Aku merasa berdosa lantaran belum bisa menatap wajah itu, beserta wajah-wajah dan gambar-gambar seluruh keadaan itu – dengan perasaan nrimo dan hati yang legolilo. Karena sangat bertentangan dengan pengetahuanku ihwal Negara dan kawruh-ku ihwal kepemimpinan. Sementara itu mustahil saya mendapat perintah “Idzhab ila Fir’auna innahu thagha“. Pergi temuilah Fir’aun, lantaran ia sudah sangat melampaui batas. Bahkan saya belum menawarkan kesanggupan untuk menemuinya. Jangankan saya yang berinisiatif tiba menemuinya.
Sebab saya bukan Nabi dan toh tidak ada Fir’aun di sini. Memang satu dua kesamaan unsur dan kecenderungan, tapi posisi dan konteksnya terbalik. Firaun bebuyutan sukses memimpin perekonomian untuk kesejahteraan rakyatnya selama hampir tiga milenium. Bahkan hingga hari ini masih mewarisi devisa kemakmuran bagi rakyat Mesir dengan peninggalan-peninggalannya yang termasuk keajaiban dunia.
Kesalahannya cuma satu: tidak mentuhankan Tuhan. Sedangkan yang kudiami ialah Negeri yang mengutamakan Ketuhanan Yang Maha Esa, meskipun semakin usang “nasib” Tuhan semakin terbengkalai.
Masalahnya, Tuhan tidak rugi apa-apa meskipun seluruh penghuni bumi menterbengkalaikan-Nya. Yang membengkalai-Nya-lah yang keadaannya menjadi semakin terbengkalai. Makin terpuruk.
Makin merusak dirinya sendiri. Makin cendekia menghancurkan masa depan rakyatnya sendiri.
Makin tidak fokus terhadap kewajibannya, lantaran habis waktunya untuk memperkokoh kekuasaan dan kepentingannya sendiri, sambil mempersiapkan kekuasaan berikutnya, dengan melintahi darah rakyatnya sendiri.
Makin canggih teknik dan taktik bunuh dirinya tanpa pernah jujur mengakui bahwa mereka sedang bunuh diri. Para Nabi dan Rasul sepanjang zaman mustahil putus asa, apapun saja tantangan yang dihadapinya. Karena Allah dan para Malaikat mengawal mereka secara langsung.
Tetapi saya putus asa. Sekali lagi kutegaskan: saya putus asa. Tak henti saya berkeliling jumpa ribuan orang, membesarkan hati mereka, dalam keadaan hatiku sendiri berputus asa. Tiap hari saya menuliskan segala yang wajib kuungkapkan, dengan menyimpan rasa frustasi yang setengah mati kurahasiakan.
Sampai-sampai seorang sobat mengkritikku: “Sampeyan kini berubah. Di masa muda dulu tulisan-tulisan Sampeyan gagah, penuh kegembiraan dan optimisme. Ketika sudah renta kini ini goresan pena Sampeyan buram, banyak mengeluh dan penuh kesedihan”.
Kaget juga saya mendengarnya. Tapi sesaat kemudian tiba-tiba saya tertawa keras, terpingkal-pingkal bahkan terbahak-bahak.
“Hampir Mas, hampir”, saya menanggapi, “Ibarat sepakbola, kesimpulan Njenengan itu sudah di kotak penalti tapi bola belum masuk ke gawang”. Kemudian kudekatkan kepalaku ke kepalanya. Aku berbisik lirih ke telinganya, namun dengan pernyataan yang sangat tegas: “Aku ini bukan sekadar murung dan mengeluh, Mas. Aku ini putus asa!”
Sahabat itu kaget: “Lho kenapa kok putus asa?”, ia bertanya.
“Kalau saya bisa mengungkapkan mungkin saya tak seputus asa ini”, saya menjawab.
“Tentang apa ini?”
“Tentang hal-hal yang membuatku putus asa”
“Lha ya ihwal apa?”
Kuulang lagi: “Kalau saya ungkapkan hal-hal itu, akan menjadikan hal-hal berikut yang menambah putus asaku. Maafkanlah, lantaran saya sangat menyayangi mereka dan mengasihi semua itu. Dan sedalam itu cintaku, sedalam itu pulalah putus asaku”
“Siapa itu yang membuatmu putus asa?”
“Kekasihku”
“Lho punya kekasih kok malah putus asa?”
“Karena saya bukan kekasihnya. Aku saja yang mengasihinya. Ia tidak mengasihiku”
“Waduh…”
“Semakin usang saya semakin tidak bisa memahaminya. Sementara ia tidak ada urusan untuk memahami atau tidak memahamiku. Apapun saja yang kulakukan, tak bermanfaat untuknya. Mungkinkah pada posisi itu saya tidak berputus asa?”
Bahasa Qur`annya frustasi itu: taiasu. Aku sungguh-sungguh taiasu. Hubunganku dengan kekasihku itu benar-benar taiasu setaiasu-taiasunya. Aku putus harapan. Patah arang. Benang berair kutegakkan. Kucari sebatang jarum di tengah padang rerumputan.
