ADS

Buron Dan Kambing Terjepit

SINDO, Jum'at, 07/12/2007

"CAK,aku bukan buron.Semua kewajiban saya kepada keuangan negara sudah saya bayar. Bersama ini saya kirimkan berkas-berkas data yang menunjukan hal itu.

Saya numpang hidup sementara di luar negeri memang sebab saya lari, tetapi bukan lari sebagai buron, meskipun pengetahuan publik terhadap saya ialah buron." "Saya lari dari para pemeras, dari mereka yang berlagak menegakkan hukum, tetapi bergotong-royong mengail di air keruh.

Memeras kami sekeluarga terusmenerus, dari hari ke hari, siang dan malam. Aku lemah, kini istri saya yang menghadapi pemerasan-pemerasan itu tiap hari." "Kalau Pak Presiden menjamin bahwa saya, keluarga, dan perusahaan-perusahaan saya kondusif dan terlindung dari tindak pemerasan para pagar pemakan tanaman, kini juga saya balik ke kampung halaman.Karena meskipun pecahan dan wajah saya tidak memenuhi syarat gambaran nasionalisme,tetapi saya cinta Indonesia.."

"Cak,Pasar Turi terbakar sebanyak 4 kali: 1. Tahun 1969, 2. Tahun 1978, 3. Tanggal 26 Juli 2007,4.Tanggal 9 September 2007.Yang ke-3 dan ke-4, oleh Kapolda Jatim, dinyatakan dibakar. Namun, kami para pedagang tidak atau belum mendengar ada proses aturan yang menuju ke peradilan atas pihak yang membakar.

Cak,bagaimana nalar konstitusionalnya jikalau kepala polisi bilang itu dibakar, tapi lalu tak ada proses hukum.Apakah polisi bisa disebut telah membuatkan kebohongan kepada publik? Ataukah pihak pembakar ialah kakap raksasa ekonomi dan politik sehingga forum keamanan negara tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya? Bagaimana kami orang kecil memasukkan hal menyerupai itu ke dalam kebijaksanaan kepala kami? Apa lama-lama tidak pecah kepala ini?"

"Pada insiden dibakar terakhir, kerugian yang bisa dicatat : 1. Dari total 2.350 stan yang terbakar, kerugian barang dagangan diperkirakan sekitar Rp1,7 triliun. 2. Dari total stan yang tidak terbakar, di lokasi tahap II tidak sanggup berjualan kembali hingga dikala ini. 3. Dalam kondisi normal, omzet perputaran transaksi perdagangan di Pasar Turi mencapai sekitar Rp30 miliar per hari. Sementara dalam kondisi pemulihan yang sangat lamban menyerupai dikala ini dan telah berlangsung selama tiga bulan, sanggup dibayangkan berapa rupiah yang hilang." *****

"Cak,kami para pedagang tidak menuntut yang aneh-aneh. Cak Nun menyampaikan di Forum Bangbang Wetan Surabaya bahwa sahibul bait atau tuan rumahnya sawah ialah petani, tuan rumahnya bahari ialah nelayan, tuan rumahnya pasar ialah para pedagang. Kami hanya beropini bahwa sebagai penghuni dan tuan rumah utama di Pasar Turi, kami berhak disertakan sebagai salah satu subjek dalam proses pengambilan keputusan atas pembangunan pasar kembali oleh Pemkot Surabaya."

"Tetapi hingga hari ini, Wali Kota Surabaya Bambang DH tidak mau sekadar bertemu atau bertatap muka pun dengan kami para pedagang. Jangankan melibatkan kami dalam perundingan. Saya mendengar Cak Nun mencoba menempuh aneka macam hal ke Depdagri hingga Mendagri, supaya hak-hak pedagang itu memperoleh perhatian, tetapi tidak ada balasan apa pun.

