ADS

Hinalah Aku, Jangan Islam, Please


Kepada semakin banyak saudara-saudaraku yang menghina Islam, kumohon: hinalah aku. Sebab saya lemah, tidak punya daya, maka hinaanmu akan efektif. Seandainya pun saya tersinggung dan ingin membalas, tak ada padaku kesanggupan untuk melaksanakannya. Selama hidup, tak kupunyai energi, kekuatan dan rasa tega, untuk menyakiti siapapun, meski seberat apapun ia menyakitiku, sedalam apapun ia melukaiku, bahkan membunuhku.
   
Tetapi tolong engkau ingat: saya ini sudah hina tanpa engkau hina. Makara sebetulnya tidak sanggup ditambah lagi hinanya hidupku oleh penghinaanmu. Mending kamu traktir saya makan Ketoprak Betawi, Garang Asem Kudus atau Sate Lalak Bangkalan. Kalau itu, keuntungannya sangat terang dunia akhirat, bagimu maupun bagiku.
   
Aku pernah mendapatkan di markasku serombongan tamu teman-teman Pendeta dan mitra Tionghoa pencetus gereja pada pukul 02.00 dinihari. Nanti pagi akan ada program pengobatan bagi jemaat oleh seorang Pendeta dari Kanada di sebuah stadion olahraga Yogya. Acara itu diancam dibubarkan oleh suatu kelompok sahabat lain yang identitasnya Muslim yang cara berpikirnya belum sanggup saya pahami.
   
Dinihari ini juga saya hubungi pihak Kraton Yogya sebagai pengayom seluruh masyarakat DIY, kemudian kukontak pimpinan kelompok yang akan menyerbu Stadion. Nanti pagi hingga siang program pengobatan berlangsung lancar. Dengan ongkos saya disebut “Pembela Kristen”, munafik, musyrik. Ada beberapa orang menyebutku pejuang anti destruksi, penengah siapapun yang bermusuhan, perawat silaturahmi dan toleransi, serta sejumlah rumusan lagi – tapi mereka tidak berani mengungkapkannya kepada publik.
   
Di ketika lain saya kumpulkan lebih 40 ribu massa di halaman Pasar sebuah kota di utara Yogya, kubikinkan Deklarasi Kerjasama Kemanusiaan, dibacakan bersama oleh pemuka banyak sekali golongan yang sebelumnya saling dendam dan bermusuhan. Lebih 30 Laskar akan memperabukan toko-toko dan pusat-pusat perniagaan. Tapi mereka cerdik sehat, sehingga mengemukakan kepadaku rencana itu. Kami berdialog sedemikian rupa. Keputusannya, saya minta mereka tiba lagi menemuiku bersama pemuka kelompok-kelompok yang akan mereka serbu. Kalau mereka mau bunuh-membunuh dan saling memusnahkan, saya persilahkan dimulai di depanku. Tapi jikalau mereka mau bebrayan yang baik sesama manusia, kuajak bikin desain ke hari depan untuk menyusun perjanjian kerjasama saling mengamankan dan menyelamatkan.
   
Perdamaian berlangsung. Sampai hari ini. Kalau situasi bergolak suatu waktu, sebab hidup ini bergelombang, saya harus memilih akan menganggukkan kepala, atau menggeleng, atau tidak menjawab. Kalau saya mengangguk, sanggup jadi “karang abang”. Kalau saya menggeleng, harus dengan hujjah atau argumentasi yang bijaksana dan rasional. Kalau saya tak menjawab, berarti tidak juga menggeleng, berarti sanggup “karang abang” juga.
   
Aku banyak dicampakkan ke dalam situasi konflik menyerupai itu yang tak mungkin kuceritakan satu per satu. Di Tulang Bawang, Mempawah, Rassau Jaya, Sidoarjo, Magetan, Tinambung dan Majene bersama Mara`dia Raja, pecinan Kelapa Gading dan lain-lain, dengan tema pertengkaran yang berbeda-beda. Perang Sampit Dayak-Madura membuatku harus menyisir 4 Kabupaten untuk mengupayakan api tidak melebar. Di sebuah lapangan di Sanggau saya mengumpulkan masyarakat Dayak dan Madura sekaligus.

