ADS

Pilgub, Pilpres, Pilnab, Piltu


(Suatu hari mudah-mudahan berguna)

Ada orang Madura sakit parah butuh donor darah, tapi kemudian menolak setelah dikasih tahu siapa yang menyumbang darah. “Dak mau saya. Dia pernah mencuri. Kalau saya dimasuki darah dia, saya bisa jadi pencuri. Dak mau saya…”

Kebetulan hingga situasi darurat, tak ada darah lain yang cocok. Kalau dokter memaksanya, ia berontak serius. Sampai hasilnya meninggal. Ia dipanggil Tuhan dan meninggalkan pertanyaan: ini kejadian kebodohan ataukah keteguhan?

Sebagaimana pada kejadian rutin lainnya dalam hidup manusia, selalu diiringi pertanyaan: Apa beda antara hemat dengan pelit. Istiqamah dengan keras kepala. Konsisten dengan jumud. Boros dengan pemurah. Introvert atau kontemplatif. Setia atau konservatif. Lampu kuning di perempatan jalan itu masih atau sudah. Uang seratus ribu di saku itu hanya ataukah alhamdulillah.

Itulah Ibu Ilmu. Itulah titik silang nilai yang melahirkan ideologi. Itulah asal-usul keselamatan dan kehancuran. Itulah mata air konsiderasi kejayaan atau keterpurukan sebuah Negara dan bangsa. Itulah persendian di antara sorga dengan neraka.

Humor-humor klasik Madura bahu-membahu sudah selalu menggiring mesin kebijaksanaan kita menuju persendian itu. Jual salak diprotes pembelinya: “Salak seupil-upil kok harganya mahal amat”. Si penjual eksklusif menjawab: “Orangnya manis kok upilnya sak salak-salak”.

Katanya isi semangka merah dan rasanya manis istimewa, kok ketika terjatuh ternyata isinya kuning. Ketika diprotes si hero menjawab: “Orang saja jikalau kecelakaan pucat mukanya, kok semangka disuruh tidak pucat”.

Walhasil jangan berdebat melawan orang Madura. Kalau dagangan kurang laris hingga hampir Maghrib, Tuhan diprotes: “Katanya Rahman Rahim, mana buktinya”. Berperahu cari ikan tak dapat-dapat hingga hampir senja, ia bertolak pinggang menghadap ke langit: “Buktikan pengasih penyayang Sampeyan. Kasihlah ikan lima saja. Dua untuk istri dan saya, tiga untuk belum dewasa saya”.

Ketika Malaikat disuruh Tuhan biar menyuruh lima ikan meloncat dari dalam air ke perahunya, nelayan Madura kita masih marah: “Kok lima beneran. Ya sepuluh lah. Rahmannya lima, Rahimnya lima”. Akhirnya Malaikat, atas anggukan kepala Tuhan, menyuruh ikan sebanyak-banyaknya untuk berlompatan memenuhi perahunya.

Dengan agak malu-malu ia menyeret bahtera penuh ikan itu ke pantai. Tapi sesampainya di pantai ia melihat asap di arah kampungnya. Kemudian ada yang berlari-lari tiba memberitahukan bahwa rumah nelayan kita itu yang terbakar. Ia eksklusif bertolak pinggang lagi dan memprotes: “Tuhan, kenapa dilema di bahari dibawa-bawa ke darat!”.

Kesimpulannya, jangan lawan orang Madura. Pelajari sejarahnya dengan saksama dan teliti. Sumpah Palapa Gadjah Mada itu gagasan dari Madura. Aslinya Lapa-lapa, diucapkan Palapa. Mereka jualan sate hingga Kanada, di sana mereka bikin kota Toronto. Aslinya Ronto-ronto.

Tetapi di antara ratusan humor serius budaya dan antropologi insan Madura, salah satu yang saya nilai jenius ialah tukang becak di perempatan jalan. Sejak seratus meter sebelum perempatan, yang jalannya agak menanjak, ia menyorong becaknya sambil setengah berlari. Setelah lancar dan agak ringan, lajunya terhalang oleh lampu merah.