Bahkan, pejabat Depdagri minta kami para pedagang menciptakan surat lamaran supaya beliaubeliau hadir ke Pasar Turi.Cak Nun menyampaikan jikalau ada kambing terjepit di antara dua watu besar, mestinya pamong desa punya prosedur untuk tahu ada kambing terjepit, lalu bersegera melaksanakan sesuatu untuk menolong kambing itu. Tetapi di Indonesia kambing terjepit harus menulis surat lamaran supaya pamong desa tiba kepadanya." *****

"Cak, saya mendengar katanya Wali Kota Surabaya pernah dipanggil Presiden di Juanda, dipertemukan dengan wakil pedagang Pasar Turi, tapi sang Walikota tidak hadir. Apa itu artinya Cak? Presiden tidak punya kuasa atas Walikota? Ataukan ada aturan Otonomi Daerah yang memberi peluang kepada pejabat tempat untuk menangani sesuatu secara mutlak dan tak bisa dicampuri,bahkan oleh Presiden?"

"Cak, perwakilan pedagang sudah dua kali berusaha untuk bertemu Wali Kota Bambang DH tetapi tidak pernah diterima. Ada yang menganalisis bahwa SBY tidak bisa melaksanakan apa-apa atas Pasar Turi sebab kunci-kunci di strata bawahnya di Depdagri hingga Pemkot Surabaya semua dari parpol tentangan parpol Presiden. Sehingga semacam ada aroma konspirasi politik sangat menyengat sekali untuk menjatuhkan wibawa dan kekuasaan pemerintahan SBY.Apa itu masuk kebijaksanaan atau tak masuk akal,Cak?" *****

Yang paling ancaman dari SMSSMS yang saya terima semacam itu ialah sebab menciptakan saya garang makan. Kenapa bahaya? Kata anak saya, ada seribu alasan kenapa orang minum air putih dan di antara 1.000 alasan itu di bawah seratus yang relevan terhadap kesehatan. Kalau kita berkunjung ke kantor bupati dan disuguhi air putih, maka kita minum air putih.

Air putih itu sehat, namun pada momentum itu kita teguk air putih tidak dalam skala pertimbangan dan desain kesehatan. Kalau gara-gara SMS-SMS banjir tiap saat, saya lantas merasa lapar lagi dan lapar lagi, maka saya ketemu makanan sebab kompensasi psikologis, bukan tirakat kesehatan, dan itu ancaman bagi tubuh saya jangka panjang.

Kalau SMSSMS harian sekadar minta nama bayi lahir tiga hingga empat kali seminggu, suami punya persoalan serius dengan istri atau sebaliknya, keluhan perihal lapangan kerja, minta modal, problemproblem rumah tangga, stres, gelisah, resah memilih pilihan, atau apa pun persoalan insan sehari-hari, saya masih belum terangsang untuk makan.

Tetapi jikalau persoalan yang di- SMS-kan begitu gede-gede: persoalan Lumpur Sidoardjo yang sekamnya makin membara dan tak hingga setengah tahun lagi akan bisa ada yang terbakar jikalau pemerintah, Lapindo, dan korban lumpur tidak menemukan pemandu yang sempurna untuk mengatasi benturan mereka..

Kalau yang di-SMS-kan ialah potensi bentrok ribuan tani sawit di Bangka, tanah ratusan hektare penduduk yang digunakan negara dan hingga 23 tahun belum dibayar, dan jikalau semua itu coba saya tolong dengan menjumpai betapa pejabat dan birokrasi negara kita hampir sama sekali tidak mempunyai nalar tanggung jawab, dialektika moral, kepatuhan konstitusi,maka sungguh-sungguh saya khawatir akan makan hiperbola dan besok paginya, tatkala bangun, akan muncul pikiran tertentu di kepala saya.

Pikiran-pikiran yang selama bertahun-tahun saya pendam dalam kolam kearifan,saya simpan di laci kesabaran, saya sembunyikan di balik kerudung cinta, namun akibatnya tak bisa lagi saya meneruskannya. (*)

EMHA AINUN NADJIB

Subscribe to receive free email updates:

ADS