Lihatlah itu Dewan Integritas Bangsa: Salahuddin Wahid, Bambang Sulistomo, Marwah Daud Ibrahim, Rizal Ramli, dan masih banyak lagi. Kompetisi di antara mereka bukanlah yang terpenting, melainkan kebersamaannya untuk siap memimpin bangsa. Begitu tampak wajah Gus Sholah, muncul kalimat di hati: "Gus Dur sudah uzur? Masih ada Gus Sholah." Sekilas wajah Rizal Ramli menciptakan decak kagum: "Gila, ini orang berani menantang debat Presiden SBY." Marwah Daud? "Kartini masa ke-21, intelektual, lihat ketangkasan geraknya di panggung nasional." Dan Bambang Sulistomo: "Bung Tomo saja sudah bikin geger dunia. Apalagi putra beliau!"
Megawati gegap-gempita lagi: lantang vokalnya, brilian pemikirannya, keluasan perspektif gagasan-gagasannya, dari gerakan mega mendung sampai naik turunnya yoyo. Sri Sultan X menciptakan dada mongkog dan wajah banyak orang berbunga-bunga. Prabowo yang mantap, Sutiyoso yang rawe-rawe rantas, malang-malang tuntas, Wiranto kesatria yang kalem. Hidayat Nurwahid sang ustad jago ushulul-fiqh sehingga mendahului Majelis Ulama berpikir wacana halal-haramnya golput. Dan Pak SBY sendiri, jangan tanya: ia semakin piawai bagaimana melangkahkan kaki dan melambaikan tangan.
Sebagian mereka tiba ke Mega bukan untuk audisi semacam Pildacil semoga dipilih jadi calon wakil presiden. Kehadiran beliau-beliau mencerminkan kerendahan hati dan kebesaran jiwa, bahwa yang utama bukanlah self-dignity, melainkan dedikasi terhadap segala kemungkinan yang terbaik bagi bangsa.
Memang ada sebagian rakyat kita merasa pesimistis, atau apatis, terhadap Pemilu 2009. Itu normal, bisa dimafhumi: hak-hak dasar untuk sejahtera sebagai warga negara memang belum cukup terpenuhi selama ada negara Indonesia dengan berkali-kali ganti pemerintahan dan kepemimpinan. Tapi Indonesia akan bangun. Salah satu tanda-tandanya, semenjak tahun kemudian sudah bergulir suatu “historical refreshment”, gagasan pencerahan zaman yang mendambakan kaum muda segera tampil memimpin bangsa. Itu bagai tembang “Bang-bang Wetan”: matahari gres semburat di timur.
Memang kecakapan dan kedewasaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia. Kalau memang bangsa ini menjumpai ada pemimpin sudah 70 tahun tapi ia paling capable, apa salahnya. Tapi kan sangat banyak orang usia bau tanah tapi tak dewasa, atau infinit remaja bahkan tetap kekanak-kanakan. Dan bukankah justru banyak anak muda yang secara mental dan ilmu bergerak cepat melampaui usianya?
Jadi, ayolah: “bang-bang wetan!” A new “install”. Buka pintu bawah umur muda untuk bikin set-up gres sejarah dan peradaban. Rizal “Chelly” Mallarangeng, Fajrul Rahman, Ratna Sarumpaet, Marwah Daud Ibrahim, siapa pun kaum muda yang akan naik panggung? Chelly punya seabrek pengalaman aktivisme dari Yogya sampai negeri Obama, ia sanggup menarik garis dari penjual wedang, satpam Akademi AU, sampai istana neoliberalisme. Fajrul penuh nyali dan ilmu yang memadai. Sarumpaet sangat menguasai “teater global” dan “drama kehidupan”. Marwah malang-melintang dari high-tech sampai santri Tebuireng.
Mereka bukan hanya layak tanding, tapi niscaya unggul secara fenomenologis dan futurologis. Anak-anak muda ditakdirkan oleh “kebiasaan” Tuhan untuk pada zaman apa pun membawa paradigma baru. Mereka pelopor dan perintis. Mujtahid, pencetus ijtihad, kata Islam. Mereka ialah Obama-Obama Indonesia. Andaikan saja ada persediaan ilmu dan metodologi untuk mengerti apa hubungan kepresidenan Obama dengan tiga tahun ia di Jakarta. Tetapi terang bawah umur muda Indonesia, untuk mencapai puncak kepemimpinan Negara, tidak harus menempuh 12 tahun persiapan sebagaimana Obama penggemar teks Pancasila membutuhkannya sebelum menjadi presiden kulit gelap "not too black" pertama di negeri adidaya elang macannya jagat raya.
