ADS

Orang Maiyah Dan Gerbang Ghaib

Kepada Mujahidin Mujtahidin Maiyah Dari Muhammad Ainun Nadjib



Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim

Subhanallah




1. Maiyah bukan karya saya, bukan aliran saya dan bukan milik saya.

2. Orang-orang Maiyah bukan santri saya, bukan murid saya, bukan anak buah, makmum, jamaah atau ummat saya.

3. Setiap hamba Allah mempunyai hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya, tanpa dicampuri, digurui atau diganggu oleh makhluk apapun, terlebih lebih lagi saya.

4. Saya tidak berani, tidak bersedia dan tidak bisa berada di antara hamba dengan Tuhannya.

5. Saya dilarang meninggikan bunyi melebihi bunyi Nabi, apalagi meninggikan bunyi melebihi Tuhan.

6. Saya dilarang lebih dikenal oleh siapapun melebihi pengenalannya kepada Nabi, apalagi Tuhan.

7. Saya wajib menghindari kemasyhuran yang menciptakan orang lebih memperhatikan saya, lebih dari kadar perhatiannya kepada Allah dan Nabi.

8. Saya wajib menolak kedekatan siapapun kepada saya melebihi kedekatannya kepada Nabi dan terutama kedekatannya kepada Tuhan.

9. Saya dilarang mendengarkan siapapun dan apapun melebihi indera pendengaran saya kepada Allah dan Nabi, kecuali bunyi siapapun dan apapun itu saya gali kandungan bunyi Allah dan Nabi.

10. Saya dilarang mengucapkan dan melaksanakan apapun kepada siapapun kecuali mengantarkan atau mengakselerasikan ucapan dan tindakan Allah dan Nabi.

11. 12 13 14 15 hingga tak terhingga.





Wa-lhamdulillah

1. Maiyah itu sama sekali bukan Agama, apalagi Agama baru, serta tidak pernah saya maksudkan sebagai suatu aliran teologi atau madzhab.

2. Maiyah tidak pernah saya niati untuk menjadi kelompok thariqat, sekte peribadatan, apalagi organisasi massa, terlebih lagi forum politik atau jenis institusi sosial apapun.

3. Namun demikian saya tidak berposisi untuk mempunyai hak apapun untuk mengharuskan atau melarang Maiyah menjadi apapun, lantaran Maiyah mempersyarati dan dipersyarati oleh nilai-nilainya sendiri.

4. Di dalam diri saya Maiyah saya niati menjauh dari mempersaingkan diri dengan gerakan sosial, kemanusiaan, intelektual atau spiritual apapun, tidak merebut apapun dan tidak berkehendak menguasai apapun di dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.

5. Maiyah itu upaya setiap pelakunya, sendiri-sendiri atau bersama-sama, untuk mencari dan menemukan ketepatan posisi dan keadilan hubungannya dengan Tuhan, sesama makhluk, alam semesta dan dirinya sendiri.

6. Pencarian itu bisa dilakukan setiap Orang Maiyah di dalam kesendiriannya, bisa dengan berkumpul secara berkala, dengan banyak sekali jalan ijtihad ilmu, banyak sekali cara budaya, banyak sekali alat teknologi sosial, banyak sekali perangkat jasad dan batin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

7. Pencarian dan inovasi itu berlangsung dinamis, mandiri, dialogis, tidak ada ujung jalannya, tidak ada batas ruangnya, tidak ada disain dan sasaran waktunya, alasannya seluruhnya itu ialah perjalanan kerinduan kepada yang sejati dan abadi.

8. Setiap Orang Maiyah mencari, menemukan atau menyadari adanya garis nilai antara dirinya dengan Tuhan dengan semua struktur sunnah-Nya, dengan sesama insan dan makhluk dengan semua tatanan dan regulasinya, serta dengan jagat raya dengan semua habitat, dzat dan habitatnya.

9. Setiap Orang Maiyah mempunyai hak sementara dan bersifat sumbangan dari Sang Pemilik Sejati untuk berhenti di suatu koordinat sejarah dan membangun Maiyah sebagai ‘kata benda’, tetapi kata benda itu tetap merupakan titik beku dari ‘kata kerja’ kehidupan yang bergotong-royong tak pernah ada ‘waqaf’nya.

