Ia putra keenam dari sembilan bersaudara, mengerti kedua orang-tuanya rnemanggul beban terlampau berat, sehingga ia tetapkan untuk ikut mengurangi beban itu. Setidak-tidaknya mungkin ia malu: Wong mahasiswa itu agent of social change, elite intelektual dan calon pemimpin bangsa kok numpang makan dan minta biaya sekolah kepada orang renta yang pendidikannya rendah dan melarat. Mosok ujung tombak abad industrialisasi dan globalisasi kok nyusu pada orang agraris-tradisional.
Banyak macam perjuangan ia tempuh. Makelaran, dagang kecil-kecilan, namun masih belum sumbut untuk keperluan sehari-hari dan biaya kuliah yang merupakan idaman orang tua. Pernah juga ngenger ke sejumlah orang kaya, tapi belum saling ada kecocokan.
Apa yang ia idamkan yaitu seandainya ada yang bersedia meminjami modal, dengan perjanjian dan mekanisme yang dirundingkan secara fair. "Syukur jikalau flora anggrek kaya jenis Douglas & Katlya dapat segera laku," tambahnya.
Pemaparan ini tidak hanya mengimbau Kepada Anda-Anda yang bersedia merogoh saku. Ini berlaku juga siapa saja yang tahu manfaat tambah sobat dan ilmu pergaulan.
***
Lain lagi Ibunda atau Mbakyu kita berikut ini. Ia bentrok terus dengan suaminya problem Keyakinan agama dan sekarang dalam proses meresmikan perpisahan.
Hmmm... yang namanya perpisahan atau perceraian, memang unik. Itu sebuah kemungKinan sunnatullah.
Mungkin alasannya yaitu darurat, mungkin alasannya yaitu memang harus demikian diaektikanya. Bahkan perpisahan dapat merupakan saiah satu bentuk persatuan. Burung 'Dali' di udara terus, burung Gemek/Gemak di daratan dan semak-semak pohon terus: Itu perpisahan fisik, sekaligus persatuan hakiki dalam menjalankan ekosistem kehidupan.
"Lek idek mambu taek, lek adoh mambu kembang." Mbakyu kita ini melihat dan yakin, sebagai mantan suami mantan istri. mereka masing-masing justru dapat berbuat lebih baik di tempatnya sendiri-sendiri yang baru.
Ia sendiri mencoba menemukan diri yang terbaiknya. Output dari segala kompleksitas problem dan kegagalan rumah tangganya, tidak berupa perilaku nekad atau kompensasi-kompensasi negatif. Yang menjadi tekadnya sekarang ialah memusatkan sisa hidupnya untuk "menyeru insan kepada Tuhan", semacam muballighat, sambil bekerja untuk mencari sandang pangan ala kadarnya sebagaimana orang-orang lumrah lainnya.
Dari Semarang, eks domisilinya, ia telah melaksanakan perjalanan ke Yogyakarta, Ponorogo (Jawa Timur) dan lain-lain untuk angon nasib, mempelajari agarna secara mendalam dan mencari kemungkinan-kemungkinan.
Ia kiri tinggal di Jember (Jawa Timur); di rumah seorang ibu yang juga penggagas acara-acara keagamaan. Namun ia tidak bersedia menjadi `benalu'.
Apa yang ia perlukan yaitu kesediaan suatu institusi keagamaan, forum pendidikan, padepokan santri atau apa saja, di mana ia dapat mencar ilmu serius narnun juga bersedia bekerja sekasar apa pun, semoga ia 'sah' menjadi insan hidup.
(Harian SURYA, Senin 22 Pebruari 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)