“Tulisan ini ialah Halaqah ke 300. Di luar yang 309 dan 122. Mulai besok kita akan ambil nafas panjang dulu sebelum memasuki yang 9 satu persatu. Apakah Allah memperjalankan kita. Dengan ratusan Halaqah itu. Dengan berjuta kemesraan di ribuan titik-titik itu. Untuk merenangi Ma’lamah saja, atau mengarungi Ma’rafah, kemudian membukakan pintu untuk menghamparkan Ma`dabah: kita belum akan tahu. 2018-2019 mungkin lebih medebarkan dibanding yang kita duga, meskipun kita tidak pernah bermaksud berada di dalamnya”.
Markesot bilang kita semua ini “salah terkam”. Tapi jangan terlalu percaya. Jangan berpikir lurus, linier, flat dan lugu. Kandungan maksudnya niscaya tidak di dua kata itu. Perlu teladan pikir lipatan dengan tikungan-tikungannya. Supaya besok kita tidak terlalu terkejut.
“Ibarat harimau”, pesan Markesot kepada sahabat-sahabat dan anak cucunya, “kita ini salah terkam. Umpama Garuda, kita salah sambar. Sebagai ikan, kita salah kolam. Bak angin, kita salah badai. Atau kita ialah api yang salah sulut.”
“Kita arogan merasa sedang menapaki tahap “Yakadu zaituha yudli’u walau lam tamsashu naar”. [1] (An-Nur: 35) Kita merasa akan berenang terbang di semesta “Nurun ‘ala Nur, Nur ‘ala Nur, Nur ‘ala Nur…” [2] (An-Nur: 35). Ternyata kita tergeletak di tepi jalan, terkapar-kapar, terlapar-lapar, tanpa seorang pun menoleh ke arah kita…”
“Sebagaimana hingga beberapa detik sebelum maut, belum akan kita tatap presisi ujung Shirathal Mustaqim, meskipun arah Sabil sudah kita tempuh, koridor Syari’ah sudah kita disiplini, dan Ijtihad Thariqah sudah kita geluti dan kreatifi. Apa itu semua gerangan?”
“Sangat banyak kalimat yang tidak kita jelaskan, terangkan atau uraikan. Karena kita rendah diri apakah ada seseorang, kecuali para sahabat dan anak cucuku, yang hidupnya memerlukan kejelasan dan uraian itu. Sangat banyak idiom, istilah dan kata yang tidak kita terjemahkan. Karena kita tidak gembira untuk menganggap bahwa ada insan di Negeri ini yang membutuhkannya”
“Sangat banyak rangkaian mata rantai pengertian yang kita penggal atau tidak kita teruskan ketersambungannya. Karena kita sangat mafhum tidak ada aksara yang kita tuliskan yang menjadi bab dari skala prioritas manusia-manusia di sekitar kita. Kita semua ini minggir dari rasa GR, tapi tetap juga terdesak ke petak GR yang lain: “Bada’al-Islamu ghariban wa saya’udu kama bada`a ghariban, fa thuba lil-ghuroba…” [3] (HR. Muslim). Siapa bilang kita sudah ber-Islam? Siapa percaya kita sudah meng-Islam? Siapa oke kita ialah Muslim?”
“Kita memasuki wilayah nilai-nilai yang bukan minat kebanyakan orang. Kita mengembarai semesta makna-makna yang jauh berada di luar keperluan mainstream. Kita mendalami samudera arti dan pesan tersirat yang tidak hanya berbeda, tapi juga bertentangan dengan pandangan hidup masyarakat dan kebanyakan ummat manusia. Kita ialah orang-orang udik yang menyingkir dari orang-orang pandai”
“Kita ialah kerumunan insan dungu yang terserak di luar kalangan masyarakat mulia. Kita ialah gelandangan-gelandangan miskin di tengah bangsa-bangsa yang kaya raya. Kita ialah makhluk absurd yang tidak bisa menikmati apa yang kebanyakan penduduk bumi merakusi dan menserakahinya”
“Tetapi dalam posisi menyerupai itu pun kita masih menghibur mereka dan bersikap bijaksana: dengan isu ‘salah terkam’……Tetapi siapapun jangan coba-coba menerkam atau merayu. Bacalah ‘Aku’ Chairil Anwar. Dengarkan putra mahkota Bani Hasyim berkata: Lau wadla’asysyamsa fi yamini wal-qomaro fi yasari, lan atruka hadzal amr…”
“Kita sudah sangat teliti mengamati dan mengalami garak-garik (istilah Silat Minangkabau) sikap peradaban semenjak 700 tahun silam. Kita sudah hapal peta, seni administrasi dan arah nafi atau nofi, serta sudah menemukan isbat atau sibatnya untuk kita antisipasi atau runtuhkan. Tetapi kita takut kepada kemudlaratan massal dan terikat oleh amrullah. Kita sudah usang menyimpulkan banyak katiko di tengah peta kekuasaan dan kesombongan manusia, banyak katiko untuk merespons konstelasi politik palsu. Bahkan sibat dan katiko itu kita peroleh dari titik-titik air hujan hidayah untuk wilayah kenegarawanan, kebudayaan, kemanusiaan hingga tartil, zarrah, tepung dan glepung”
“Tapi hingga hari ini, hingga detik ini, Allah asro bi’abdihi lailan. [4] (Al-Isra: 1) Allah meletakkan kita di sudut kegelapan, di lorong keremangan, di jalan sunyi…”.