10. Setiap Orang Maiyah menghimpun warisan nilai dan sikap Maiyah kepada para akselerator hidupnya hingga anak cucu keseribu, namun bergotong-royong para akselerator bukanlah pihak yang secara pasif mewarisi, lantaran hingga kapanpun setiap Orang Maiyah ialah pewaris yang mewarisi, sebagaimana setiap mereka ialah yang mewarisi dan kemudian mewariskan.

11. 12 13 14 15 hingga tak terhingga.



Wa La Ilaha Ill-Allah

1. Maiyah itu dinamika tafsir tanpa ujung, sehingga tidak ada pertanyaan ‘Apa itu Maiyah’ yang bersifat baku dan beku. Meskipun bisa ada ‘regulasi’ tertentu yang berlaku pada ruang dan waktu tertentu dengan disain nilai tertentu, namun ia hanya sebuah titik, yang disusul oleh titik demi titik berikutnya menuju keabadian.

2. Mengislamkan diri berdasarkan cara berpikir Maiyah ialah usaha mengidentifikasi diri, menemukan dan mengukuhkan posisinya untuk mengerahkan seluruh urusan hidupnya biar bergabung ke dalam keabadian dan kesejatian Allah.

3. Mengabadikan dan mensejatikan hidup ialah di mana jasad, rumah, keluarga, uang, harta benda, kota dan gedung-gedung, desa dan sawah ladang, semua perangkat pekerjaan, segala faktor sosial, Negara atau Kerajaan, kebudayaan dan peradaban, dilaksanakan dengan upaya adaptasi yang terus menerus dengan kehendak Allah.

4. Manusia bukan hanya mustahil menolak keabadian, tapi afdhal mencari dan menempuhnya, sebagai satu-satunya jalan di dalam kehidupan, alasannya keberadaannya berasal dari Yang Maha Abadi dan sedang niscaya menuju kembali kepada Yang Maha Abadi. Semua makhluk mustahil menolaknya lantaran tidak ada wilayah lain kecuali keabadian Allah.

5. Metoda Maiyah yang paling prinsipil untuk menempuh jalan keabadian ialah selalu memastikan setiap urusan biar berpihak, memasuki dan bergabung di dalam kesejatian. Cara yang dialektis untuk memahami kesejatian ialah mencari perbedaannya, jaraknya, intervalnya, dengan kepalsuan.

6. Kesejatian dan kepalsuan mengartikulasikan dirinya dalam wujud-wujud yang bermacam-macam, mengacu kepada ranah dan konteksnya. Ada kesejatian dan kepalsuan moral, mental, intelektual, spiritual, juga dalam konteks-konteks aplikasi budaya, ekonomi, politik, aturan dan apapun saja yang diperjanjikan oleh komunitas insan untuk menjadi idiomatik managemen dan komunikasi di antara mereka.

7. Bahkan bagi para pembelajar jagat jasad, ilmu fisika, matematika, biologi, kimia, hingga ke ilmu-ilmu murni, termasuk para pembelajar ruh, sifat, dzat, hingga DNA, proton electron neutron, fermion, bozon, quark dst insyaallah terkuak semakin benderang di pandangannya interval antara kesejatian dengan kepalsuan.

8. Tidak ada apapun, makhluk hidup atau makhluk tidak hidup, jasad dan jiwa, benda dan peristiwa, kwantitas dan kwalitas, hutan atau taman, nomaden atau kapitalisme, koteka atau demokrasi, apapun saja siapapun saja, yang berada di luar wilayah akselerasi replikasi dari Allah, yang pada jadinya juga tak menemukan ruang dan waktu, atau yang non-ruang dan non-waktu, yang tak datang kembali di pangkuan Tuhan.

9. Peradaban ummat insan ini hingga ke apapun, siapapun, di manapun, kenapapun, kapanpun, dan bagaimanapun, tidak merdeka dari gagasan Allah, ide-Nya, aspirasi-Nya, model-Nya, replikasi-Nya, prototype-Nya, nuansa-Nya, alasannya memang hanya Ia satu-satunya Yang Maha Sejati dan Maha Abadi.

10. Orang Maiyah menemukan bahwa kehidupan ummat insan itu sangat mengalami kegagalan replikasi dari Tuhan ke peradabannya, sehingga yang mampu dibangun ialah insan cacat, masyarakat cacat, Negara cacat, pemerintahan cacat, hati cacat, nalar cacat, mental cacat, moral cacat. Orang Maiyah berkumpul dan berhubungan untuk menggali ilmu, mentradisikan pembinaan dan lelaku hidup untuk mengurangi abnormalitas diri mereka, serta menghindarkan diri dari melahirkan dan mendidik bawah umur cucu-cucu cacat.

