“Kambing bertebaran di hamparan firman-firman. Tentu ada kode, maksud tersurat atau tersirat di balik itu”, Pakde Brakodin meneruskan pecahan kambing, “Seakan-akan Tuhan memaparkan ihwal fenomena-fenomena psikologi, watak, budaya, mungkin seni administrasi politik manusia, melalui cerita Bani Israel dengan kambing betina”
Di rumah-rumah ibadat tertentu para pemimpinnya menyebut diri Penggembala, sementara jemaatnya yaitu domba-domba. Ketika Allah menggambarkan orang-orang yang mempunyai hati tapi tak dipergunakan untuk memahami, mempunyai mata dan indera pendengaran tapi menjalani karier hidup dengan buta dan tuli atas sesamanya, dengan “mereka menyerupai binatang ternak, bahkan lebih hina” [1] (Al-A’raf: 179) mestinya yang paling terkenal dan ranking 1 binatang ternak yaitu kambing. Meskipun orang juga berternak lembu, kerbau, bebek, ayam, lele. Bahkan ada yang berternak rakyat – yakni memperlakukan rakyat dengan tata kelola peternakan.
Pun Nabi Daud yang perkasa, Bapaknya Nabi Sulaiman yang agung, ada urusan dengan kambing. Tuhan berkata kepadanya: “Sesungguhnya beliau telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan bekerjsama kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya kemudian menyungkur sujud dan bertaubat”. [2] (Shaad: 24)
“Coba Jitul”, kata Pakde Brakodin, “apa yang kau ingat ihwal kambing”.
“Dalam sejarah alam di mana insan hadir, kambing selalu diternakkan”, jawab Jitul, “bermacam-macam cara menternakkannya, tapi diternakkan, tidak dibiarkan liar. Ada yang dihimpun dalam kandang, pada siang hari digiring mencari rerumputan. Ada yang diikat lehernya dengan tali, dan tali itu diikatkan pada sebuah patokan”
“Junit?”, Brakodin berpindah tanya kepada Junit.
“Panjangnya tali ke leher kambing diukur menurut jaminan keamanan bahwa kambing tidak memakan rumput yang bukan milik penggembalanya. Jangan hingga kambing menerobos masuk ke kebun yang bukan haknya”
“Seger?”
“Patokan kambing dapat sebuah batu, atau kayu yang ditancapkan. Atau kalau penggembalanya punya waktu luang, pangkal tali itu ia sendiri yang memegangnya. Seorang penggembala, alasannya yaitu ia manusia, dapat berdisiplin dengan tidak membawa kambingnya makan rumput yang haram baginya. Tapi dapat juga nakal, demi kepentingan kesuburan kambingnya, ia justru membawa kambingnya ke kebun-kebun yang bukan miliknya”
“Toling?”
“Kambing Zaman Now tidak mau ditali lehernya dan tidak ada patokan yang disiapkan untuk mengendalikannya”, jawab Toling, “kambing Zaman Now semakin banyak yang berpendidikan dan beradab. Mereka sangat sadar Hak Asasi Kambing. Mereka tidak mau ditali dan diikat oleh patokan. Mereka mandiri, mempunyai anutan sendiri yang orisinal. Kambing-kambing Zaman Now hidup di kebun-kebun Demokrasi. Mereka merdeka. Mereka melaksanakan apa saja yang mereka ingin lakukan. Kambing Zaman Now memenuhi kota-kota, pantai-pantai, bentangan tanah-tanah seluas-luasnya, memakan semua rerumputan dan dedaunan serta apa saja dan di mana saja yang mereka mau…”.
Di rumah-rumah ibadat tertentu para pemimpinnya menyebut diri Penggembala, sementara jemaatnya yaitu domba-domba. Ketika Allah menggambarkan orang-orang yang mempunyai hati tapi tak dipergunakan untuk memahami, mempunyai mata dan indera pendengaran tapi menjalani karier hidup dengan buta dan tuli atas sesamanya, dengan “mereka menyerupai binatang ternak, bahkan lebih hina” [1] (Al-A’raf: 179) mestinya yang paling terkenal dan ranking 1 binatang ternak yaitu kambing. Meskipun orang juga berternak lembu, kerbau, bebek, ayam, lele. Bahkan ada yang berternak rakyat – yakni memperlakukan rakyat dengan tata kelola peternakan.
Pun Nabi Daud yang perkasa, Bapaknya Nabi Sulaiman yang agung, ada urusan dengan kambing. Tuhan berkata kepadanya: “Sesungguhnya beliau telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan bekerjsama kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya kemudian menyungkur sujud dan bertaubat”. [2] (Shaad: 24)
“Coba Jitul”, kata Pakde Brakodin, “apa yang kau ingat ihwal kambing”.
“Dalam sejarah alam di mana insan hadir, kambing selalu diternakkan”, jawab Jitul, “bermacam-macam cara menternakkannya, tapi diternakkan, tidak dibiarkan liar. Ada yang dihimpun dalam kandang, pada siang hari digiring mencari rerumputan. Ada yang diikat lehernya dengan tali, dan tali itu diikatkan pada sebuah patokan”
“Junit?”, Brakodin berpindah tanya kepada Junit.
“Panjangnya tali ke leher kambing diukur menurut jaminan keamanan bahwa kambing tidak memakan rumput yang bukan milik penggembalanya. Jangan hingga kambing menerobos masuk ke kebun yang bukan haknya”
“Seger?”
“Patokan kambing dapat sebuah batu, atau kayu yang ditancapkan. Atau kalau penggembalanya punya waktu luang, pangkal tali itu ia sendiri yang memegangnya. Seorang penggembala, alasannya yaitu ia manusia, dapat berdisiplin dengan tidak membawa kambingnya makan rumput yang haram baginya. Tapi dapat juga nakal, demi kepentingan kesuburan kambingnya, ia justru membawa kambingnya ke kebun-kebun yang bukan miliknya”
“Toling?”
“Kambing Zaman Now tidak mau ditali lehernya dan tidak ada patokan yang disiapkan untuk mengendalikannya”, jawab Toling, “kambing Zaman Now semakin banyak yang berpendidikan dan beradab. Mereka sangat sadar Hak Asasi Kambing. Mereka tidak mau ditali dan diikat oleh patokan. Mereka mandiri, mempunyai anutan sendiri yang orisinal. Kambing-kambing Zaman Now hidup di kebun-kebun Demokrasi. Mereka merdeka. Mereka melaksanakan apa saja yang mereka ingin lakukan. Kambing Zaman Now memenuhi kota-kota, pantai-pantai, bentangan tanah-tanah seluas-luasnya, memakan semua rerumputan dan dedaunan serta apa saja dan di mana saja yang mereka mau…”.
Jakarta, 2 Desember 2017