Aku tidak mengajak siapapun untuk berputus asa, tapi saya putus asa. Aku tidak menganggap orang yang tak frustasi itu salah, tapi saya tak akan berpura-pura seakan-akan tidak putus asa.
Kalau Anda atau para Nabi dan Rasul tidak putus asa, itu wajar. Tapi jika aku, tidak putus asa itu sombong, sok cool, berlagak tangguh. Atau contohnya Nabi Musa. Beliau bukan hanya Nabi dan Rasul. Tapi Allah mengistimewakannya dengan pemandatan amanah Nubuwah, Risalah, dengan kemudahan Kitab Suci dan sejumlah mukjizat yang kasat mata, plus kanal dan perkenan untuk bisa berkomunikasi pribadi dengan-Nya. Kapan saja ia mengalami dan mencicipi kesulitan, kebingungan atau kesedihan – bisa pribadi “curhat” kepada Allah.
Adapun siapakah aku, sehingga pantang berputus asa? Seberapa daya dan kuasaku atas sangat tumpukan duduk perkara yang tak terjangkau ini, sehingga bisa tidak berputus asa? Kepada Allah pun saya tidak takut untuk menyatakan bahwa saya putus asa. Takkan kusembunyikan taiasuku. Takkan kututup-tutupi putus asaku. Bahkan jika ada yang tiba kepadaku berkata: “Putus asa itu dosa. Allah melarang kita putus asa. Tidak ada yang frustasi kecuali orang kafir”. Silakan.
Dan sudah kusiapkan jawabanku untuk itu: “Tidak! Putus asa belum tentu dosa”. Kalau ada orang berputus asa tidak serta merta bisa disebut orang kafir. Meskipun “innahu la yaiasu min rouhillahi illal qoumul kafirin“, tapi kan “yaiasu“-nya tidak bangun sendiri, melainkan “min rouhillah“. Putus asa tidak bangun sendiri tanpa konteks, lantaran akibat, ruang dan waktu.
Aku putus asa, tapi terus berjalan, terus bekerja, terus berkeliling. Aku hanya satu di antara formasi angka-angka, tapi saya lebih berpengaruh tidak tidur dan sedikit makan dibanding manusia. Aku hanya sebutir bubuk teramat kecil, diterbangkan angin tanpa mata melihatnya, tetapi saya tidak rebah, saya tidak telentang menatap langit.
Salah satu kegiatanku di dunia ialah menjadi keranjang sampah kawasan orang membuang apapun saja yang mereka tak mau hal-hal itu ada pada dirinya. Atau menjadi tukang tambal ban. Menyorong truk mogok. Menjahit yang robek-robek. Menerangi yang gelap. Menghimpun yang terserak. Memadamkan sekam yang akan menjadi ledakan api. Menemani yang sakit. Menyapa yang kesepian.
Menghibur yang sedih. Memijiti yang pegal-pegal. Mengisi yang kosong. Mengingat yang dilupakan. Memungut yang dibuang.
Tetapi terkadang saya merenung sendiri: siapakah keranjang sampah bagi “uwuh” rasa takut dan kengerian hidupku? Terkadang saya bersujud dan mengeluh kepada Tuhan. Innama asyku battsi wa huzni ilaiKa. Sesungguhnya kukeluhkan takut dan sedihku kepada-Mu. Tetapi selalu dibayangi oleh usikan diriku kepada diriku sendiri: memangnya siapa kau wahai diriku. Apa andalanmu sehingga kau merasa cukup pantas untuk didengarkan oleh-Nya?
Di ketika lain muncul kecengengan merasuki hatiku: apakah saya ini siapa-siapa bagi kekasihku? Aku ingat puisi Emily Dickinson “I am nobody, who are you?“ Is there anybody who is nobody too? Aku bukan siapa-siapa bagi kekasihku. Karier tak ada, profesipun saya tak punya. Aku hanya segumpal personalitas, yang tercampak dari langit, namun tanpa identitas di bumi. Aku sekadar orang, dan bukan seseorang, yang berbeda dengan lainnya sehingga menjadi seseorang.
Kelemahanku sebagai insan biasa sering juga memojokkanku untuk berkecil hati. Orang Jawa bilang “wis dadi wong” untuk seseorang yang sukses. Sukses itu maksudnya kaya dan menjadi pembesar. Sementara saya ini belum belum pernah “jadi orang”. Tidak punya “merk”. Tanpa “branding”. Aku hanya sebutir bubuk di tengah padang fatamorgana, yang sangat kucintai dan kukagumi, namun saya gagal paham terhadapnya. Cintaku macet kepadanya.
Aku “hanya” mencintainya. Namun lantaran kegagalan memahaminya, saya ingin sekali merajuk sebagaimana Nabi Musa merajuk kepada Tuhan: “Ya Allah, mbok saya Engkau jadikan makhluk yang pertama kali Kau ciptakan…?”, kata beliau.
Tahukah engkau apa kira-kira yang melatarbelakangi lahirnya seruan itu, dan tahukah kira-kira apa balasan Tuhan kepada beliau?
Uijeongbu, Perbatasan Korea Selatan-Korea Utara,
6 Oktober 2017
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/taiasu/