Yang paling gampang diprasangkai yaitu Itskov ingin “menelanjangi” semua ummat manusia, seluruh data wacana insan ada di genggamannya, sehingga “satu sistem dunia” yang dipimpinnya menguasai dan mengendalikan setiap langkah peradaban manusia.
Prasangka lain yaitu insan hologram ini merupakan kritik kepada Tuhan yang meskipun sudah membuat “manusia bibit unggul baru” yang “ahsanu taqwim” tapi tetap saja kejam kepada sesamanya, gila kekuasaan, maniak keduniaan, merusak bumi dan menumpahkan darah, menipu, merekayasa, menjajah, menjebak, memonopoli. Cita-cita Itskov yaitu merevisi software atau jiwa manusia.
Atau pembikin Hologram ini mungkin “ngonangi” atau memergoki sesuatu yang selama ini tersembunyi, yakni bahwa sesungguhnya insan hanyalah sesosok hologram. Ia hanya suatu sistem dan prosedur yang mata insan menangkapnya sebagai suatu sosok. Sosok itu bergotong-royong tak ada. Sebagaimana mungkin cahaya itu katanya bergotong-royong tak ada. Ia hanya sebuah insiden “silaturahmi” antar benda dan sifat tertentu, yang saat insan melihat dengan matanya: ia merumuskan itu yaitu cahaya.
Atau mungkin juga dengan warna. Pada hakikatnya tidak ada merah, hijau atau kuning. Yang ada hanyalah insiden insan di mana pandangan mata insan terbentur dengan sesuatu yang lalu dirumuskan sebagai warna merah. Apalagi hitam. Aku pernah dikasih tahu anakku, yang tidak sungguh-sungguh kupahami hingga hari ini – bahwa warna hitam itu tak ada. Yang disebut warna hitam hanyalah suatu insiden anasir-anasir alam di mana cahaya tidak terlibat.
Nanti di sorga insan bisa melihat beribu-ribu warna yang belum pernah dilihatnya di dunia. Satu-satunya warna di sorga yang ada di dunia yaitu hijau tua. Itu sekadar simulasi dari himpunan informasi yang tersedia pribadi dari Tuhan. Itu salah satu hal yang mengasyikkan untuk menguak-nguak masa depan. Tempo hari saya mencoba menguak masa silam: tidak lantaran saya gila masa silam, melainkan lantaran orang-orang di sekitarku memerlukan cermin masa silam supaya sedikit bisa memperbaiki planologinya ke masa depan.
Tetapi jika ternyata masyarakat Negeriku ini tidak memerlukannya, saya lebih gembira. Setiap huruf, begitu simpulan kuketik, ia menjadi masa silam. Setiap abjad yang belum kuketik, ia masih masa depan.
Sesungguhnya yang disebut masa kini atau “sekarang” jatah waktunya mungkin seperseribu waktu yang kita perlukan untuk mengetik sebuah huruf. Semua yang kita pertengkarkan yaitu suplai ke masa silam. Setiap buku wacana masa silam. Setiap wacana yaitu masa silam.
Semua Nabi dan Rasul bersemayam di masa silam. Tetapi mereka tetap ada di seperseribu sekon masa kini kita masing-masing. Juga terserah kita akan mengangkutnya ke masa depan atau tidak. Kita tidak pernah sempat bersandar di dingklik masa kini, alasannya yaitu pemikiran masa silam ke masa depan sedemikian cepatnya. Sehingga kita tidak perlu konyol untuk mempertengkarkan catatan-catatan statis wacana sesuatu yang kita anggap masa silam. Ketika suku-kata kedua kuucapkan kepadamu, suku-kata pertama sudah memasa silam.
Maka tiap hari dan malam saya kesana kemari, sambil kusempatkan membuat tulisan, untuk “ndhedher” masa depan itu. Ndhedher apa? Dan ndedher itu apa? Apakah maksudku di tulisan-tulisan itu akan pernah hingga kepadamu? Apakah ada cakrawala di dalam kotak-kotak? Apakah ada langit di dalam satu warna yang menolak warna lainnya? Kita selip jalan, berpapasan dan berseliweran di antara masa silam dan masa depan, tanpa bisa duduk hening di masa kini.
Pemahaman apa yang bisa kita harapkan di antara kita?
Seorang teman menuntut: “Jadi kenapa Sampeyan menulis tiap hari jika jadinya tidak dipahami?”. Bagaimana saya menjawabnya? Di antara ribuan titik hujan deras yang engkau terguyur oleh sebagiannya, titik air yang mana yang kamu perlukan? Titik air mana yang membawa hidayah Tuhan kepadamu? Titik hujan yang mana yang harus menyentuhmu sehingga rezeki itu nanti tiba menghampirimu? Kalau engkau bersama orang sekantor berdoa bersama memohon supaya perusahaan tidak bangun lantaran regulasi-regulasi yang tak menentu: ucapan “Amiiiin” siapa yang Tuhan kabulkan? “Amiiin”nya Direktur, Satpam, Tukang Sapu atau siapa?
Kalau engkau menabur benih, ada benih yang pribadi bersemi. Ada benih lainnya menunggu besok pagi untuk menggeliat. Ada yang beberapa hari, beberapa ahad gres memuai. Bahkan ada pohon yang menunggu puluhan tahun sebelum orang mengetahui makna dan manfaatnya.
Di balik itu semua, apakah kamu murka kepadaku jika kukatakan bahwa saya menulis ini justru lantaran saya tidak paham? Anakku kasih info kepadaku tidak wacana Dmitry Itskov dengan tema fenomenologi fisika. Yang dilakukan anakku yaitu “memberitahukan sesuatu yang menggembirakanku”. Makara tak ada gunanya kamu lemparkan ke jidatku hardikan “dibayar berapa ini orang fisikawan dadakan omong wacana sesuatu yang ia tidak paham”.
Kemarin saya menjawab pertanyaan wacana beda antara Pemerintah dengan Negara, maka saya dihardik: “siapa yang bayar pakar aturan dadakan itu omong wacana Negara?”. Pasti dia tidak tahu bahwa masuk SD dulu saya mbayar “juwet”. Maka hidupku bagaikan juwet. Tulisanku yaitu goresan pena juwet. Mal juwetu, wa mal juwetu, wama adroka mal juwetu?
Mana mungkin kujawab. Aku bukan pakar juwet. Aku tak bisa mengambarkan kepadamu wacana “simbukan” sebelum Ibumu mengoleskannya ke hidup atau mencekokkannya ke mulutumu. Bahkan wacana yang biasa saja: manis, pahit, asam, panas, dingin, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata kepada orang yang belum pernah mencicipi di pengecap dan seluruh badannya. Anak kecil harus dituntun pelan-pelan untuk bisa membedakan jenis sakit perut yang dideritanya: “mules”, “sebah”, “mbededeg”, atau “senep”. Kenapa secara umum dikuasai penduduk Jawa di Indonesia tidak memaksakan Bahasa Jawa sebagai Bahasa Nasional, lantaran tidak tega kepada yang lainnya untuk harus menghapalkan beda antara aroma “badheg”, “apek”, “lengur”, “pesing”, “prengus”, “sangit”, “lebus” dan banyak lagi.
Ketika SD saya dikeluarkan dari kelas gara-gara menaburkan “rawé” di dingklik Pak Guru. Sejak itu ia berlaku lebih hati-hati, waspada, mempertimbangkan sebelum bicara. Lebih sabar dan bijaksana.
Sidoarjo, 13 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/pakar-juwet/