Ini goresan pena tahadduts binni’mah, menyebarkan kenikmatan dari Tuhan. Kenapa seseorang membungkukkan tubuh mencium tangan seseorang lainnya? Siapa mereka? Di mana? Kapan? Sejak berabad-abad tradisi cium tangan itu berlangsung di kalangan Kaum Muslimin tradisional, di desa-desa, pondok dan pesantren. Beberapa puluh tahun terakhir ini cium tangan menjadi tradisi gres di perkotaan Indonesia.
Meskipun lantaran Indonesia menempuh “sejarah adopsi” dari nilai-nilai Barat sehingga pada wilayah mainstream tidak begitu membuka pintu untuk “sejarah kontinuasi”, di mana nilai-nilai otentik dari kakek nenek moyang ditransformasi secara terukur – tetapi tradisi cium tangan menembus ke perkotaan dan budaya metropolitan.
Pertemuan Presiden dengan tokoh-tokoh masyarakat memuat adegan cium tangan. Juga cipika-cipiki cium dua pipi, yang ditransfer dari bentuk sopan santun internasional, baik dari Barat maupun Arab. Tradisi cium tangan meresap ibarat serbuk air yang melembabkan tembok, atau suhu udara yang menghangatkan tanpa kelihatan mata. Terkadang berlangsung ibarat radioterapi yang efektif mengubah suatu keadaan. Seorang mertua sangat membenci menantunya bertahun-tahun lantaran sejumlah sebab, dalam beberapa detik kebenciannya menjelma kasih sayang sehabis sang menantu mencium tangannya. Konflik politik nasional antara dua tokoh mereda eksklusif sehabis yang satu ‘sowan’ kepada lainnya dan membungkuk mencium tangannya.
Apa prinsip nilai dan budi cium tangan itu, siapa mencium siapa, atas dasar ketakdziman, loyalitas, kasih sayang ataukah kepentingan dan feodalisme – tidak saya persoalkan di goresan pena ini. Umpamanya apakah yang patut itu Umara ‘nimbali’ (memanggil dari posisi yang lebih besar lengan berkuasa atau lebih tinggi) Ulama, ataukah sebaliknya. Yang berposisi dicium tangannya Pejabatkah ataukah Kiai, berdasarkan teori derajat dari Agama maupun budaya, saya mempersilahkan untuk diurus sendiri.
Sejauh saya mengalami dan mengetahui, ada empat kepentingan yang mendorong insiden cium tangan. Pertama, santri atau ummat cium tangan Kiainya, Ulama, Syekh, Mursyid, Habib atau Ustadznya. Dalam tradisi budaya Islam Jawa, itu disebut “ngalap berkah”. Santri meyakini bahwa Kiainya yaitu insan saleh yang lebih dekat kepada Allah dibanding dirinya. Kalau ia takdzim kepadanya dan mencium tangannya, maka ia menjadi lebih dekat juga kepada Tuhannya, lebih aksesabel untuk memperoleh berkah, ridlo atau mahabbah atau hub dari Allah, yang mungkin berakibat limpahan rejeki.
Tidak saya persoalkan apakah anggapan terhadap Kiai itu benar atau meleset, sempurna atau bias, terkabul atau tertipu. Di suatu wilayah Kaum Muslimin ummat mencium tangan Kiai dengan menyertakan lembaran uang di telapak tangannya, yang kemudian berpindah ke tangan Kiai. “Salam tempel” itu semacam prosedur perniagaan dengan Tuhan, yang memang Maha Pemurah memberi tanggapan berlipat dari uang atau harta yang disedekahkan.
Logika perniagaan ini bahkan bisa dikapitalisasikan: ummat disebari iklan bahwa kalau mereka menyerahkan uang, kendaraan beroda empat atau rumah kepada Ustadz, maka Allah akan membalasnya berlipat-lipat. Kalau setelah sekian usang tanggapan tak kunjung datang, Ustadz bilang bahwa ummat kurang tulus dalam bersedekah. Allah sendiri kasih regulasi: “Jangan memberi dengan mengharapkan tanggapan lebih banyak”. Wala tamnun tastaktsir. Tetapi saya tidak mencampuri konflik antara Tuhan dengan kapitalis itu.
Kedua, fenomena “medukun”. Orang tiba kepada “Orang Pinter” untuk pamrih kekayaan, kesembuhan dari penyakit, naik pangkat dan jabatan, kelanggengan kekuasaan, atau proteksi dari marabahaya, contohnya orang bersaing mendapat murid Sekolah sehingga menenung atau menyantet kompetitornya. Pejabat berebut jabatan lebih tinggi dengan menyantet pesaingnya. Mereka “sowan” ke Dukun Pintar itu, mencium tangannya dan mematuhi segala perintah dan larangannya.