Tentu ia tidak mau menyia-nyiakan perjuangannya. Maka ia laju saja menerjang batas, melintas perempatan jalan. Sejumlah kendaraan dari arah silang mendadak harus ngerem dengan hati geram. Pak Polisi melompat berlari dan berteriak: “Guoooblog! Sudah tahu lampu merah kok terus saja. Dasar tukang becak goblog!”.

Pahlawan Madura itu sedikit menoleh ke arah Pak Polisi sambil tersenyum. Sambil meneruskan genjot becak ia nyeletuk: “Kalau dak goblog dak mbecak saya Pak…”
  
Itu pernyataan dari posisi mental, psikologis, atau kebijaksanaan berpikir yang bagaimana? Apakah itu fatalisme? Kepasrahan hidup? Biso rumongso alias tahu diri? Kemandegan perjuangan? Atau kearifan? Atau rasio terhadap batas? Semacam nahi munkar atas diri sendiri? Prinsip puasa? Atau ketidakberdayaan sosial?

Kita tahu dalam dinamika kehidupan, goblog dan pinter itu animasi, halusinasi atau mungkin sejatinya tidak ada. Goblog ialah kearifan yang menyamar. Pinter ialah kebodohan yang bersolek. Yang bicara “kalau dak goblog dak becak” mungkin sekali bukan si tukang becak. Melainkan ‘seseorang’ atau suatu arus energi di diam-diam yang bermaksud mengkritik cara berpikir mainstream.

Mainstream cara pandang budaya umum dan terkenal pakai denah nilai: pekerjaan tukang becak itu rendah. Kerendahan sosial dihasilkan oleh kondisi tidak terdidik. Keterdidikan ialah bersekolah. Lulus sekolah itu prestasi, kepintaran dan ketinggian derajat sosial. Makan sekolahan dan kepandaian menghasilkan kekayaan atau kekuasaan. Berkuasa itu menang. Menang itu benar. Benar itu baik. Baik itu masuk sorga.

Tukang becak kita itu tamatan SD. Teman sekampungnya keluar dari sekolah ketika kelas empat. Sekarang justru kaya raya dagang besi tua. Konglomerat regional. Istrinya empat. Ikut pelatihan peningkatan daya seks, tapi keperluannya terbalik. Ia justru mencari metode bagaimana menurunkan daya seksnya, atau meredakan api syahwatnya. “Saya dak tega sama istri-istri saya. Saya lelah cari istri muda lagi”.

Siapa yang menentukan tamatan SD itu jadi tukang becak dan jebolan kelas 4 SD itu jadi konglomerat? Itu pilihan dan keputusan manusia, ataukah skrip Lauhul Mahfudh? Siapa yang menentukan seekor semut dibikin lebih besar tubuhnya dibanding ratusan lainnya sehingga menjadi Ratu Semut? Siapa yang mengambil keputusan ada rusa yang bisa makan dedaunan, dan ada harimau yang hanya bisa makan rusa atau daging apapun lainnya? Sehingga Rusa hidup sejahtera, sementara macan akan mati pelan-pelan seirama dengan semakin melemahnya kemampuannya untuk berburu hewan lain?

Manusia mengambil harimau menjadi lambang keperkasaan dan rusa ialah makhluk lemah. Manusia lain melihat rusa ialah teladan kenikmatan dan kesejahteraan, alasannya ialah rumput dan daun ada di mana-mana. Sementara macan dan singa ialah simbol kesengsaraan dan mati ngenes. Siapa yang menentukan ini jadi ayam, itu jadi burung, yang sana jadi gajah, lainnya jadi Jin, lainnya lagi jadi Malaikat, dan yang sini di-casting jadi manusia.

Manusia lainnya bikin Pemilu untuk menentukan Bupati, Gubernur, Wakil Rakyat atau Presiden. Kita bangkit pasar kapitalisasi kekuasaan yang kita sebut Demokrasi. Kita dirikan toko-toko besar perniagaan jabatan, tawar menawar otoritas, timbangan yang kita atur kemiringannya menurut hasil transaksi materiil.

Kita selenggarakan lelang jabatan, kemudian kita tayangkan dengan judul Pilbup, Pilgub atau Pilpres. Kita dirikan perusahaan raksasa, kita kasih brand Negara. Di dalamnya masing-masing petugas perusahaan bikin perusahaan sendiri-sendiri, berkoloni-koloni, berkelompok-kelompok, atau sendiri kecil-kecilan menggerogoti dinding perusahaan besar.

