Makin banyak penduduk bumi yang takut masuk Indonesia. Sebab di pandangan mereka Indonesia yang ramah telah berubah keras, Islamnya dikuasai kaum radikal. Saya berpikir, kayaknya Nabi Muhammad Saw harus turun tangan pribadi ini. Masalahnya, bagaimana caranya untuk memungkinkan itu?
Saya ini diakui sebagai Muslim atau belum, sedang saya tunggu dan lacak petunjuk (hidayah) berupa gejala (ayat) dari satu-satunya pihak yang tahu siapa dan bagaimana sesungguhnya saya, baik yang jahr (tampak) maupun yang sir (tersembunyi). Kepada “pihak” inilah saya patuh, ia yang memperjalankan hidup saya, alasannya ialah ia pula yang berhak atas mati saya sewaktu-waktu.
Andaikan Tuhan mengakui bahwa saya Muslim yang tidak terlalu buruk, sehingga tidak mengecewakan boleh mendekat kepada-Nya, maka saya akan nekad memohon biar Allah berkenan menghadirkan kembali Nabi Muhammad Saw, kekasih utamaNya, ke bumi. Satu dua bulan saja, atau seminggu tidak mengecewakan lah. Kalau tidak ya beberapa jam saja cukup. “Wa kaana dzalika ‘alallahi yasiira”, hal itu gampang belaka bagi-Nya. Atas apapun saja Ia berkuasa.
Tapi sebenarnya, bukan alasannya ialah dunia semakin takut kepada radikalisme Indonesia. Saya tidak sependapat. Sejauh ini Indonesia berjalan baik-baik saja segala sesuatunya. Indonesia segar bugar sehat wal afiat: alasannya ialah punya Pancasila, ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, Bhinna-nya Tunggal, bangsanya adil dan beradab, serta sudah mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kepentingan saya ialah permasalahan dan penyakit dunia itu sendiri. Kalau Muhammad turun tangan, dunia dilimpahi syafaat dan solusi oleh hak prerogatifnya di hadapan Allah, untuk memungkinkan segala sesuatu yang tidak mungkin.
Ternyata pikiran saya itu mengandung tiga kesalahan besar. Pertama, dunia tidak merasa sedang sakit atau ditimpa dilema besar. Kedua, dunia beropini justru Muhammad ialah biangnya permasalahan dunia. Dan Ketiga, Tuhan menyatakan: ”Dan tinggalkanlah orang-orang yang mengakibatkan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah mereka dengan Al-Quran itu biar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, alasannya ialah perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. Dan kalau ia menebus dengan segala macam tebusan pun, pasti tidak akan diterima itu daripadanya..”
Ternyata insan di masa 21 ini sudah melaksanakan sesuatu pada tingkat yang hanya syafaat Allah sendiri yang bisa menolong. Syafaat Rasul Muhammad tidak cukup. Tapi saya berspekulasi: yang penting Rasulullah hadir saja. Cukup tiba saja sebagai insan dengan kelembutannya, kesantunan dan kebijaksanaannya.
Ah, tapi apa efektif. Justru dunia beropini bahwa kalau ada makhluk yang lembut, santun dan bijaksana, itu pasti bukan Muhammad. Dunia mencatat bahwa Muhammad ialah Kaisar Terorisme, Panglima Kekejaman, Dedengkot Radikalisme dan Biang Intoleransi. Itu yang mengakibatkan dunia sangat senang kalau Islam hancur dan lenyap dari bumi. Banyak sobat yang mengumumkan keyakinannya bahwa Islam berada di tepi jurang kehancuran. Tinggal selangkah lagi untuk benar-benar hancur. Tanda dan buktinya sudah berlimpah-limpah.
Oke kalau begitu saya tawar opsi saya. Cukup Allah menampakkan wajah Muhammad di layar langit, bergeser-geser di sejumlah wilayah angkasa. Wajahnya, aura cintanya, sebaran kasih sayangnya, magnet pengayoman yang menembus kalbu setiap orang. Cukup beberapa menit saja di beberapa region di bulat bumi.
Hahaha. Lebai-lah. Dunia tak akan menyimpulkan bahwa itu wajah Muhammad. Sepengetahuan mereka Muhammad itu airmukanya garang, matanya melotot, dan mungkin giginya bersiung menyerupai serigala. Kan juga tidak ada yang tahu persis wajah Adam, Ibrahim, Daud, Sulaiman, Musa atau Isa. Apalagi terang Muhammad melarang wajahnya digambar. Kalau muncul wajah lembut di langit, setiap orang akan meyakini bahwa itu ialah wajah tokohnya masing-masing. Mungkin Satrio Piningit, Ratu Adil, atau siapapun.
Sebagian orang Islam mungkin berkesimpulan itu ialah wajah Imam Mahdi. Kan setahu mereka Muhammad sudah wafat di Madinah pada 8 Juni 632-M. Sedangkan pemahaman insan masa 21 wacana kehidupan dan kematian, juga wacana ruang dan waktu – sangat teknis, linier dan datar. Muhammad diyakini sudah tidak ada jasadnya dan tak lagi berwajah. Sudah men-tanah.
