Keyakinan itulah yang saya patrikan dalam hati saat membaca surat dari beberapa pekerja pabrik, yang beberapa hari kemudian pribadi menemui saya di rumah kontrakan. Wajah mereka kuyu, sinar mata mereka layu meskipun penuh semangat, dan pakaian mereka tentu saja---tidak trendy. Sebagai pekerja rendahan, tentulah mereka tak punya kapasitas ekonomi untuk mengejar mode yang larinya selalu sangat lebih cepat dibanding 'langkah' honor kita semua.
Terus terang, jikalau bersentuhan dengan strata pekerja, otak saya pribadi curiga. Ini ada urusannya dengan ketentraman sosial. Oleh lantaran itu saya 'siap perang'. Terus jelas saja, saya tidak suka pada pemogokan kaum buruh. Itu mengancam ketentraman sosial. Dan sangat lebih tidak suka lagi kepada sumber atau penyebab-penyebab pemogokan mereka. Misalnya, hak-hak pekerja yang tidak dipenuhi!
"Tampaknya Anda-anda ini sahabatnya Si Komo...?" saya nyeletuk, setelah beberapa kalimat pembicaraan, serta menurut yang saya ketahui dari surat mereka.
"Kata orang, buruh macam kami ini derajatnya sama dengan onderdil mesin. Tapi ternyata mesin lebih berharga dan lebih bernasib baik dibanding kami, Cak!" salah seorang nrombol. "Opo maneh iku!" kata saya.
"Kalau mesin mogok, ia tidak dipukuli, melainkan pribadi diperbaiki, biar dapat dipakai lagi. Kalu kami mogok, lain soalnya. Wong masalahnya hanya aus lantaran kurang oli, kok lantas dapat hingga ke mana-mana yang kami tidak paham. Yang mbalelo, yang subversif, yang..."
"Bukan," jawab saya, "Bukan hingga ke mana-mana. Hanya hingga ke uang. Uang itu titik sentra gerak-gerik lain dalam kehidupan.
Gerak pendidikan, gerak kebudayaan, gerak politik, tuduhan-tuduhan dan retorika dalam kekerabatan kerja antar manusia, gotong royong bermuara pada uang. Tetapi yang penting, saya tidak mau kedatangan Anda kemari ini menjadi potensi yang dapat mengancam ketentraman sosial. Sebagai warga negara yang berusaha baik, saya selalu merasa wajib mencegah segala sesuatu yang dapat meresahkan masyarakat, meskipun yang dapat saya lakukan ya hanya sebatas begini-begini ini saja...."
"Meresahkan masyarakat bagaimana? Dan ikut mencegah bagaimana," mereka mengejar.
"Misalnya," jawab saya, "seperti dalam masalah yang Anda kemukakan kepada saya: para buruh harus kompak dengan juragan dan semua dalam perusahaan untuk mengantisipasi oknum-oknum yang dinilai tidak dapat melaksanakan undang-undang perburuhan. Para buruh harus selalu meletakkan diri dalam satu kepentingan dengan perusahaan, demikian juga pihak perusahaan harus meletakkan diri dalam dialektika profesional dengan buruh, alasannya keduanya saling memerlukan. Para buruh kompak dengan perusahaan dalam pemenuhan hak-hak: honor yang memadai sesuai dengan Moral Perburuhan Pancasila, imbalan lembur, kemudahan kesehatan, cuti haid, cuti hamil, hak berorganisasi, keterbukaan dan keadilan ketentuan kesejahteraan buruh... pokoknya semua segi kekerabatan kerja - nya. Perusahaan juga harus bertindak tegas
kalau ada buruh yang menyogok atau menyewa pihak luar yang punya kekuatan untuk menekankan kepentingannya. Kalau ternyata buruh tak mungkin melaksanakan itu lantaran tak punya biaya, ya perusahaan yang harus waspada jangan hingga dirinya menyewa kekuatan macam itu...."
Saya menganjurkan biar para buruh itu mengusulkan kepada para juragannya, para administrator dan mandor-mandornya, biar memperlihatkan penataran kepada para buruh ---umpamanya---tentang undang-undang perburuhan, apa kata Pancasila perihal hak-hak buruh.... ()
(Harian SURYA, Senin 25 Januari. 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)