Seluruh perniagaan itu menghasilkan komoditas unggul hasil multi-transaksi keuangan. Komoditas itu kita perkenalkan sebagai pemimpin. Barang dagangan itu kita tanda tangani berjulukan pemimpin lokal, pemimpin regional dan pemimpin nasional. Dan para pemimpin aneka macam level itu juga tidak sudi hanya menjadi komoditas, mereka sendiri pedagang.

Diumumkan bahwa itu menurut kredibilitas, tapi itu karangan. Atau integritas, tapi pemolesan dan pencitraan. Disebut elektabilitas maksudnya ialah tingkat ketertipuan publik oleh iklan-iklan pencitraan. Diumumkan hal ekspertasi, maksudnya ialah selembar kertas ijazah yang bisa dibeli dengan akal-akalan kuliah enam bulan sekali.

Hasilnya ialah kancil menjadi raja rimba. Tokek dan kadal  ‘megang’ region ini dan itu. Monyet dimake-up diumumkan sebagai public figure. Kambing dikostumi dilantik menjadi idola. Akan ada hari di mana tukang becak Madura akan menjadi Guru Besar: orang berguru untuk tahu diri. Kita pernah dipimpin oleh Sriwijaya, Ratu Shima, Gadjah Mada. Sekarang burung Cipret kita lantik sebagai Garuda.

Pada saatnya nanti dengan Demokrasi kita bikin Pilnab, pemilihan Nabi. Kita selenggarakan Piltu, pemilihan Tuhan. Jangan biarkan ada siapapun berperan di Negeri ini tanpa melalui prosedur hak pilih rakyat. Kapan ada pemilu yang menghasilkan Muhammad ialah Nabi, itu pun terakhir, tak boleh ada Nabi sesudahnya? Kapan ada Keputusan MPR atau Perppu yang menyatakan dihentikan ada Nabi lagi setelah Muhammad?

Siapa dulu yang menerbitkan Surat Keputusan bahwa Allah itu tuhan? Siapa yang melatik Jibril menjadi Menko Malaikat? Itu Iblis punya visa apa nggak kok seenaknya masuk Indonesia dan membikin kerusakan dari Sabang hingga Merauke? Kita perlu sidang nasional “hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan” di Senayan atau Palangka Raya atau Sampit atau mungkin malah di Sumenep, untuk memproses dan mengambil keputusan yang memastikan – contohnya – apakah yang dimaksud Tuhan Yang Maha Esa itu Allah atau siapa?

Tuhan harus patuh kepada konstitusi Negara kita. Nabi dan Rasul dihentikan melanggar aturan perundang-undangan Negara. Agama wajib beradaptasi terhadap Pancasila. NKRI harga mati. Negara jangan hingga kalah lawan Tuhan.
         
Juga harus adil pembagian rumah-rumah dinas para Malaikat dan Iblis beserta perwira-perwiranya di hunian hasil reklamasi di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Bahkan sesegera mungkin harus disusun peraturan perihal penempatan hunian kaum Jin, masyarakat Banujan, hantu-hantu, roh-roh mukswa dari abad-abad sebelum Masehi, spirit-spirit liar dari masa silam, termasuk tamu-tamu sporadis dari alam Malakut dan Jabarut.

Itu sangat penting. Agar roh-roh anarkhis itu tidak seenaknya masuk Istana dan merusak jiwa penghuninya. Menyusup masuk gedung-gedung Pemerintahan, rumah-rumah dinas, bahkan subversi di Masjid, Gereja dan rumah-rumah ibadah lainnya.
Para penggerak berteriak: “Hentikan aturan rimba, di mana yang menang ialah yang berpengaruh alasannya ialah menguasai modal”. Maksudnya mulia, tapi salah kata: rimba ialah organisme terindah indah dan paling solid karya Tuhan Yang Maha Esa. Yang kita nantikan bersama justru ialah berlakunya kembali aturan rimba.*


 Emha Ainun Nadjib
30 Juli 2017
#Khasanah

Subscribe to receive free email updates:

ADS