Markesot bilang kita semua ini “salah terkam”. Tapi jangan terlalu percaya. Jangan berpikir lurus, linier, flat dan lugu. Kandungan maksudnya niscaya tidak di dua kata itu. Perlu teladan pikir lipatan dengan tikungan-tikungannya. Supaya besok kita tidak terlalu terkejut.
“Ibarat harimau”, pesan Markesot kepada sahabat-sahabat dan anak cucunya, “kita ini salah terkam. Umpama Garuda, kita salah sambar. Sebagai ikan, kita salah kolam. Bak angin, kita salah badai. Atau kita ialah api yang salah sulut.”
“Kita arogan merasa sedang menapaki tahap “Yakadu zaituha yudli’u walau lam tamsashu naar”. [1] (An-Nur: 35) Kita merasa akan berenang terbang di semesta “Nurun ‘ala Nur, Nur ‘ala Nur, Nur ‘ala Nur…” [2] (An-Nur: 35). Ternyata kita tergeletak di tepi jalan, terkapar-kapar, terlapar-lapar, tanpa seorang pun menoleh ke arah kita…”
“Sebagaimana hingga beberapa detik sebelum maut, belum akan kita tatap presisi ujung Shirathal Mustaqim, meskipun arah Sabil sudah kita tempuh, koridor Syari’ah sudah kita disiplini, dan Ijtihad Thariqah sudah kita geluti dan kreatifi. Apa itu semua gerangan?”
“Sangat banyak kalimat yang tidak kita jelaskan, terangkan atau uraikan. Karena kita rendah diri apakah ada seseorang, kecuali para sahabat dan anak cucuku, yang hidupnya memerlukan kejelasan dan uraian itu. Sangat banyak idiom, istilah dan kata yang tidak kita terjemahkan. Karena kita tidak gembira untuk menganggap bahwa ada insan di Negeri ini yang membutuhkannya”
“Sangat banyak rangkaian mata rantai pengertian yang kita penggal atau tidak kita teruskan ketersambungannya. Karena kita sangat mafhum tidak ada aksara yang kita tuliskan yang menjadi bab dari skala prioritas manusia-manusia di sekitar kita. Kita semua ini minggir dari rasa GR, tapi tetap juga terdesak ke petak GR yang lain: “Bada’al-Islamu ghariban wa saya’udu kama bada`a ghariban, fa thuba lil-ghuroba…” [3] (HR. Muslim). Siapa bilang kita sudah ber-Islam? Siapa percaya kita sudah meng-Islam? Siapa oke kita ialah Muslim?”
“Kita memasuki wilayah nilai-nilai yang bukan minat kebanyakan orang. Kita mengembarai semesta makna-makna yang jauh berada di luar keperluan mainstream. Kita mendalami samudera arti dan pesan tersirat yang tidak hanya berbeda, tapi juga bertentangan dengan pandangan hidup masyarakat dan kebanyakan ummat manusia. Kita ialah orang-orang udik yang menyingkir dari orang-orang pandai”
“Kita ialah kerumunan insan dungu yang terserak di luar kalangan masyarakat mulia. Kita ialah gelandangan-gelandangan miskin di tengah bangsa-bangsa yang kaya raya. Kita ialah makhluk absurd yang tidak bisa menikmati apa yang kebanyakan penduduk bumi merakusi dan menserakahinya”
“Tetapi dalam posisi menyerupai itu pun kita masih menghibur mereka dan bersikap bijaksana: dengan isu ‘salah terkam’……Tetapi siapapun jangan coba-coba menerkam atau merayu. Bacalah ‘Aku’ Chairil Anwar. Dengarkan putra mahkota Bani Hasyim berkata: Lau wadla’asysyamsa fi yamini wal-qomaro fi yasari, lan atruka hadzal amr…”
“Kita sudah sangat teliti mengamati dan mengalami garak-garik (istilah Silat Minangkabau) sikap peradaban semenjak 700 tahun silam. Kita sudah hapal peta, seni administrasi dan arah nafi atau nofi, serta sudah menemukan isbat atau sibatnya untuk kita antisipasi atau runtuhkan. Tetapi kita takut kepada kemudlaratan massal dan terikat oleh amrullah. Kita sudah usang menyimpulkan banyak katiko di tengah peta kekuasaan dan kesombongan manusia, banyak katiko untuk merespons konstelasi politik palsu. Bahkan sibat dan katiko itu kita peroleh dari titik-titik air hujan hidayah untuk wilayah kenegarawanan, kebudayaan, kemanusiaan hingga tartil, zarrah, tepung dan glepung”
“Tapi hingga hari ini, hingga detik ini, Allah asro bi’abdihi lailan. [4] (Al-Isra: 1) Allah meletakkan kita di sudut kegelapan, di lorong keremangan, di jalan sunyi…”.
Yogya, 14 Desember 2017