Ketiga, pamrih di balik cium tangan itu yaitu kanal kekuasaan. Orang di level lebih rendah mencium tangan orang di level lebih tinggi dalam struktur birokrasi. Baik eksklusif maupun pada posisi yang masih “siapa tahu”. Maksudnya, bisa seorang Gubernur atau Profesor cium tangan Presiden biar dijadikan wapres atau minimal Staf Ahli. Atau belum pada lingkup struktural, tapi “siapa tahu” dia tertarik mengajaknya masuk ke struktur.
Keempat, yang terutama ingin saya tuliskan yaitu rasa tidak tega kepada sangat banyak orang yang menyangka saya yaitu seseorang yang mungkin bahu-membahu bukan saya. Mereka mencium tangan saya di warung, bandara, parkiran, mal, pasar, terminal, naik atau turun tangga pesawat, lampu merah perempatan jalan, bahkan saat mau masuk atau keluar dari toilet di pom bensin, dan tempat-tempat lain yang ada manusianya. Tua muda dewasa kanak-kanak. Pegawai, karyawan, pengusaha, pejabat, tukang parkir, pelayan hotel, petugas restoran, sopir taksi, ojek. Muslim dan non-Muslim, Jawa dan non-Jawa, pribumi dan non-pribumi, hingga saya khawatirkan juga Jin dan sejumlah hantu.
Saya berpindah-pindah kota dan tempat hampir tiap hari. Dalam seminggu saya berkerumun dengan rata-rata 50 ribu orang. Kami bercanda besar hati ria dari jam 8-9 malam hingga pukul 2-3 pagi. Sesudah itu butuh waktu satu hingga satu setengah jam untuk antri bersalaman. Kalau tidak diatur antrean, akan makan waktu lebih usang lagi, lantaran kerumunan itu bergeser ke manapun saya melangkah, salamannya serabutan dan berdesak-desakan, sehingga tidak efektif dan memerlukan waktu lebih lama. Maka mending dikelola. Pasukan pengelolanya selalu siap meskipun saya tidak pernah melantik mereka. Bikin pagar betis, membuka ruang atau lorong, lainnya menangani pintu dari kerumunan ke lorong, mengatur irama dan percepatan. Saya berdiri sepanjang salaman, tidak tega kalau duduk di kursi, seberapa pegal pun pinggang saya.
Saya mewajibakan diri saya untuk tersenyum kepada orang pertama hingga orang keseribu atau orang terakhir berapapun jumlahnya. Kasih sayang dari hati saya, energi batin dan fisik saya, atensi dan konsentrasi saya, dilarang berkurang sedikit pun dari orang pertama hingga terakhir. Balasan ciuman dan pelukan kepada mereka satu per satu, dilarang berkurang kadarnya meskipun 1-cc. Selama lembaga berlangsung sebelumnya, selalu saya ulang ungkapkan bahwa di kerumunan kita tidak ada Kiai, Ustadz, Dukun, tokoh, orang yang lebih alim dan hebat, idola dan berhala. Tidak ada kultus individu. Kekaguman harus diteruskan ke Tuhan. Tidak ada yang besar lengan berkuasa dan kuasa kecuali Tuhan. Tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakit kecuali Tuhan. Berkah hanya dari Tuhan.
Kita hanya kerumunan insan yang bersaudara, minimal bersahabat. Aku kakakmu, bapakmu atau mbah-mu. Kalau kamu cium tanganku, kupeluk tubuhmu. Kalau kamu peluk badanku, kuusap-usap kepalamu. Kita yaitu “almutahabbiina fillah”: hamba-hamba Tuhan yang bersaudara tidak lantaran korelasi darah, tidak lantaran pamrih ekonomi, politik atau apapun keduniaan yang lain. Kita bersaudara lantaran sama-sama ingin lulus “outbond” di bumi, tidak dimarahi oleh Tuhan, syukur disayang dan diridloi oleh-Nya.
Sponsor kita yaitu kedermawanan Allah. Kita tidak punya backing kekuasaan atau modal. Hidup yaitu menempuh iman: percaya penuh kepada kasih sayang dan tanggung jawab Tuhan, 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, kini memasuki tahun ke-24. Satu per satu kita digilir oleh Malaikat Izroil, tapi staf Allah yang angker itu tidak bisa mencabut ikatan persaudaraan kita, yang kini juga sudah memancar sebagai cahaya terperinci benderang jikalau dipandang dari seberang galaksi oleh para penduduk langit.
