“Rasa-rasanya kok urusan Do ini malah bikin njelimet keadaan”, kata Jitul tiba-tiba.
“Lho saya hanya memberikan pesan Mbah Sot kepada kalian”, jawab Pakde Tarmihim.
Terdengar bunyi tertawa Sundusin. “Saya sudah hapal gayanya Markesot”, katanya, “dulu banyak orang minta tolong untuk menuntaskan masalah. Tapi maunya Markesot disuruh atau diperlukan menjawab sesuai dengan solusi yang orang itu maksudkan, bukannya membuka diri untuk model penyelesaian dari Markesot.
Makara orang itu bergotong-royong hanya tidak berani mengambil keputusan dengan dirinya sendiri. Maka tiba ke Markesot dengan tujuan biar nasehat Markesot sesuai dengan keinginannya dalam menuntaskan masalah. Akhirnya Markesot malah kasih orang itu model penyelesaian yang sesuai dengan kemauan pemintanya itu, tetapi di-sangat-kan, di-bengkak-kan…”
Seger ikut tertawa. “Dalam hati mereka ada penyakit, kemudian ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” [1] (Al-Baqarah: 10), kata Seger.
“Jadi maksudmu Mbah Markesot menyuruh kita biar keadaan yang njelimet ini dibikin lebih njelimet lagi?”
Pakde Brakodin yang kemudian mungkasi: “Sebenarnya semua yang kita pelajari ini tidak ada hubungannya dengan keadaan di luar. Kita tidak sedang mengurusi Indonesia. Kita tidak sedang menilai atau bersikap. Kita hanya mencar ilmu bersama memahami kehidupan, sample-nya ialah Indonesia”
Pada dasarnya semenjak awal kumpulan orang-orang renta dan bawah umur muda itu memang tidak sedang mendiskusikan Indonesia, apalagi menilai atau mengurusinya. Mereka mempelajari insan dan nilai-nilai: Indonesia hanya gerbang keberangkatannya. Mereka sangat sadar bahwa bukan level mereka untuk bisa melaksanakan apa-apa kepada Indonesia.
Bangsa Indonesia yang besar, Negara Indonesia yang dahsyat, dan Pemerintah Indonesia yang ghoib, tidak memerlukan satu kata pun dari gelandangan-gelandangan renta muda yang tak terang kerjaannya itu.
Indonesia sudah berderap maju ke masa depan. Madhep mantep. Istiqomah muthmainnah. Ever onward, no retreat. Indonesia tak kurang suatu apa. Indonesia tidak punya problem sebagaimana yang di-njelimet-kan oleh kerumunan para penganggur itu.
Indonesia sudah teguh imannya kepada Tuhan, bahkan menjalankan kemesraan religius semenjak dari filosofinya, konstitusinya, prosedur birokrasinya, hingga tradisi budaya rakyatnya. Indonesia sudah fix. Sudah harga mati. Sudah benar pandangan hidupnya. Sudah kukuh ideologinya.
Sudah tegak keyakinan masa depannya. Sudah sangat bercahaya kemajuan dan pembangunannya. Indonesia ialah mercusuar dunia.
Selama setahun ini kerumunan gelandangan itu sudah mendiskusikan, merenangi dan menyelami 309 tema, ditambah 122 topik, plus 296 yang sudah diresume oleh Seger. Dan kini sedang bergulir 5 judul lagi, tetapi yang 9 sisanya: sepertinya ditunda hingga waktu yang mereka rasa cukup untuk mengendapkan semua tema yang sebelumnya.
Anak-anak muda itu banyak mengkonfirmasikan hal-hal dalam muatan fatwa mereka untuk membangun “Indonesia Kecil” di dalam kalbu mereka, di ruang pikiran mereka, dalam sikap sehari-hari mereka sejauh yang mereka bisa jangkau.
Pernah ada yang bertanya: “Sebenarnya sibuk apa to kalian bawah umur muda dengan Pakde Paklik yang hidupnya tak terang itu?”.
Seger menjawab: “Kami ialah kumpulan kambing-kambing yang mencar ilmu memilih patokan hidup. Kami melaksanakan semacam eksperimentasi, simulasi atau ijtihad untuk mengambil keputusan seberapa panjang tali yang mengikat leher kami yang diulur dari patokan ini.
Manusia perlu memperoleh ketepatan pandang atas dirinya sendiri. Jangan terlalu tinggi mengukur diri, juga jangan terlalu rendah. Hidup ialah kebijaksanaan. Kebijaksanaan ialah presisi pandang, objektivitas terhadap diri sendiri. Jernih, jujur, tidak melebih-lebihkan, juga tidak mengurangi.”
“Sebab di tempat-tempat lain di luar kerumunan para Pakde Paklik itu hampir kami tidak bisa menemukan patok dan panjangnya tali. Rata-rata kambing-kambing di luar tidak mau diikat oleh patokan dan tidak mau diikat oleh tali. Tidak ada pendidikan atau proses sosial yang mendidik itu.
Hampir semua kambing ingin menjadi Raja Kambing. Sekurang-kurangnya menjadi potongan dari kekuasaan Raja Kambing. Itu menciptakan setiap ucapan, pendapat dan tindakannya diadaptasi atau diarahkan biar siapa tahu bisa menjadi Menteri Kambing atau Duta Peradaban Kambing atau apapun, pokoknya ikut kekuasaan Raja Kambing. Tidak penting apakah pantas atau tidak, ekspert atau tidak, menguntungkan rakyat atau menghancurkannya.”
