Di pasar loak Surabaya, menyaksikan nasib ratusan orang terselip-selip di antara tumpukan besi-besi dan segala macam barang rongsokan, hatiku luluh.
Di pelosok-pelosok kota dan desa, menatapi ibu-ibu, bapak-bapak, bersimbah keringat mernperjuangkan nafkah keluarganya, hatiku gugur.
Di sepanjang jalanan, bersapaan dengan gerak kaki lima, bawah umur penyemir sepatu, remaja-remaja pengamen, pengemis-pengemis, hatiku gugur.
Di mana-manapun saja, wajah-wajah berkeringat, tangan-tangan perkasa, para buruh, penjaga-penjaga pintu gerbang rumah-rumah modal, sopir-sopir, penjaja-penjaja makanan, pegawai-pegawai rendahan, pelayan-pelayan kepentingan sesama manusia; hatiku tercampak.
Aku pengembara di hamparan semestamu, ya Allah. Aku pencari wajah-Mu yang terpencar di wajah-wajah berminyak sahabat-sahabatku sesama orang kecil yang terhampar di segenap sudut ruang-ruang-Mu dan melintasi keabadian waktu-Mu.
Melintasi keabadian waktu-Mu, ya Allah, lantaran orang-orang kecil ini, lantaran rakyat ini, infinit di keharibaan-Mu. Raja tak dapat menjadi raja tanpa rakyat. Pemerintah tak dapat menjadi pemerintah tanpa rakyat. Tapi rakyat infinit menjadi rakyat meskipun tak ada raja dan pemerintah.
Aku pencari bunyi suara-Mu yang terdengar dari kesunyian mulut-mulut hamba-hamba-Mu yang digembok oleh cengkeraman tangan Para penguasa dan perebut hak-Mu atas dunia dan kehidupan.
Ketika kutepuk-tepuk pundak Seseorang yang menangis, kujumpai Engkau duduk di sisinya.
Ketika kuusap peluh sekumpulan orang yang membanting tulang dalam kesusahan, kutemui Engkau berada di tengah mereka.
Ketika kusapa mereka-mereka yang kesulitan nasibnya dan lantaran itu rnereka tertawa-tawa, saat kulambaikan tangan kepada mereka-mereka yang memanggul beratnya mencari nafkah, dahsyatnya mempertahankan kernanusiaan dan kewajaran hidup kulihat Engkau bercengkerama dengan mereka.
Aku jatuh cinta kepada-Mu ya Allah, lantaran saya menyayangi mereka. Dan saya jatuh cinta kepada mereka, ya kekasih, lantaran saya mencintai-Mu.
Engkau berbisik di indera pendengaran Daud kekasihMu: "Wahai Daud, dunia ni hanyalah bangkai yang dikerubungi anjing-anjing yang menarik-narik, mengoyak-ngoyak dan memperebutkannya. Apakah engkau ingin menjadi salah satu dari anjing itu, wahai Daud? Maka perindahlah tutur katamu, sederhanakanlah hidupmu...."
Ya Allah, orang-orang kecil sahabatku itu, tanpa susah payah mencari kesederhanaan, telah eksklusif Engkau anugerahi kesederhanaan. Di tengah sejumlah orang lain yang memperlombakan kemewahan, kekuasaan, kursi, dengan bayaran kebohongan dan pengingkaran janji.
Ketika di Terminal Bungurasih seorang penjual rokok menyapaku: "Cak Nun, ya? Betapa jatuh hatiku. Ketika berjalan kaki di Raya Darmo dan seorang Satpam dari sarangnya meneriakiku: "Cak Nun!".... betapa terpedaya hatiku. Ketika sopir-sopir taksi di Juanda memperolok-olokkanku・"Kiai nDableg!"... ya Allah, betapa bahagianya aku.
Seandainya Engkau membawa George Bush atau tokoh-tokoh lain macam itu untuk menyapaku, percayalah akan menegakkan leher dan mendongakkan wajah. Adapun di hadapan setiap orang kecil kekasih-kekasihMu ini, ya Allah, wajahku tunduk. Hatiku remuk redam dalam kebahagiaan, bagaikan seorang gadis di depan perjaka idamannya.
Hatiku meronta-ronta. Katakanlah kepalaku wahai sahabat-sahabat karibku, apa yang engkau kehendaki untuk kulakukan? Untuk kupersembahkan? Untuk kuberikan? Untuk kusampaikan dan kukerjakan? Baik engkau yang menyapaku di jalanan atau gardu-gardu, maupun kalian yang dari kejauhan saling bersapaan hati denganku.
Kalian semua lantaran kemurahan hati, keserbakekurangan ekonomi serta banyak sekali jenis kesedihan yang setengah mati engkau pendam di hati --memperoleh kesempatan untuk mengingat Allah lebih dari saudara-saudaraku yang lain yang serba kecukupan.
Engkau menawari Musa, ya Allah, "Wahai Musa! Apakah engkau ingin bertempat tinggal serumah denganku?" Dan Musa terperangah dan tersujud-sujud saking gembiranya dan bertanya, "Bagaimana itu mungkin, ya Tuhanku?" Lantas Engkau berkata sambil tersenyum, 'Musa! Tidakkah engkau ingat bahwa kawasan persemayaman-Ku ialah di mana saja ada hamba-hamba-Ku yang mengingat aku, menyebut-nyebut nama-Ku dalam batinnya, baik lantaran rasa syukur atau lantaran keprihatinan hidupnya?"
"Wahai Musa, kalau mereka membisikkan asma-Ku, Aku pun memperhatikan mereka. kalau mereka mendekat kepada-Ku, saya pun mendekat kepada mereka. Jika mereka menjaga-Ku, Aku pun menjaga mereka. Jika mereka mengangkat-Ku, Aku pun mengangkat mereka, Akulah yang mencuci hati mereka sehingga mereka besar hati atas kedekatannya dengan-Ku...."
Ya Allah, cintaku tak tertahankan!
Kuingat pula pernyataan tegas-Mu, "Wahai kekasihku! Kalau engkau terhenyak olehKu saya bangkit untuk-Mu.
Kalau engkau bangkit untuk-Ku, Aku berjalan menghampiri-Ku. Kalau engkau berjalan menghampiri-Ku, Aku berlari menyongsong-Mu!"
Ya Allah, lindungilah mereka dari iklim zaman yang memburamkan penglihatan mereka. Jagalah mereka dari musuh-musuh-Mu yang memperjualbelikan angka-angka dan bunyi mereka. Temanilah mereka dalam melayani kaum yang Engkau merasa heran kepadanya, sebagaimana firman kudus-Mu, "Aku heran kepada mereka yang meyakini maut, namun tetap saja mantap saja menyombongkan diri. Aku heran kepada mereka yang percaya kepada Hari Perhitungan, namun tetap saja sibuk menumpuk kekuasaan dan harta benda. Aku heran kepada mereka yang tahu persis akan masuk pintu kubur, namun tetap saa tertawa-tawa lantaran merasa senang di dunia. Aku heran kepada mereka yang yakin akan akhirat, namun tetap saja karam di dingklik dunia. Aku heran kepada mereka yang mengerti kefanaan dunia, namun terus saja manambatkan hati padanya...." o
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)