Sebelumnya saya temui pemuka-pemuka mereka. Kepada Sesepuh pribumi Kalimantan dengan gemetar saya mendekat, merangkulnya dan berbisik: “Aku bertamu ke sini dengan hati persaudaraan, untuk mengetahui apakah bagi saudara-saudaraku di sini saya ini saudara atau musuh. Kalau saya saudara, saya mensyukuri hingga lubuk hati. Kalau saya musuh, saya perlu bersiap-siap, meskipun saya tidak pernah mengejar kemenangan…”
   
Sesepuh yang wajahnya higienis jernih itu membalas bisikanku: “Cak Nun saudara kami semua di sini yang sangat kami cintai…”. Maka program sore harinya di lapangan berlangsung penuh kemesraan. Berikutnya, dari hari ke hari, malam demi malam, setiap individu insan maupun bulat kebersamaan mereka, dilarang berhenti untuk rajin merawat kejernihan pikiran, kebersihan hati, kematangan jiwa dan kebijaksanaan sosial.
   
Sangat tidak simpel berdiri di tengah untuk menjaga organisme maupun organisasi evakuasi dan pengamanan. Khatulistiwa dituduh kutub utara oleh kutub selatan, juga sebaliknya. Berdiri di tengah dimusuhi oleh timur sebab dianggap barat, juga sebaliknya. Di tahun 2002 diagnosis radiologi RS utama Yogya menyatakan usiaku secara teori medis tinggal 3,5 bulan paling lama. Dari tenggorokan hingga perut hitam legam sebab berisi logam-logam keras yang sanggup diurai hanya oleh suhu 1.500 derajat Celsius. Ada unsur yang meledak tak perlu oleh api, cukup hangat saja. Seorang Doktor-dokter tidak percaya itu darahku, sehingga cek darah ulang tiga kali, sebab seharusnya jikalau itu darahku: maka saya lumpuh dan tidak sadar, bukan nyetir kendaraan beroda empat sendiri untuk berobat.
   
Ketika situasi panas di Netherland oleh demam film “Fitna”, hingga Geert Wilders menyerukan pelarangan atas Islam -- bersama KiaiKanjeng selama 9 hari berturut-turut siang malam kami pentas di 19 gereja, masjid dan synagog. Kemudian berkumpul bersama semua pemeluk Agama-agama dan ragam bangsa-bangsa di Juliana Kerk Den Haag untuk deklarasi kerjasama antar mereka.
   
Aku dan KiaiKanjeng dikutuk oleh teman-teman Muslim sebab memasukkan notasi solmisasi yang biasa terdengar di gereja dan synagog ke nomor medley global. Shalawat Global kami disebut Shalawat Gombal. Ternyata lagu, musik, nada, irama dan bunyi, memeluk Agama juga. Maka meskipun lirik yang kami lantunkan “Baina Katifaih” atau “Hubbu Ahmadin”, bagi teman-teman tetap saja itu Lagu Gereja. Aku mencar ilmu ternyata ada Lagu Masjid, ada Lagu Kuil. Batu bata yang digunakan membangun Masjid yaitu kerikil Muslim. Batu Masjid bermusuhan dengan Batu Gereja. Lantai marmer, cat, kaca, AC, karpet dan semua perangkat itu, jikalau digunakan di Masjid, berarti beragama Islam. Kalau digunakan di Synagog berarti AC Yahudi, Karpet Yahudi, Marmer Yahudi dan Kayu Jendela Yahudi.
   
Allah menyatakan “bertasbih kepada-Ku segala apa yang di langit dan bumi”. KiaiKanjeng tidak berani untuk tidak mengajak kayu dan logam gamelan, partikel-partikel udara, suhu hangat dan dingin, nada dan irama, solmisasi atau jiropatmo, susunan suara Qiro’ah Sab’ah, kain baju, tiang-tiang panggung, sound-system, semuanya, untuk “sabbaha lillah”, bertasbih menyatakan cinta dan kepatuhan kepada-Nya.

Bahkan sudah puluhan orang yang publik menyebutnya gila kunaikkan panggung, kupeluk, kubisiki dan secara sedikit demi sedikit menemukan dirinya kembali. Bahkan di panggung Kabupaten Bekasi perempuan 27 tahun yang jam tiga sore tadi telanjang cuilan atas badannya, kami temani dan bungkus pelan-pelan, di penghujung program malamnya pukul 02.00 ia yang secara impulsif merebut mikrofon dari tanganku dan memimpin “Yallah bihaaaa…yallah bihaaa…bihusnil khatimah”. Sebelumnya ia bernyanyi impulsif “Alif difatha a alif didhomma u” dan KiaiKanjeng impulsif mengiringinya menjadi pertunjukan musik seakan-akan mereka sudah sebulan berlatih bersama.
   
