Sebelum Allah meninggalkanku, harus tulus dan tega hatiku untuk bersegera meninggalkan segala sesuatu pada kehidupan insan yang membuat Allah meninggalkanku. Sejauh ini semua “pakaian sosial” sudah kutanggalkan dan kutinggalkan. Dan kini ada yang sesuatu yang lain dan lebih substansial dari itu yang harus kutinggalkan.
Selalu saya ditimpa rasa ngeri setiap Khathib Jumatan mengucapkan “Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah tak ada yang bisa menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah tak ada yang bisa memberinya petunjuk”.
Memang sama sekali tidaklah gampang untuk peka dan cerdas mengetahui apakah saya sedang memperoleh petunjuk-Nya. Dan selama mengalami kesulitan untuk tahu apakah mendapat petunjuk-Nya, rasa lain yang muncul dan menyiksa adalah: jangan-jangan Allah sedang menyesatkanku sebab perbuatanku sendiri.
Bahkan bisikan-bisikan dari wilayah yang lebih luas mengusikku: Dalam hal apa mereka, yang saya hidup di tengah-tengahnya – yakni ummat, masyarakat, warganegara, penduduk bumi – sedang dihidayahi ataukah sedang disesatkan? Bagaimana memastikan dipilihnya seorang pemimpin Negara dengan jajaran pemerintahannya, itu merupakan petunjuk dari Allah, ataukah Allah sedang menyesatkan? Allah bukan sedang menguji, tapi menghukum. Allah bukan sedang sekadar murka, tetapi meng-adzab?
Ada empat opsi tindakan Tuhan kepada manusia, menurut fakta sikap insan itu sendiri. Pertama, hidayah: memberi petunjuk. Kedua, istidraj: mbombong, nglulu. Ketiga, idhlal: menyesatkan. Dan keempat, tark: meninggalkan.
Hal hidayah dan penyesatan. ”Engkau tidak bisa memberi petunjuk kepada siapapun saja meskipun engkau mencintainya, Allah yang memberi petunjuk kepada siapapun yang dikehendaki-Nya”.
Hal istidraj. Rasulullah Muhammad saw bersabda: “Apabila engkau melihat Allah menawarkan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal beliau suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka. Lalu Rasulullah membaca ayat AlQur`an: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka dikala itu mereka termenung berputus asa”.
Hal tark. Memang tidak mungkin Tuhan meninggalkan ciptaan-Nya. Tidak mungkin Tuhan meninggalkan kita. Dalam arti tidak ada sedetik waktu, sepetak ruang, setiupan angin, sesapuan peristiwa, serta apapun di dalam diri dan di luar insan – yang terlepas dari kehadiran dan keterlibatan Allah. Tetapi kuperhatikan pernyataan Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu AlQur`an dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu sesungguhnya tidak menelan ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari final zaman dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih”.
Allah tidak akan berbicara kepada mereka. Allah tidak akan berbicara kepadaku. Allah gak wawuh, njuthak, nyiwak kepada aku. Alangkah mengerikannya. Itu lebih mendalam dan njarem daripada ditinggalkan.
Aku didera oleh ribuan pertanyaan dari dan kepada diriku sendiri, dan kujawab sendiri, sebab tak ada insan lain bersamaku. Andaikan pertanyaan itu berasal dari manusia, maka saya tidak akan punya beban atasnya. Sebab saya tidak sedang mengerjakan ujian yang disodorkan oleh manusia, yang mengakibatkan saya harus bertanggung jawab kepada mereka. Pun saya tidak terikat oleh kebanggaan maupun cercaan manusia. Tidak bergantung pada apakah insan mempercayaiku atau tidak.
Aku tidak punya tanggung jawab apa-apa kepada manusia, sebab dua hal. Pertama, saya tidak pernah mengancam nyawa mereka, tidak pernah melecehkan martabat atau derajat mereka, dan saya tidak pernah mencuri harta mereka, bahkan tak pernah bersaing atau berebut dunia dengan mereka. Aku tidak pernah berjuang menempuh karier, membangun nama baik, mendaki jabatan, menghimpun kekayaan, membina karier, memimpikan kemasyhuran atau mengejar status.
