ADS

Mensurabayakan Surabaya

Surya, Sabtu, 24 November 2007

Calon kelas menengah Indonesia, belum dewasa muda intelektual dari banyak sekali kampus Surabaya, angkatan muda bernacam segmen 'swasta' yang dimotori oleh Jam'iyah Maiyah, juga sejumlah stake-holders, pelopor birokrasi dan aktivisme sosial, sedang melaksanakan pendadaran diri melalui wadah Bangbang Wetan, untuk pada saatnya benar-benar siap menjadi "kelas perubah sejarah" Indonesia.

Tahap-tahap sangat penting sedang mereka tempuh.
Pertama memastikan mengukuhkan kepribadian dan kediriannya sebagai manusia, sebagai pengolah metoda Agama dan ilmu-ilmu mutakhir, sebagai rakyat Indonesia. Rakyat berasal dari kata ro'iyah = kepemimpinan. Rakyat bukan kawula atau abdi. Rakyat ialah pemegang rohani kepemimpinan yang dipatuhi oleh Pemerintah dalam konteks dan skala Negara.
Pemerintah ialah abdi atau kawula, yang dilantik oleh otoritas kepemimpinan rakyat, dikasih daerah bekerja memenuhi amanat rakyat, diberi upah, kemudahan dan banyak sekali kanal untuk mempermudah pekerjaan kerakyatan.

Kalau pinjam filosofi "Gundhul Pacul": pemerintah meletakkan "bakul" kesejahteraan rakyat di
atas kepalanya. Derajat Pemerintah ada di bawah maqam ro'iyah. Tugas mereka mengolah modal kekayaan Negara untuk diantarkan kepada rakyat berupa kesejahteraan
lahir batin. Demokrasi ialah salah satu jenis kendaraan untuk mengantarkan kesejahteraan itu.

Pemerintah tidak boleh "gembelengan": main-main, sok kuasa, lupa hakikat demokrasi dan ro'iyah, merasa diri di atas rakyat dan lupa bahwa rakyat dapat hidup tanpa Pemerintah sementara Pemerintah tak dapat ada tanpa rakyat.
Kalau Pemerintah "gembelengan" maka "wakul ngglimpang segane dadi sak-latar". Kekayaan negara tercecer-cecer mubazir, dikuasai maling dan kaum serakah yang derajatnya sama dengan ayam yang nothol-nothol nasi berceceran.

Jangan lupa juga, seorang pejabat, dari Presiden hingga Gubernur Bupati Walikota, yang gembelengan: dalam teori ekogenetik -- akan menyusahkan anak cucunya, yang menanggung "walat" ialah seluruh potongan dari ekosistem dan kekeluargaannya.

Lihatlah apa yang kurang pada putra putri Pak Harto: harta benda, kekayaan apa saja, kecantikan kebagusan -- tapi apa yang mereka alami dari hari ke hari.
Orang biasa menyebut hal semacam itu dengan kata 'kuwalat', atau & 'hukum karma'.
Secara ilmiah itu dapat dianalisis, meskipun tidak sempurna betul, sebagai fenomena ekogenetik, dengan variable sebut saja eko-sistemik pada suatu skala, atau eko-sosiologis. Rute waktunya dapat harian, mingguan, bulanan, tahunan, dasawarsa, abad, millennium dst. Kuwalat itu pasti
terjadi, kalau dalam idiomatik Islam: sebab ada sunnatullah yang namanya tawazzun: penyeimbangan yang konsisten dan terus-menerus.

Kenapa Surabaya yang budayanya egaliter, cukup jauh dari feodalisme Jawa, demokratis, bahkan punya gen sebagai pelahir manusia-manusia Kota Pahlawan: kini contohnya -- Persebaya-nya terpuruk dan cara penanganan pasca dibakarnya Pasar Turi justru mencerminkan huruf yang sama sekali bertentangan dengan semangat demokrasi, watak
egaliter, budaya breh, opo anane dan sangat memalukan jikalau dilihat dari identitasnya
sebagai Kota Pahlawan?

Kata wong cilik: hidup mirip roda, kadang di atas, kadang di bawah. Itu bukan sekedar suratan nasib di mana insan hanya menjadi obyek.
Seringkali justru terjadi insan menginisiatifi penindasan, penzaliman atau pemiskinan. Orang yang secara obyektif berdasarkan pandangan nasib bias berada di atas, malah terpuruk di bawah sebab kekuasaan politik dan birokrasi atau banyak sekali jenis kekuasaan lain dari insan atas
manusia.

Suatu kelompok masyarakat merasa sedang unggul, sedang memegang jabatan dan kekuasaan, kemudian mereka sangat mantap dan meyakini keunggulannya atas kelompok
lain dalam sebuah masyarakat dan Negara.

Nanti niscaya datang saatnya tawazzun Allah akan datang dan para penguasa zalim akan mengalami, dengan semua kerabatnya yang makan butir nasi dan tetes air dari hasil penindasan: akan mencicipi semacam jawaban yang mungkin lebih parah tingkat kesengsaraannya dibanding yang dulu mereka tindas.
Generasi Emas kesebelasan Inggris, demikian Adam Crozier pimpinan FA menjuluki
kesebelasan serba bintang dari negeri asal sepakbola.

Kalah 3-2 dari Kroasia meruntuhkan seluruh harga diri rakyat Ratu Elisabeth. Air mata menghujani dan membanjiri negeri yang sudah dikepung lautan itu. Lord Mawhinney, Ketua Liga Sepakbola Inggris dengan sangat pilu mengakui bahwa yang emas itu ternyata loyang.
Para mahir wirid meminjam kata-kata Allah 'min haitsu la yahtasib' mereka akan menjumpai
kenyataan jauh di luar yang mereka perhitungkan.
Berbagai rekayasa tidak jujur, hati yang tidak adil dan pikiran yang tidak obyektif yang menimpa rakyat Indonesia di tengah himpitan dan timbunan masalah-masalah: lambat atau cepat akan mengalami produk dari 'min haitsu la yahtasib'.

Allah lebih lanjut meladeni tantangan: 'Innahum yakiduna kaida wa akidu kaida'. Mereka
melakukan tipu daya, dari lokal hingga internasional, dan mereka akan 'kejagul' sebab Allah
adalah Maha Penipu Daya. Tinggal rakyat yang ditipu daya itu mempercepat dengan tangis
mereka kepada Allah atau membiarkan irama Allah berlangsung apa adanya.

Maka kaum muda Bangbang Wetan di Balai Pemuda Surabaya, yang bulan ini berlangsung lusa 27 November 2007: menghimpun hati yang adil, pikiran yang obyektif, mental yang tenteram, pendataan yang lengkap, analisis setepat mungkin, menabung infrastruktur mental kelas menengah perubah nasib bangsa sebab Indonesia hari ini sungguh tak punya Kelas Menengah Pemikir yang sungguh-sungguh mateg aji merancang perubahan: yang di atas hidup
sangat yummy dan niscaya tidak mau berubah, yang di bawah kelelahan mikir sebutir nasi sehingga mustahil dituntut memikirkan perubahan.

Padahal tidak ada toleransi lagi bahwa Indonesia wajib berubah 'sak oyot-oyote'.
Makanya kini berguru rendah hatilah kita semua: kita sisihkan dulu kata-kata gagah untuk menyebut diri sendiri: emas, mutiara, super, mega, raja, ratu, pejuang 'Surabayakanlah Surabaya!' *

Emha Ainun Nadjib (PmBNetDok)

Subscribe to receive free email updates:

ADS