Indonesia ialah anak bungsu suatu bangsa besar yang pernah melahirkan Bandung Bondowoso yang sanggup membikin seribu candi hanya dalam waktu satu malam. Kaum muda cucu Bondowoso bisa menjadi presiden kapan saja, bahkan secara instan, alasannya ialah kita bukanlah bangsa dengan kemampuan “konvensional” sebagaimana bangsa-bangsa lain. Penduduk NKRI bukanlah bangsa burung "emprit", melainkan "garuda".
Bung Karno cukup lulusan Bandung, tidak perlu kuliah di Belanda dan bergabung dalam kelompok pencetus "Perhimpunan Indonesia" untuk menjadi pemimpin terbesar mengungguli Bung Hatta dan tokoh-tokoh siapa pun yang lain. Soeharto cukup menyerap saripati tari Bedoyo Ketawang untuk mempecundangi kita semua selama 32 tahun. Habibie bahkan naik takhta "min haitsu la yahtasib" alias "blessing in disguise". Gus Dur “wong agung” dengan kebesaran dan kaliber ekstra di mana Indonesia bergulir-gulir menyerupai butiran kelereng di genggaman tangannya. Megawati tidak perlu berkeringat dan mengerahkan ilmu, kekuatan atau aji-aji apa pun saja untuk sanggup menjadi pemimpin puncak. Dan ia pemimpin hari ini, Susilo Bambang Yudhoyono, tangkai bandul, penjaga keseimbangan, pembersih wajah zaman semoga senantiasa resik dan berkilau.
Tentu saja bagi calon-calon pemimpin muda itu bukan ringan bersaing melawan presiden yang sekarang, yang sangat peka momentum kapan kasih BLT, kapan menaikkan dan menurunkan harga minyak, kapan tanam pohon, kapan menggratiskan pendidikan. Ia jugalah konseptor reformasi Tentara Nasional Indonesia dan prajurit bangsa yang paling awal merintis aliran dan aspirasi reformasi.
Wiranto, Prabowo, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Sutiyoso, Yusril Ihza Mahendra, alasannya ialah mereka juga cucu bangsa besar sebagai adik-adiknya, mempunyai ajian pinunjul-nya sendiri-sendiri. Wiranto gagah perkasa menentang perintah Presiden Soeharto untuk memberangus gerakan mahasiswa dan makar jarah 1998. Prabowo tegak punggungnya, tajam pandangan mripatnya, sunyi menanggung risiko terbanting dari tembok rumah keluarganya, dan ia mempunyai keanggunan serta kegagahannya sendiri jikalau nanti sebagai presiden berdiri berjejer di hadapannya para pembalak triliunan rupiah uang rakyatnya.
Sri Sultan jangan diragukan lagi, “keris” di tangan kirinya sebagai "Khalifatullah ing Bhumi Ngayogyakartahadiningrat" dan “pedang” di tangan kanannya sebagai Presiden Republik Indonesia: jikalau kedua “kesaktian” sejarah itu bergerak, rakyat percaya ia akan membukakan pintu-pintu perubahan yang tak terduga. “Keris” itu lambang kesadaran nenek moyang dan estafet pencapaian-pencapaian peradaban, “pedang” ialah garda depan ilmu dan kecakapan modern.
Sutiyoso dipandang oleh segala parameter rasional modern sangat sempurna dan cakap menjadi presiden, alasannya ialah sukses besarnya menjaga keseimbangan Ibu Kota selama dua periode, dengan terobosan-terobosan yang susah dicari tandingannya. Yusril "Cheng Ho" jago aturan tata negara ialah “panglima” yang mengerti persis bagaimana membangunkan kembali sejumlah kebesaran bangsa yang pernah muncul dalam demokrasi era 1950-an, dengan formula yang terukur dosisnya dan pada proporsi yang relevan untuk kekinian.
Tua atau muda, bangsa kita bergelimang pemimpin. Si cowok ganteng Yuddy Chrisnandi dengan ragam pengalaman aktivismenya, Rizal Ramli dengan keempuannya di bidang yang paling urgen dari permasalahan bangsa: kebangkitan ekonomi. Dan Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo yang menggegerkan dunia dari Surabaya dengan “ilmu sihir” yang menggulingkan rumus ibu perang modern. Itu gres Bung Tomo, belum putra ia yang niscaya jauh lebih berkaliber kependekarannya dibanding bapaknya.
Alhasil, kita optimistis menjalani 2009 ke atas. Kalau Anda mengajak bertanding untuk mengkritik dan menemukan kekurangan atau keburukan para calon pemimpin kita, aku abstain. Sebab, bagi aku sekarang, yang sempurna ialah membesarkan hati seorang dan setiap calon pemimpin.
(Emha Ainun Nadjib/Koran tempo/31 Januari 2009/PadhangmBulanNetDok)