Bahkan saya tak pernah menulis status di berjenis-jenis media atau apapun yang saya tidak pernah punya akunnya. Aku hanya menjalani keyakinanku di lingkup yang sangat kubatasi, namun banyak yang mencurinya, memotong-motongnya, memanipulasinya, menggeser substansinya, memecah keutuhannya.
Kedua, insan bukan yang menciptakanku, bukan yang secara hakiki menghamparkan rejeki dan kesejahteraan bagi hidupku. Kedua hal itu membawaku pada posisi tidak mempertanggungjawabkan apa-apa kepada mereka. Yang kulakukan sepanjang hidupku yakni menyayangi mereka dan beramal semampuku untuk keperluan mereka.
Manusia yakni saudara-saudaraku di bumi. Dan bumi yakni kawasan transitku di tengah perjalanan. Bumi bukan kampung halaman permanenku. Aku bukan penduduk tetap di bumi. Bumi bukan terminal terakhir. Tidak ada perlunya ngos-ngosan berebut sesuatu di area transit. Aku hanya menabung atau nyicil sejumlah hal yang kompatibel dengan “kholidina fiha” serta yang sefrekuensi dengan “abada” rangsum dari Maha Pencipta.
Pasti saya butuh biaya untuk beli kuliner dan minuman serta membelikan tiket anak-anakku semoga bisa menaiki kereta kehidupan. Tetapi saya tidak hidup demi makanan, minuman dan tiket kereta. Bahkan dari sepuluh bungkus kuliner dan sepuluh gelas minuman, tujuh di antaranya kuperoleh bisa dari atas, dari pendaman tanah, atau dari anugerah yang Tuhan menghijabinya. Sedangkan yang tiga, berasal dari perniagaan sementara dengan kiri kanan. Tiket kereta juga tidak harus beli di loket, sebab tidak tidak mungkin bisa duduk di dingklik kereta tanpa tiket, dan kondektur lewat saja tanpa menoleh atau memeriksa.
Kehidupan ini berisi Satu kepastian dan Sembilan kemungkinan. Engkau bisa duduk tanpa kursi. Engkau bisa terbang tanpa sayap. Bisa sehat dengan justru sedikit makan. Bisa sembuh tanpa obat. Bisa menikmati keindahan tanpa nyanyian. Bisa kurang tidur tanpa ngantuk. Bisa menjalani seribu dengan sepuluh. Bisa mengucapkan sesuatu tanpa engkau sendiri yang mengucapkannya. Bisa bermain gitar tanpa engkau sendiri yang memetiknya. Bisa tujuh, delapan atau sembilan, sambil tetap menghormati satu.
Aku tidak perlu curiga kepada diriku sendiri, sebab tak pernah ada pertengkaran perihal keyakinan dan kelakuan antara diriku dengan aku. Tanya jawab yang berlangsung di dalam diriku bukanlah perihal diriku dan keyakinanku, melainkan perihal gambar besar lukisan Allah yang kuteliti titik-titik koordinatnya. Aku tidak perlu meneliti kebenaran, mengidentifikasi kebaikan atau meraba-raba keindahan.
Sebab semenjak saya janin hingga bayi hingga bau tanah renta kini ini, saya tak pernah berjuang untuk menentukan sesuatu. Hidupku hanya satu pilihan di rentang antara Al-Awwal wal Akhir. Pengetahuanku, ilmuku, pemahaman dan sikapku, tidak pernah berkembang atau berubah. Semua yang kajalani hingga hari ini yakni klausul-klausul kontrak yang sudah kepelajari dan kemengerti semenjak sebelum saya lahir di permukaan bumi.
