Menguak kabut itu bersamamu, menata kembali ruang
Sambil terus berunding dengan waktu.
Dan badai. Tentu, topan itu niscaya menyongsong
Tapi coba kita lunakkan, kita lembutkan
Dengan sabar dan shalat
Kemudian atas kerjasama yang baik dengan Tuhan
Kita mohonkan semoga tantangan itu diperkenankan
Menjelma jadi rahmat dan kegembiraan
Jaman yang berganti-ganti dan tak masuk akal
Perjuangan berputar-putar, tak terang maju mundurnya
Topeng-topeng berubah-ubah, tak tahu mana ujungnya
Memberiku kewajiban kemakhlukan, kewajiban persaudaraan
Kewajiban sesamawarga suatu negeri
Sesama anggota suatu masyarakat. Terlebih-lebih
karena kewajiban cinta uluhiyah dan kemesraan kemanusiaan
Membuatku terpojok dan berpikir untuk menapak ke depan
Bersamamu. Tapi mungkin juga tidak
Segala sesuatunya bergantung pada ketetapan hatimu
Aku akan membisikkan sesuatu ke telingamu
Akau akan langkahkan kaki dan gerakkan tanganku bersamamu
Bisikan pertama sebelum bersama kita tempuh perjalanan
Atau mungkin ini bisikan terakhir, sehabis berpuluh tahun
Kutiup gendang batinmu dengan beribu bisikan
Beribu teriakan, bahkan beribu pekikan, yang kamu sia-siakan
Sesudah kubung-buang diriku sendiri ke semak-semak kesunyian
Untuk menghasilkan kebebalan yang terus-menerus
Pergumulan asyik yang tak sudah-sudah dengan kebodohan
Menyerah kepada keputus-asaan bersama yang ditutup-tutupi
Aku akan membisikkan sesuatu ke lubuk kesadaranmu
Karena waktu bagimu dalam hidupku sudah hampir habis
Aku sudah renta dan tidak mungkin meneruskan langkah
Yang tanpa pengharapan apa-apa bagi kemajuan hidupmu
Aklu sudah senja dan tidak lagi akan kutaburkan benih-benih
Yang tak kamu sirami,tak kamu pelihara, bahkan kamu injak-injak sendiri
Aku sudah udzur dan tidak mampu lagi setiap kali menjumpaimu
Terpuruk lagi dan terpuruk kembali di lembah kesengsaraan
Yang disebabkan oleh kemalasan berpikir
dan ketidaksungguh-sungguhanmu sendiri dalam bersikap
Mocopat Syafa'at, 17 Agustus 2001 (PmBNetDok)