11. 12 13 14 15 hingga tak terhingga.



Allahu Akbar

1. Kalau Bangsa dan Negaranya tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan nilai Maiyah, sikap Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang maiyah tidak terbebas oleh nilai Maiyah dari kewajiban Maiyah untuk memperhatikan Bangsa dan Negaranya.

2. Kalau Bangsa dan Negaranya tidak mengandalkan nilai Maiyah, sikap Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, untuk membangun kehidupannya dan menyembuhkan penyakitnya, maka Orang Maiyah tetap menggali segala sesuatu dari Bangsa dan Negaranya yang masih bisa diandalkan, serta tidak berputus asa untuk terus membangun kehidupan serta menyembuhkan penyakit Bangsa dan Negaranya, dalam skala, kapasitas dan kwalitas yang bisa dijangkaunya.

3. Kalau Bangsa dan Negaranya melecehkan, merendahkan dan memperhinakan nilai Maiyah, sikap Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang Maiyah mengerti tidak ada perlunya memperlihatkan hal yang sama, lantaran makhluk receh remeh dan hina sudah receh remeh hina tanpa diper-receh-kan diper-remeh-kan dan diperhinakan.

4. Kalau nilai Maiyah, sikap Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, tidak dihitung oleh siapapun sebagai sesuatu yang potensial dan aplikatif untuk banyak sekali keperluan urgen Bangsa dan Negaranya, maka Orang Maiyah tidak kehilangan tempatnya dalam sejarah, lantaran Maiyah tetap mereka andalkan untuk pembangunan kesejahteraan masa depan dirinya sendiri, keluarga-keluarganya dan selingkup persaudaraan di antara mereka.

5. Di dalam kehidupan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, Bangsa dan Negaranya, Orang Maiyah tekun mencari, menemukan dan mempelajari “La ilaha” yang sangat penuh tipuan dan fatamorga, sehingga atau lantaran atau maka mereka sangat merindukan perkenan Allah untuk memasuki “Illallah” yang sangat indah, sejati dan abadi.

6. Di dalam diri Orang Maiyah selalu berlangsung konsentrasi untuk menemukan segala sesuatu yang ‘tidak’ dan yang ‘ya’ berdasarkan pandangan Tuhan. Konsentrasi berikutnya ialah secara radikal atau bertahap menghilangkan segala yang ‘tidak’ itu dan memasukkan segala yang ‘ya’ berdasarkan peta ilmu dan kehendak Tuhan.

7. Diri Orang Maiyah tidak terbatas pada diri pribadinya sendiri melainkan diri yang lebih besar: keluarganya, anak istrinya, sanak familinya, rekan-rekan sepersaudaraannya, serta lingkup yang lebih luas yang berada dalam skala tanggung jawab kehidupannya berdasarkan pandangan Tuhan mengenai kehidupan bersama dalam rahmat untuk seluruh alam semesta dengan segala isinya.

8. Sampai batas tertentu yang dinamis dan relatif, perikehidupan masyarakat dan Bangsanya bisa juga termasuk lingkup tanggungjawab eksistensi kemakhlukannya. Akan tetapi Orang Maiyah tidak bertinggi hati untuk meletakkan diri sebagai penyelamat Bangsa dan Negaranya, melainkan berendah hati dan sangat menahan diri untuk berbuat di skala luas itu sejauh ada kepatutan bersama dan keridlaan satu sama lain.

9. Orang Maiyah selalu mengupayakan dan mendoakan Bangsa dan Negaranya biar dituntun Allah dalam menapakkan kaki menyongsong Gerbang Ghaib yang sangat bersahabat di depan mata kehidupan mereka. Semoga doa Orang Maiyah bagi sangat banyak orang yang belum tentu menyayangi mereka dan belum tentu memerlukan upaya dan doa mereka, diperkenankan oleh Allah menjadi bahtera ‘izzatullah penampung dan pengayom keluarga-keluarga Maiyah sehabis datang di Gerbang Ghaib iradah Allah itu.

10. Innallaha Balighu amri-Hi, qad ja’alallahu likulli syai-in Qadra.

11. 12 13 14 15 hingga tak terhingga.

Wa la haula wa la quwwata illa billahil’aliyyil ‘adhim.

Kadipiro 25 Desember 2009.
Muhammad Ainun Nadjib

Subscribe to receive free email updates:

ADS