Ketika ada yang mengadu-domba antara kebenaranku dengan kebenaran orang lain, kutarik dan kusembunyikan kebenaranku, semoga yang beradu denganku mencicipi seperti menang atasku. Aku bekicot yang jikalau disentuh, akan menarik sungutnya bersembunyi dan menyatu dengan daging kepalanya, sehingga orang melihat bekicot itu tak bersungut. Ketika ada yang berlomba lari denganku, saya hentikan langkahku. Ketika ada yang menyaingiku dengan memoles warna warni gemerlap di rumahnya, seluruh rumahku saya cat dengan warna hitam, hingga jendela, pintu, tembok hingga lantai.
Ketika saya berdiri di podium di hadapan massa, tiba-tiba ada yang mengungkapkan bahwa saya berdiri di situ sebab mencari dunia, maka detik itu juga saya menghentikan bicaraku, saya turun, keluar ruangan dan mencari taksi atau ojek untuk pulang menemui anak istriku. Ketika saya nyetir kendaraan beroda empat dan ada yang menggerundal bahwa kendaraan beroda empat yang kunaiki ini tunjangan pejabat ini atau itu, saya turun, kuajak orang itu ke tepi jalan, saya beli bensin, dan minta ia menyaksikan kubakar kendaraan beroda empat itu. Kalau entah sebab apa ada orang mengkultuskanku, maka di hadapannya saya mencopot celanaku. Kalau ada yang mengkiyaikanku, maka kulontarkan majemuk pisuhan atau makian yang membuatnya batal menganggapku kiyai. Kalau ada yang berani-berani bikin kumpulan untuk memania-maniakanku, kuancam “tak tonyo raimu!”.
Kalau saya berada di antara ribuan atau puluhan ribu orang yang berhimpun untuk bertemu denganku, dan di antara mereka ada yang menyampaikan bahwa saya punya jadwal politik, membangun pencitraan dan menghimpun massa – maka kulempar peciku, kucopot bajuku, turun dari panggung dan pamit pulang. Barangsiapa menginginkan dunia, maka telanlah dunia ini, krakotilah seluruh pepohonan di hutan, reguklah air tujuh samudera, ambil semuanya tanpa sisa. Tak kan kumohon kepadamu sehelai daun, sebiji ciplukan atau sejumput tanah untuk engkau sisakan bagiku.
Aku sangat menikmati gagasan dan tindakan untuk menguji diriku. Tidak ada urusannya dengan lulus atau tidak lulus di tengah manusia. Aku tidak mau dimain-mainkan oleh dunia, maka acara yang paling efektif dan nikmat yakni memain-mainkan dunia di dalam diriku. Aku sangat menyayangi dan habis-habisan melayani keperluan siapa saja di luar diriku. Tetapi saya bermain petak umpet di dalam diriku sendiri.
Ada zaman di mana saya disuruh menjadi ban serep sebuah truk besar dan populer secara nasional. Karena saya ban maka sering dipompa, sehingga ban aslinya cemburu kepadaku. Segeralah ban serep ini diganti. Kalau tidak mungkin ia akan melepaskan diri.
Di zaman lain saya diperintahkan menjadi tukang kipas di warung sate. Arang dan api kukipas-kipas supaya satenya matang. Para pembeli menyebut profesiku yakni tukang kipas-kipas. Aku mendorong semoga penjual sate itu membeli kompresor. Dan saya sebagai kipas siap dibuang ke tepi jalan.
Zaman yang berbeda lagi mentakdirkanku menjadi pemandu para petani untuk flora organik. Tapi saya tak disukai oleh para pemuka desa sebab mereka dagang pupuk anorganik. Aku harus melengkapkan pengetahuan dan kemampuan mereka bertani organik, kemudian harus segera pergi semoga tidak mengganggu harmoni antara para petani itu dengan pemimpin-pemimpinnya.
Aku berbisik kepada seseorang yang berpuluh tahun menjadi sahabatku: “Mantaplah menginjakku, sebab saya sendalmu. Kudorong Bapakmu semoga segera membelikanmu sepatu. Aku akan membuang diriku di sungai itu, semoga menjadi cuilan sampah yang mengalir bersama airnya”. *
Emha Ainun Nadjib.
29 Juli 2017
#Khasanah