. 45 : 9).
Secara eksplisit maupun implisit terhadap kecenderungan tertenu dari apa yang kita kenal disiplin keiimuan atau konvensi akademis, mengandung potensi olok-olok semacam itu.
"Adakah mereka itu tak memperhatikan Al-Qur'an a taukah hati mereka terkunci?" (Q. 47 : 24). Bagaimana mungkin AlQur'an tidak merupakan kepustakaan utama seorang, ilmuwan
Alangkah tak nyaman jikalau ternyata kita tergolong-golong dalam kalangan yang oleh Allah disebut "Sesungguhnya bagi mereka yang ingkar, sama saja bagi mereka kau beri peringatan atau tidak mereka tetap raja tidak beriman" (Q. 2 : 6). Tetap terjadi keterbelakangan pribadi: Ketika kita sholat kita ialah seseorang tersendiri, ketika kita bersekolah kita ialah orang yang lain, ketika kita berdagang dan berpolitik kita ialah orang yang lain-lain lagi.
"Dalam hati mereka' ada penyakit, dan Allah menarnbahkan lagi penyakit itu" (Q. 2 : 10). Mungkin .karena setelah meningkat kita, tetap saja kita tak sanggup untuk tidak bergabung dengan orang-orang yang dengan gagah menyampaikan "Kami ialah .orang-orang yang mengadakan perbaikan" padahal mereka "mengadakan kerusakan di muka bumi" (Q. 2 : 11) Tidakkah kecenderungan semacam itu amat gamblang kita temukan dalam prosedur kehidupan bemegara dan bermasyarakat kita sehari-hari ini?
Maka barangkali banyak sekali stagnasi, involusi, keterbelakangan, ketertinggalan atau kemacetan-kemacetan sejarah yang kita alami bersama sampaumur ini ialah lantaran "Allah memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesempatan mereka" (Q. 2 : 15). Siapa bilang 'mereka' yang dimaksud oleh Allah itu 'pasti bukan kita'.
Na'udzubillah kita semua dari kutukan Allah "Tuli, bisu, buta, dan tak kembali ke jalan yang benar" (Q. 2 : 18). Semoga kita bukanlah orang-orang yang "Menyalakan api, namun setelah api itu menerangi sekeliling, Allah menghilangkan cahaya itu dan membiarkan mereka dalam kegelapan dan tak sanggup melihat" (Q. 2 : 17).
Kaum ilmuwan ialah pembawa obor bagi setiap perjalanan peradaban. Merekalah yang paling memilih apakah kita semua hisa terhindar dari kemungkinan kegelapan ibarat itu.
Ilustrasi
Mungkinkah kita bisa berangkat melacak dari stratifikasi hakekat kemakhlukan :
・Materi
・Tumbuhan
・Hewan
・Manusia
・Abdullah
・Khalifatullah
・Waliyullah
(Emha Ainun Nadjib/ "Nasionalisme Muhammad" - Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 /
PadhangmBulanNetDok)