Anak-anak muda itu ditertawakan oleh Sundusin. “Sebenarnya”, katanya, “orang tidak mengerti Do sama sekali juga tidak masalah. Asalkan hidup dan perilakunya berada sempurna pada Do ketika memang seharusnya Do. Dan berada di La Si atau koordinat apapun tatkala semestinya memang demikian”
Kalau alam, binatang dan Malaikat selalu pada kewajaran Do sebagaimana Tuhan mengonsepnya langsung. Hanya manusia, yang lantaran diberi ruang demokrasi dan kemandirian untuk mengambil keputusan, maka ia dapat melaksanakan banyak sekali penyelewengan: seharusnya Do si insan malah Sol, misalnya. Manusia diberi ruang untuk berdusta, memanipulasi, berpura-pura, menjebak sesamanya, menjiplak atau membikin topeng Do padahal yang di baliknya yakni La.
Sesungguhnya, duduk kasus utama pada insan bukan ilmu. Mungkin akhlaq, atau aqidah, meskipun antara ketiganya dapat saling berdialektika dan sebab-mengakibatkan satu sama lain. Anjing mustahil mempunyai alat untuk memahami Do, tapi ia tidak pernah berada di selain Do jikalau “qadla dan qadar”-nya memang Do. Beruang atau Bajing tidak pernah mengambil, mengonsumsi atau melahapi suatu konsumsi lebih dari yang dibutuhkannya. Bahkan Kadal dan Tokek, lebih setia kepada Do dan selalu meletakkan diri pada presisi gelombang hidupnya.
Berbeda dengan insan yang sangat berbakat untuk hina lantaran kecurangannya. Berkecenderungan untuk rendah derajat lantaran ditawan oleh kepentingan, nafsu dan ambisinya. Manusia, bersama Jin, yakni dua makhluk yang dianugerahi kebebasan beserta perangkat-perangkat untuk bebas.
Dan lantaran insan sangat hobi untuk memenjarakan dirinya di dalam kesempitan dan kedangkalan, sangat suka mengkonsumsi hal-hal yang rendah dan hina, maka insan sangat kreatif untuk mencitrakan La Si Sol sebagai seakan-akan Do. Dan itulah modal utama insan di dalam kudeta politik, pemalsuan eksistensi sosial budaya, serta di wilayah-wilayah manapun kawasan ia menipu dan menganiaya dirinya sendiri.
Manusia yakni lukisan yang tidak patuh kepada pelukisnya. Manusia yakni lukisan yang mengambil keputusan sendiri apa warna yang disukainya, garis, guratan, cuatan dan tekstur yang dinafsuinya. Manusia yakni burung yang nekat menggonggong lantaran dengan menggonggong lah ia memperoleh laba pribadi. Manusia yakni anjing yang pasang baliho dan poster-poster di mana ia mengumukan kicauan dan kokoknya, padahal ia bukan burung maupun ayam.
Landasan nilai dan substansi berpikir seluruh peradaban modern ummat insan di muka bumi, yang dirintis pada kala 14 dan memuncak pada kala 20-21 ketika ini, ada dua. Pertama, insan yang membuat alam semesta dan dirinya sendiri. Kedua, maka desain administrasi hidup dan pembangunan peradabannya yakni insan merasa mempunyai Hak Asasi, sehingga atas kemauan dan ukuran-ukuran insan pula segala sesuatu diselenggarakan. Nanti satu persatu insan akan datang pada hari di mana mereka terpojok untuk mengakui bahwa yang ada padanya hanyalah Pseudo Hak Asasi Manusia.
Para pegawai Allah menemui mereka untuk memberikan pertanyaan dan pernyataan-Nya: “Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [1] (Al-Waqi’ah: 59). “Sesungguhnya Kami membuat segala sesuatu berdasarkan ukuran” [2] (Al-Qamar: 49) “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian”. [3] (Al-Muddatstsir: 11)
Kalau alam, binatang dan Malaikat selalu pada kewajaran Do sebagaimana Tuhan mengonsepnya langsung. Hanya manusia, yang lantaran diberi ruang demokrasi dan kemandirian untuk mengambil keputusan, maka ia dapat melaksanakan banyak sekali penyelewengan: seharusnya Do si insan malah Sol, misalnya. Manusia diberi ruang untuk berdusta, memanipulasi, berpura-pura, menjebak sesamanya, menjiplak atau membikin topeng Do padahal yang di baliknya yakni La.
Sesungguhnya, duduk kasus utama pada insan bukan ilmu. Mungkin akhlaq, atau aqidah, meskipun antara ketiganya dapat saling berdialektika dan sebab-mengakibatkan satu sama lain. Anjing mustahil mempunyai alat untuk memahami Do, tapi ia tidak pernah berada di selain Do jikalau “qadla dan qadar”-nya memang Do. Beruang atau Bajing tidak pernah mengambil, mengonsumsi atau melahapi suatu konsumsi lebih dari yang dibutuhkannya. Bahkan Kadal dan Tokek, lebih setia kepada Do dan selalu meletakkan diri pada presisi gelombang hidupnya.
Berbeda dengan insan yang sangat berbakat untuk hina lantaran kecurangannya. Berkecenderungan untuk rendah derajat lantaran ditawan oleh kepentingan, nafsu dan ambisinya. Manusia, bersama Jin, yakni dua makhluk yang dianugerahi kebebasan beserta perangkat-perangkat untuk bebas.
Dan lantaran insan sangat hobi untuk memenjarakan dirinya di dalam kesempitan dan kedangkalan, sangat suka mengkonsumsi hal-hal yang rendah dan hina, maka insan sangat kreatif untuk mencitrakan La Si Sol sebagai seakan-akan Do. Dan itulah modal utama insan di dalam kudeta politik, pemalsuan eksistensi sosial budaya, serta di wilayah-wilayah manapun kawasan ia menipu dan menganiaya dirinya sendiri.
Manusia yakni lukisan yang tidak patuh kepada pelukisnya. Manusia yakni lukisan yang mengambil keputusan sendiri apa warna yang disukainya, garis, guratan, cuatan dan tekstur yang dinafsuinya. Manusia yakni burung yang nekat menggonggong lantaran dengan menggonggong lah ia memperoleh laba pribadi. Manusia yakni anjing yang pasang baliho dan poster-poster di mana ia mengumukan kicauan dan kokoknya, padahal ia bukan burung maupun ayam.
Landasan nilai dan substansi berpikir seluruh peradaban modern ummat insan di muka bumi, yang dirintis pada kala 14 dan memuncak pada kala 20-21 ketika ini, ada dua. Pertama, insan yang membuat alam semesta dan dirinya sendiri. Kedua, maka desain administrasi hidup dan pembangunan peradabannya yakni insan merasa mempunyai Hak Asasi, sehingga atas kemauan dan ukuran-ukuran insan pula segala sesuatu diselenggarakan. Nanti satu persatu insan akan datang pada hari di mana mereka terpojok untuk mengakui bahwa yang ada padanya hanyalah Pseudo Hak Asasi Manusia.
Para pegawai Allah menemui mereka untuk memberikan pertanyaan dan pernyataan-Nya: “Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?” [1] (Al-Waqi’ah: 59). “Sesungguhnya Kami membuat segala sesuatu berdasarkan ukuran” [2] (Al-Qamar: 49) “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian”. [3] (Al-Muddatstsir: 11)
Jakarta, 10 Desember 2017