Sejumlah sahabat Muslim menyimpulkan saya sudah murtad sebab mau mendapatkan sahabat Kristen, Katolik, Budha, Budha, Hindu, Gatoloco, Darmogandhul dll sebagai cuilan dari silaturahmiku. Tidak ringan menerapkan “lakum dinukum waliyadin” dalam formasi, koordinat dan pemetaan budaya kemanusiaan. Sahabat-sahabatku sangat mencintaiku, sehingga selalu mengkhawatirkanku. Mereka takut jikalau saya masuk sangkar kambing lantas saya menjadi kambing. Mereka cemas saya simpel masuk angin menyerupai mereka.

Kalau saya bernyanyi doremifasol saya menjadi Nasrani. Hanya saja sahabat-sahabat kurang teliti sehingga tidak tahu bahwa lagu “Khotmil Qur’an” atau “Shalawat Nariyah” 100% bersusunan nada doremifasol alias solmisasi Barat yang juga digunakan di Gereja. Bahkan shalawat popular berabad-abad di Pesantren dan Ummat Islam “Thalama asyqu gharami” lagunya persis “Uskudara” tradisi Yahudi. Orang Islam mengaku itu lagu Islam. Orang Israel mengaku itu lagu Yahudi. Orang Turki mengaku itu aslinya lagu Turki.

Tak apa. Tanah dan bumi ini milik kita semua. Atau tepatnya, milik Allah yang di-HGB-kan kepada para Khalifah-Nya. Pastur beli kain lurik di Pasar Beringhardjo digunakan memimpin Misa, tidak membuatnya menjadi pindah ke Kejawen. Umpama saya pinjam baju Pendeta kupakai jumatan, fiqih Islam tidak menyimpulkan saya berubah Kristen. Allah menganugerahkan mangga, para pemeluk keyakinan yang berbeda-beda gentian menggunakan pisau untuk menguliti dan menikmatinya. Pisau dan musik, hanyalah alat.

Aku menyayangi semua makhluk Allah, sehingga saya memafhumi pilihan pakaian mereka masing-masing. Pilihan cara berpikir, pilihan keyakinan, pilihan Presiden dan Lurah, serta apapun. Hal-hal yang berkait eksklusif dengan aqidah ketuhanan, bukan hakku untuk mencampuri, itu yaitu transaksi perniagaan eksklusif mereka dengan Tuhan. Maka bahkan tidaklah akan pernah sanggup mengurangi cintaku kepada semua makhluk Allah ketika saya disodori hal-hal serperti berikut ini dari medsos yang tersebar ke seluruh dunia:

“Allah itu apa sih? Batukah atau binatang? Islam Agama tai. Kok guwa gak pernah lihat Allah ya. Nabi cap itil”. “Waah anjingnya keren ya! Pakai sorban. Gak usang lagi anjingnya pakai hijab!”. “Apa elu gak salah milih Tuhan kok gak ada wujudnya? Apa elu gila kentut aja lu anggap Tuhan”. “Hey islam kontol….jangan main2 ama gue ya…”. “Kabah sangkar babi! Allah swt anjingggggggggg!!”. “Alangkah lucunya Islam. Lu nyembah apaan nungging2 kagak terang kayak orang lagi ngentot doggy, kagak berkhasiat goblog!”

Dengan segala kebodohan kumohon ucapan-ucapan itu ditujukan atau dialihkan kepadaku. “Inni kuntu minadhdholimin”. Aku tergolong orang dholim. Tepat untuk menjadi target kata-kata menyerupai itu. Please jangan kepada Islam. Tak perlu kujelaskan, toh kamu tak percaya. Walhasil, jangan hina Islam. Syukur juga tak kamu musuhi Ummat Islam, terutama yang di bawah-bawah. Sudahlah. Hina saya saja. Santetlah tenunglah aku. Bahkan bunuh aku. Cuma jikalau saya mati, engkau kehilangan target untuk kamu hina. *

Emha Ainun Nadjib
28 Juli 2017
#Khasanah

Subscribe to receive free email updates:

ADS