Manusia akal-akalan tidak mengerti perbedaan antara Do pada “Ya ayyuhannas” [1] (An-Nisa: 170) dengan Do pada “Ya ayyuhalladzina amanu” [2] (As-Shaf: 2), apalagi “Ya ayyuhal kafirun” [3] (Al-Kafirun: 1). Manusia memanipulasi asal-usulnya. Manusia menyembunyikan Penciptanya. Manusia mengumumkan kepada dirinya sendiri dan semua makhluk suatu bangunan peradaban di mana ia seakan-akan mampu membuat sehelai bulu di sekitar kelaminnya, atau membuat setetes keringat dari ketiaknya.
“Sesungguhnya beliau menyangka bahwa beliau sekali-kali tidak akan kembali kepada Tuhannya” [4] (Al-Insyiqaaq: 14). “Maka apakah kau mengira, bahwa sesungguhnya Kami membuat kau secara main-main saja, dan bahwa kau tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang mulia. Dan barangsiapa menyembah yang kuasa yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya ihwal itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang ingkar fakta itu tiada beruntung”. [5] (Al-Mu`minun: 115-117)
“Memang”, kata Seger, “kalau melihat atmosfer kehidupan banyak manusia, mereka berpikir begitu masuk ke kuburan, berakhirlah kehidupan”
“Mereka bermain-main saja untuk mempercayai atau tidak mempercayai bahwa tidaklah main-main Tuhan membuat manusia”, tambah Jitul.
“Apakah pada karenanya insan akan dikembalikan ke Penciptanya? Rasanya tidak banyak tanda sikap bahwa insan meyakini gosip itu”, Junit menambahkan juga.
Gentholing tertawa. “Makanya sering saya berpikir mudah-mudahan sehabis dikuburkan kelak saya diperbolehkan menjadi hantu”, katanya, “Saya ingin tiba ke kamar-kamar langsung sejumlah orang. Minimal saya subversi di dalam mimpi-mimpi mereka berulang-ulang”.
“Terus kau apakan?”, Junit bertanya.
“Belum saya tentukan secara pasti”, jawab Toling, “masih banyak ide-ide berseliweran…”
“Contohnya…”, Jitul nyeletuk.
“Salah satunya saya akan kumpulkan serbuk Rawé. Saya taburkan di Kasur dan bantalnya. Dia akan sakit gatal seluruh badan. Pas pidato kenegaraan beliau akan garuk-garuk tanpa henti”
“Kalau yang kau maksud itu pejabat tinggi”, kata Seger ikut nimbrung, “pasti sudah siap dengan dokter-dokter pribadi, termasuk dokter seorang hebat gatal”
“Menjelang sembuh, saya kasih Rawé lagi. Kalau perlu di verbal sepatu dan kaos kakinya, di kaos dan celana dalamnya, di jas maupun dasinya. Saya orangnya tidak tegaan. Sebenarnya banyak ide-ide yang cemerlang, mistik dan kejam. Tapi saya tetap sayang kepada manusia. Misalnya pas beliau pidato, saya akan muncul di depannya sebagai Bapak aslinya, berjalan pulang balik di depan podiumnya…”
“Terlalu horor itu, Ling”, Tarmihim ikut berpartisipasi pada khayalan Gentholing.
“Atau di tembok kamar pribadinya saya tulisi dengan arang: Kamu masih mantap untuk tidak percaya kepada Akhirat? Sudah finalkah persangkaanmu bahwa sehabis mati dikubur hidupmu selesai tanpa ada semesteran berikutnya? Kamu kan modern, mosok nggak tahu artinya The Judgment Day?
Kenapa kau menjalani hidup dan membangun Negara dengan anggapan bahwa Akhirat tidak ada? Bahwa kau dapat membolos dari skenario Qadla dan Qadar? Pernah kau membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Munkar Nakir Raqib Atid dan terutama Malaikat Malik, sehabis sepanjang hidupmu di dunia kau mengganggap mereka tidak ada?”