“Lho saya hanya memberikan pesan Mbah Sot kepada kalian”, jawab Pakde Tarmihim.
Terdengar bunyi tertawa Sundusin. “Saya sudah hapal gayanya Markesot”, katanya, “dulu banyak orang minta tolong untuk menuntaskan masalah. Tapi maunya Markesot disuruh atau diperlukan menjawab sesuai dengan solusi yang orang itu maksudkan, bukannya membuka diri untuk model penyelesaian dari Markesot.
Makara orang itu bergotong-royong hanya tidak berani mengambil keputusan dengan dirinya sendiri. Maka tiba ke Markesot dengan tujuan biar nasehat Markesot sesuai dengan keinginannya dalam menuntaskan masalah. Akhirnya Markesot malah kasih orang itu model penyelesaian yang sesuai dengan kemauan pemintanya itu, tetapi di-sangat-kan, di-bengkak-kan…”
Seger ikut tertawa. “Dalam hati mereka ada penyakit, kemudian ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” [1] (Al-Baqarah: 10), kata Seger.
“Jadi maksudmu Mbah Markesot menyuruh kita biar keadaan yang njelimet ini dibikin lebih njelimet lagi?”
Pakde Brakodin yang kemudian mungkasi: “Sebenarnya semua yang kita pelajari ini tidak ada hubungannya dengan keadaan di luar. Kita tidak sedang mengurusi Indonesia. Kita tidak sedang menilai atau bersikap. Kita hanya mencar ilmu bersama memahami kehidupan, sample-nya ialah Indonesia”
Pada dasarnya semenjak awal kumpulan orang-orang renta dan bawah umur muda itu memang tidak sedang mendiskusikan Indonesia, apalagi menilai atau mengurusinya. Mereka mempelajari insan dan nilai-nilai: Indonesia hanya gerbang keberangkatannya. Mereka sangat sadar bahwa bukan level mereka untuk bisa melaksanakan apa-apa kepada Indonesia.
Bangsa Indonesia yang besar, Negara Indonesia yang dahsyat, dan Pemerintah Indonesia yang ghoib, tidak memerlukan satu kata pun dari gelandangan-gelandangan renta muda yang tak terang kerjaannya itu.
Indonesia sudah berderap maju ke masa depan. Madhep mantep. Istiqomah muthmainnah. Ever onward, no retreat. Indonesia tak kurang suatu apa. Indonesia tidak punya problem sebagaimana yang di-njelimet-kan oleh kerumunan para penganggur itu.
Indonesia sudah teguh imannya kepada Tuhan, bahkan menjalankan kemesraan religius semenjak dari filosofinya, konstitusinya, prosedur birokrasinya, hingga tradisi budaya rakyatnya. Indonesia sudah fix. Sudah harga mati. Sudah benar pandangan hidupnya. Sudah kukuh ideologinya.
Sudah tegak keyakinan masa depannya. Sudah sangat bercahaya kemajuan dan pembangunannya. Indonesia ialah mercusuar dunia.
Selama setahun ini kerumunan gelandangan itu sudah mendiskusikan, merenangi dan menyelami 309 tema, ditambah 122 topik, plus 296 yang sudah diresume oleh Seger. Dan kini sedang bergulir 5 judul lagi, tetapi yang 9 sisanya: sepertinya ditunda hingga waktu yang mereka rasa cukup untuk mengendapkan semua tema yang sebelumnya.
Anak-anak muda itu banyak mengkonfirmasikan hal-hal dalam muatan fatwa mereka untuk membangun “Indonesia Kecil” di dalam kalbu mereka, di ruang pikiran mereka, dalam sikap sehari-hari mereka sejauh yang mereka bisa jangkau.
Pernah ada yang bertanya: “Sebenarnya sibuk apa to kalian bawah umur muda dengan Pakde Paklik yang hidupnya tak terang itu?”.
Seger menjawab: “Kami ialah kumpulan kambing-kambing yang mencar ilmu memilih patokan hidup. Kami melaksanakan semacam eksperimentasi, simulasi atau ijtihad untuk mengambil keputusan seberapa panjang tali yang mengikat leher kami yang diulur dari patokan ini.
Manusia perlu memperoleh ketepatan pandang atas dirinya sendiri. Jangan terlalu tinggi mengukur diri, juga jangan terlalu rendah. Hidup ialah kebijaksanaan. Kebijaksanaan ialah presisi pandang, objektivitas terhadap diri sendiri. Jernih, jujur, tidak melebih-lebihkan, juga tidak mengurangi.”
“Sebab di tempat-tempat lain di luar kerumunan para Pakde Paklik itu hampir kami tidak bisa menemukan patok dan panjangnya tali. Rata-rata kambing-kambing di luar tidak mau diikat oleh patokan dan tidak mau diikat oleh tali. Tidak ada pendidikan atau proses sosial yang mendidik itu.
Hampir semua kambing ingin menjadi Raja Kambing. Sekurang-kurangnya menjadi potongan dari kekuasaan Raja Kambing. Itu menciptakan setiap ucapan, pendapat dan tindakannya diadaptasi atau diarahkan biar siapa tahu bisa menjadi Menteri Kambing atau Duta Peradaban Kambing atau apapun, pokoknya ikut kekuasaan Raja Kambing. Tidak penting apakah pantas atau tidak, ekspert atau tidak, menguntungkan rakyat atau menghancurkannya.”
Jakarta, 9 Desember 2017