ADS

Bersalaman Dengan Gadis Gila

Hari ini aku mendapatkan surat dari sebuah kota pesisir utara Jawa yang berisi permohonan maaf kepada saya. Tentu saja aku membalasnya dengan kata-kata: "Saya tidak berhak memberi maaf kepada Anda, alasannya yakni berdasarkan pengetahuan aku Anda bersalah tidak kepada saya, melainkan kepada Tuhan, kepada gadis abnormal itu dan kepada diri Anda sendiri."
Meminta maaf kepada diri sendiri sanggup ditempuh dengan penginsafan hati dan pembenahan cara berfikir. Memohon ampun kepada Allah sanggup dijalankan dengan cara bersujud, shalat sebanyak-banyaknya, jika perlu puasa dan memberikan qurban sebagai semacam ruwatan atau pencucian diri. Tetapi bagaimana caranya meminta maaf kepada seorang yang dirahmati oleh Allah dengan kegilaan?
Ceritanya, beberapa ahad yang kemudian tiba ke rumah kontrakan aku tamu-tamu muda anggota suatu kelompok Tarikat. Pakaian mereka necis, rambut klimis, gerak-gerik mereka memenuhi segala konsep kesopanan, dan cahaya wajah mereka bagaikan memancarkan sima'hum fi wujuhihim min atsaris-sujud: ada gejala bersinar di wajahnya, jejak sujud-sujud rnereka kepada-Nya.
Ada banyak persoalan dan kepusingan yang sedang menimpa aku menyerupai juga tiap hari terjadi, tetapi jika mendapatkan tamu-tamu penuh kemuliaan menyerupai ini tidak ada lain yang terasa kecuali ketenteraman dan keteduhan.
Ini bawah umur Tariqah! Bayangkanlah. Hampir semua anak muda memperlombakan hedonisme, hura-hura dan menyembah segala jenis materialisasi manusia, tapi bawah umur muda ini tak perlu menanti ketika sekarat untuk menentukan keabadian ruhani.
Tiba-tiba nongol Si Inur, perempuan tamatan SMTA yang oleh semua orang kampung ternpat tinggal aku dianggap sampah lantaran sinting setelah ditinggal pacarnya kawin dulu. Lebih dua puluh kali sehari ia datarg dan kami mengobrol. Mungkin lantaran di rumah aku ia menemukan teman-teman sejawat dan senasib, sehingga bersedia menerimanya dan ngowongke.
Maka aku panggil Si Inur, aku ajak untuk bersalaman dan berkenalan dengan tamu-tamu terhormat saya. Senyum-senyum ia tiba sambil satu tangannya mempermainkan helai-helai rambut. Ia menyodorkan tangannya dengan ramah, dan rnendadak aku saksikan tamu-tamu aku kaget, gelagapan dan salah tingkah. Semuanya tidak bersedia mendapatkan uluran tangan Si Inur dan hanya berkata disopan-sopankan: "Sudah, sudah... terima kasih, terima kasih!"
Tahukan Anda bahwa aku sendiri tidak menyangka betapa aku mendadak murka menyaksikan hal itu? Bukan hanya marah, tapi juga meledak-ledak dengan kata-kata amat keras dan terus terang.
Saya amat sangat tersinggung lantaran tamu-tarnu aku menolak keramahan seorang hamba Allah. Apalagi hamba Allah yang ini berangkat ke alam abnormal dengan membawa penderitaan hati lantaran dikhianati cintanya. Sedangkan Allah pun murka jika kita khianati cinta-Nya!
Apakah tamu-tamu aku ini merasa yakin akan masuk nirwana dan Si Inur niscaya masuk neraka, sehingga tak punya kehormatan setitik pun untuk diterima uluran tangannya? Sedangkan gadis ini semenjak beberapa tahun yang kemudian telah selamat hidupnya lantaran segala perbuatannya akan tidak dikalkulasi oleh Allah berkat kegilaannya, sementara tamu-tamu ini rnasih menapakkan kakinya di jalanan licin penuh lumpur dosa-dosa?
Ataukah mereka jijik bila tangannya yang higienis dan amis harus bersentuhan dengan tangan kumuh kotor si gila? Ahli tarikat bawah umur muda ini, ataukah priyagung-priyagung yang feodal dan suka merendahkan orang kecil?
0, mungkin mereka keberatan salaman lantaran Si Inur itu perempuan yang bukan muhrimnya. Lebih berat manakah dosis antara pahala tidak menyentuh tangan perempuan dibanding dosa tidak memelihara bebrayan sosial? Apakah gadis abnormal ini bagi para mahir tarikat masih seorang wanita? Tinggi benar naluri seksnya!
(Harian SURYA, Senin 7 Desember 1992)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Subscribe to receive free email updates:

ADS