Setiap kali saya harus “nyuwuk” atau meniup ratusan botol air yang mereka sodorkan ke verbal saya satu per satu, untuk banyak sekali macam hajat: rejeki lancar, sembuh dari sakit, anak saleh, sekolah beres, hutang bisa bayar, duduk perkara ada jalan keluar. Sebanyak jumlah botol itu bisikan hatiku kepada Tuhan: “Engkau yang membawa mereka kepadaku, Engkau pula yang memenuhi hajat mereka”. Syukur mereka semua juga paham bahwa saya tidak bisa apa-apa. La haula wa quwwata wala sulthana illa billah. Tak ada kuasa, tak ada kekuatan, tak ada hidden strength, extra authority, kecuali pada Tuhan Yang Maha Esa. Kemesraan persaudaraan kita, sikap saling mengamankan satu sama lain di antara kita, semoga menciptakan Allah tidak tega untuk membiarkan kita disengsarakan, dijahati, ditipu, dibohongi oleh makhluk-makhluk di luar kerumunan kita.
Semua ini insiden kasih sayang, saling percaya dan kemesraan. Di antrean itu saudara dan anak-cucuku ada yang mencium tangan saja. Ada yang cium tangan kemudian memeluk tubuh. Ada yang tak tahan menangis sebelum bersentuhan. Ada yang minta tanganku mengusap belahan atas kepalanya dan menjambak rambutnya. Ada yang kedua tangannya mengusap kepalaku badanku hingga kakiku lantas dia usap-usapkan ke pipinya. Ada yang menyodorkan ubun-ubunnya minta ditiup. Ada yang menyodorkan pipinya minta ditampar, dan kutampar demi pemenuhan cinta. Ada yang membuka mulutnya dan meminta kuludahi, dan kuludahi dalam kemesraan. Ada yang mengantarkan perut hamil istrinya untuk kuusap-usap. Ada yang belum hamil minta diusap siapa tahu Allah terharu kemudian dikasih janin. Ada yang pakai bangku roda dan saya melompat memeluknya. Ada yang digendong dan kuambil untuk kuganti-gendong. Ada yang dari jauh menggapai-gapaikan tangannya dan saya pun menggapainya meskipun hanya menyentuh ujung satu jarinya.
Aku tak pernah menjanjikan atau menyanggupi apa-apa. Kami hanya menjalani organisme ciptaan-Nya. Hidup yaitu pengelolaan cinta dan teknologi tali temali kasih sayang. Usia yaitu rentang kerinduan. “Kalau kalian memang rindu untuk berjumpa dengan-Ku, maka berbuatlah baik dan bederma saleh di dunia”, Allah mengumumkan. Muhammad juga Ia perintah untuk menyampaikan: “Katakan kepada manusia: Kalau memang kalian mengasihi Allah, maka ikutilah aku, Allah menanti kalian dengan cinta-Nya dan berjanji membereskan urusan kalian di dunia…”
Allah menantikan para kekasih-Nya di kampung halaman asal seruan kita. Kita bukan penduduk bumi yang mendambakan sorga. Kita yaitu penghuni sorga yang diuji sejenak di bumi. Kita bukan makhluk jasad yang berjuang me-rohani. Kita bukan makhluk biologis yang menempuh perjalanan spiritual. Kita yaitu makhluk spiritual yang merendah sejenak di padatan materiil dunia. Bumi bukan tempat membangun rumah permanen. Bumi hanya tempat transit, minum sejenak di rest area. Kita yaitu belahan dari Maha Ruh Sejati. Tak ada ruang dan waktu kecuali berhimpun kembali kepada-Nya.
Alangkah kerdilnya dunia. Alangkah kecilnya Indonesia. Tapi selama saya bertugas di wilayahmu, kucintai engkau sepenuh jiwa. Sebab saya tak mau mengecewakan-Nya, saat nanti dalam “liqooun ‘adzim”, perjumpaan agung, Ia bertanya, meskipun sudah Maha Tahu jawabannya: “Apa saja yang engkau lakukan untuk mewujudkan cintamu kepada Indonesia, tanah air yang Kuamanatkan kepadamu untuk engkau tanami cinta?”.*
Emha Ainun Nadjib
25 Juli 2017
#Khasanah