ADS

Empat Dari Sepuluh

Air yang mereka tadahi dari Mataair Maiyah mungkin sekedar dijadikan minuman untuk kesejukan di tenggorokan hidup bersama keluarga. Untuk peluasan dan pendalaman ilmu kehidupan. Untuk racikan gres kesehatan dan pengobatan. Untuk meningkatkan kualitas Ziro’ah, eksplorasi kreativitas Shina’ah dan respons terhadap perubahan tata penghidupan Tijaroh. Atau dapat juga untuk penghimpunan energi zaman melawan kedhaliman nasional dan global. Bahkan lebih menyeluruh, bulat, kaffah sekaligus detail dan ‘serbuk’.

Tetapi skala mereka sebatas “wala tansa nashibaka minad-dunya”. Tumpuan mereka yaitu “innalloha ‘ala kulli syaiin qodir”. Koridor ilmu mereka yaitu kesadaran bahwa pelaku utama perubahan yaitu Allah sendiri. Serta takkan mereka lukai atau retak-kan nikmat Allah berupa perkenan Al-Muhtadin dan ikhtiar Al-Mutahabbina Fillah.

Pun jangan lupa: Mataair Maiyah dapat tidak berkhasiat apapun. Orang tiba ke Mataair Maiyah sekadar untuk memetik laba bagi dirinya sendiri. Maiyah dapat tidak pernah menjadi apa-apa. Menguap ke kekosongan zaman. Sirna dari lembaran buku sejarah dan kehidupan. Menjadi hamparan kerakal-kerikil diinjak-injak oleh gajah Abrahah. Bisa sebab kemalasan mental, kesemberonoan ilmu, kejumudan spiritual, atau ketidakberdayaan memanggul berkah. Maiyah menjadi ‘ilmun la yanfa’. Ilmu yang tidak bermanfaat. Dihentikan oleh Allah.

Subscribe to receive free email updates:

ADS