Tarmihim tertawa ngakak. “Manusia Zaman Now menjawab: EGP…”
“Khayalan Toling itu jelas benderang hanya dapat muncul dari orang yang tidak pernah mengalami keberhasilan dalam hidupnya, serta berada di puncak keputusasaan bahwa ia akan pernah sesekali mencapai sukses…”, tambah Jitul tertawa.
“Sesungguhnya beliau menyangka bahwa beliau sekali-kali tidak akan kembali kepada Tuhannya” [4] (Al-Insyiqaaq: 14). “Maka apakah kau mengira, bahwa sesungguhnya Kami membuat kau secara main-main saja, dan bahwa kau tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang mulia. Dan barangsiapa menyembah yang kuasa yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya ihwal itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang ingkar fakta itu tiada beruntung”. [5] (Al-Mu`minun: 115-117)
“Memang”, kata Seger, “kalau melihat atmosfer kehidupan banyak manusia, mereka berpikir begitu masuk ke kuburan, berakhirlah kehidupan”
“Mereka bermain-main saja untuk mempercayai atau tidak mempercayai bahwa tidaklah main-main Tuhan membuat manusia”, tambah Jitul.
“Apakah pada karenanya insan akan dikembalikan ke Penciptanya? Rasanya tidak banyak tanda sikap bahwa insan meyakini gosip itu”, Junit menambahkan juga.
Gentholing tertawa. “Makanya sering saya berpikir mudah-mudahan sehabis dikuburkan kelak saya diperbolehkan menjadi hantu”, katanya, “Saya ingin tiba ke kamar-kamar langsung sejumlah orang. Minimal saya subversi di dalam mimpi-mimpi mereka berulang-ulang”.
“Terus kau apakan?”, Junit bertanya.
“Belum saya tentukan secara pasti”, jawab Toling, “masih banyak ide-ide berseliweran…”
“Contohnya…”, Jitul nyeletuk.
“Salah satunya saya akan kumpulkan serbuk Rawé. Saya taburkan di Kasur dan bantalnya. Dia akan sakit gatal seluruh badan. Pas pidato kenegaraan beliau akan garuk-garuk tanpa henti”
“Kalau yang kau maksud itu pejabat tinggi”, kata Seger ikut nimbrung, “pasti sudah siap dengan dokter-dokter pribadi, termasuk dokter seorang hebat gatal”
“Menjelang sembuh, saya kasih Rawé lagi. Kalau perlu di verbal sepatu dan kaos kakinya, di kaos dan celana dalamnya, di jas maupun dasinya. Saya orangnya tidak tegaan. Sebenarnya banyak ide-ide yang cemerlang, mistik dan kejam. Tapi saya tetap sayang kepada manusia. Misalnya pas beliau pidato, saya akan muncul di depannya sebagai Bapak aslinya, berjalan pulang balik di depan podiumnya…”
“Terlalu horor itu, Ling”, Tarmihim ikut berpartisipasi pada khayalan Gentholing.
“Atau di tembok kamar pribadinya saya tulisi dengan arang: Kamu masih mantap untuk tidak percaya kepada Akhirat? Sudah finalkah persangkaanmu bahwa sehabis mati dikubur hidupmu selesai tanpa ada semesteran berikutnya? Kamu kan modern, mosok nggak tahu artinya The Judgment Day?
Kenapa kau menjalani hidup dan membangun Negara dengan anggapan bahwa Akhirat tidak ada? Bahwa kau dapat membolos dari skenario Qadla dan Qadar? Pernah kau membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Munkar Nakir Raqib Atid dan terutama Malaikat Malik, sehabis sepanjang hidupmu di dunia kau mengganggap mereka tidak ada?”
Tarmihim tertawa ngakak. “Manusia Zaman Now menjawab: EGP…”
“Khayalan Toling itu jelas benderang hanya dapat muncul dari orang yang tidak pernah mengalami keberhasilan dalam hidupnya, serta berada di puncak keputusasaan bahwa ia akan pernah sesekali mencapai sukses…”, tambah Jitul tertawa.
Tremas, 12 Desember 2017
#Daur
https://www.caknun.com/2017/wahai-do/