Baiklah. Saya ubah permohonan: Baginda Nabi Khidlir saja yang datang, tapi ke Indonesia, untuk bikin a big shocking kepada dunia. Mengingat tanah air Indonesia ialah gumpalan tanah sorga yang jatuh ke bumi. Juga insan dan bangsa Indonesia dianugerahi Allah ‘fadhilah’ sangat khusus, di mana kadar potensialitas ke-Malaikat-annya serta ke-Idajil-annya sangat tinggi dan seimbang. Kalau Khidlir yang datang, agak lebih rasional, alasannya ialah hingga dikala ini belum pernah ada isu mengenai kewafatan beliau. Juga ia mestinya bisa menambah hiburan dan sensasi yang kreatif inovatif.
Memang mungkin tak seorangpun yang akan mengetahui bahwa yang tiba secara ajaib itu ialah Baginda Khidlir. Sebab tidak ada database yang memadai wacana beliau. Baginda Khidlir ialah ‘pendekar bayangan’ yang hampir selalu berkerudung. Wilayah wajahnya selalu remang-remang. Tidak pernah ada kabar apakah Nabi Musa pernah benar-benar terang melihat wajahnya. Bahkan tatkala Nabi Musa dinilai tidak lulus mengikuti pelajaran, dan Baginda Khidlir mengucapkan “haadza firooqun baini wa bainak”, ini ialah dikala perpisahan antara saya denganmu – tiba-tiba saja sosok ia sudah sirna dari pandangan Nabi Musa.
Tetapi, interupsi sebentar: Nabi Besar, istimewa, kalimullah, juru bicara Allah, ulul ‘azmi, tidak lulus di kelas Khidlir? Ya. Ada tiga tindakan Guru Khidlir yang dipertanyakan dan diprotes oleh Musa AS, dan itu membuatnya tidak lulus. Sebab perjanjiannya ialah Khidlir bersedia menjadi Guru Musa dengan syarat ia dihentikan bertanya. Tentu ini bertentangan dengan prinsip pembelajaran modern di mana kemampuan bertanya justru merupakan busur utama kreativitas ilmu.
Pertama mereka berdua menumpang kapal, tiba-tiba Khidlir merusak dinding kapal itu sehingga bocor dan oleng. Kedua Khidlir mencekik leher seorang anak kecil sehingga mati. Ketiga Khidlir memperbaiki dan menegakkan pagar di rumah seseorang dan tidak meminta upah atas pekerjaannya itu. Merusak kapal itu kekinian, alasannya ialah dikala itu juga Khidlir bermaksud menyelamatkan kapal niaga itu dari perampokan yang menjadi tidak tertarik alasannya ialah sudah rusak. Mencekik anak kecil itu masa depan, alasannya ialah alasan anak itu dibunuh ialah kelak ia akan membuatkan radikalisme, fundamentalisme dan terorisme alasannya ialah kehebatannya. Pagar yang ditegakkan ialah masa silam, alasannya ialah di bawah pagar itu ada simpanan harta, yang dilindungi oleh Khidlir biar generasi muda di wilayah itu kelak bisa mendayagunakannya.
Terserah apakah Nabi Musa pernah berpikir wacana administrasi siklus masa kini-masa depan-masa silam, masa kini-masa depan-masa silam. Tapi kalau ia Khidlir hadir ke Indonesia, pamrih saya ialah privilege dari Allah kepada beliau. Tidak seorang Nabi atau Rasul pun yang oleh Allah diberi hak untuk berhak merusak kapal dan membunuh anak kecil, dengan motivasi yang merupakan belakang layar berdua Allah dan Baginda Khidlir.
Saya pernah memotret jejak telapak tangan Baginda Khidlir di salah satu tiang bangunan raksasa Hagia Sophia atau Aya Sophia, Istanbul, Turki, yang sebelumnya ialah Gereja. Khidlir dengan tangannya dicengkeramkan pada tiang bangunan yang ketika itu difungsikan sebagai Masjid, memutar seluruh bangunan itu hingga menghadap Ka’bah di Mekah. Foto itu saya simpan menyerupai jimat, alasannya ialah di gambar foto itu tidak ada ukiran telapak tangan Khidlir, melainkan gambar Gong atau Bonang kumuh berwarna kuning kecoklat-coklatan menyerupai bonang Kiai Kanjeng.
Saya tidak muluk-muluk. Tak perlu Khidlir menukar Istana Netanyahu dengan Istana Erdogan, menukar Gedung Putih dengan Istana Kremlin. Atau terbang meniup pucuk Gunung Merbabu supaya keluar asapnya, biar orang tahu mer-Babu-Hawa dan Ibu Pertiwi tetap hidup. Sekalian dimunculkan Gunung gres di tempat Kebumen, yang sudah usang menunggu-nunggu. Sederhana saja yang saya inginkan. Sebagaimana Hagia Sophia, Tuan Khidlir mohon berkenan memutar bangunan Istana Negara ke arah Utara.*
Emha Ainun Nadjib
26 Juli 2017
#Khasanah