Pernahkan Anda membayangkan bahwa di antara hal-hal dan realitas yang saya ketahui, hanya sekitar 25 persen saja--bahkan mungkin kurang dari itu yang bisa saya ungkapkan melalui tulisan? Ada banyak pintu tertutup atau rambu nilai yang menciptakan sangat banyak harus disembunyikan atau ditutup-tutupi.
Ada 'rambu' tata aturan politik. Ada tabiat sosial, baik yang universal maupun yang nasional dan yang khas budaya Jawa. Ada instruksi etik jurnalistik. Ada 'rambu' SARA, yang penafsiran atasnya selalu kabur dan menurut subjektivisme kekuasaan, dan lain sebagainya. Itu semuia menciptakan kita sering terpaksa menyembunyikan kejahatan, melindungi kebobrokan, atau menutup-nutupi kekejaman. Kita sungguh-sungguh belum lulus dalam hal memilih taktik aplikasi dari filosofi demokrasi, keterbukaan, atau yang dalam agama disebut 'qullil haqqa walau kana murran'. Katakan yang benar, meskipun pahit. Yang benar perihal kebenaran, maupun yang benar perihal kejahatan.
Oleh alasannya itu dalam atrnosfir tertentu saya sering mengibaratkan apa-apa yang dimuat di koran-koran itu menyerupai - maaf - `bau kentut'.
Maksud saya, seringkali yang kita baca itu baunya saja. Sedangkan bacin itu nya indikator dari realitas kentut.
Bau itu bukan. realitas. Kita tidak pernah tahu apa gotong royong kentut itu, apa warnanya dan bagaimana bentuknya, dan kemudian yang justru harus diketahui oleh para pembaca koran ialah apa isi perut orang sehingga kentutnya kok begitu baunya, apa saja yang dimakannya, siapa yang ngasih masakan itu, ia dikasih, membeli, atau mencuri.
Alhasil kalau kita baca koran, kita harus punya perhitungan rangkap sebelum menyimpulkan sesuatu. Harus dikunyah, dihentikan ditelan atau apalagi diuntal begitu saja. Sebab di Indonesia ini, terutama yang ada di jajaran kekuasaan, semua baik. Pejabat niscaya baik polisi dan tentara niscaya baik. Kasubdit, Kabag, apa saja, semua baik. Yang buruk niscaya `oknum'.
Hal ibu rumah tangga yang saya kisahkan ini juga terpaksa tidak 'telanjang' menuliskannya. Cukup pada dasarnya saja. Ini materi silaturahmi antar insan yang toh punya duduk perkara masing-masing. Dan terutama silaturahmi antar ibu-ibu yang siapa tahu belakang layar mengalami penderitaan yang sama, tapi selama ini tak tahu harus diomongkan kepada siapa.
Beliau ini istri kedua dari seorang yang tergolong penting dalam masyarakat. Kepala cuilan dari satu urutan yang luhur di sebuah kantor eselon tidak rendah. Sudah pula mempunyai gelar sehabis menunaikan suatu jenis ibadat tertinggi.
Tak ada yang menyalahi 'hukum' dengan itu semua. Ada izin resmi dari istri pertama. Ia dikawini alasannya istri pertama tak bisa melayani', dan dipinang dengan alasan daripada si lelaki harus ke pelacuran.
Tentu, betapa luhur perempuan yang sedia berkorban demi menghindarkan seorang hamba Allah dari api neraka.
Tapi yang ia jumpai ialah bumerang. Kebiasaan 'jajan' sang lelaki tak berhenti juga. Ditunggu hingga larut malam, katanya rapat, ternyata barusan kencan di Pantai Kenjeran. Si istri kedua hingga pernah meletakkan Alquran di atas kepala sang suami untuk mengambil sumpah perihal melacur lagi atau tidak. Ternyata, menurut sejumlah bukti otentik, memang masih.
Padahal. apa saja sudah ia ladeni dari maaf -oral seks, anal seks dan lain sebagainya. Padahal si istri kedua sudah bersedia pisah sama anak-anaknya alasannya sang suami tak cocok dengan mereka.
Lha, terakhir ini malah ada surat-surat kaleng dan gosip beredar bahwa sang suami itu korupsi. "Saya merasa malu, suami saya sering memimpin berdoa, tapi kelakuannya begitu. Saya merasa terhina. Saya minta cerai, tapi tak diperbolehkan".
Jika tak ada siapa pun yang mendengarkan dongeng ibu ini, maka tak diragukan lagi justru seluruh bunyi kesengsaraan batinnya memusat di telinga Allah sendiri. Dan jikalau Allah telah mendengamya, maka hati-hatilah siapa saja yang kelakuan hidupnya menyatakan perang kepada Allah'.
Ibu bisa pilih cara menabraknya secara tegas dan memperjuangkan hak pisah melalui instansi aturan negara dan agama. Bisa juga menghimpun enerji jangka panjang untuk menemani sang suami tercinta menuju khusnul khatimah, dengan berdrum-drum kesabaran dan kepandaian mendidik. Betapa mulia di dunia dan betapa cerah rumah di sorga jikalau itu dilakukan!
Atau memperbanyak daya kerohanian: salat malam lebih banyak, dzikir lebih rajin, membersihkan hati, mengucapkan wirid-wirid tertentu yang kontekstual untuk itu, serta memasrahkan sepenuhnya kepada kearifanNya.
(Harian SURYA, Senin 13 Januari 1992)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)