Perbedaan di antara keduanya sangat ekstrem, dengan kekuatan hujjah persepsi serta dengan kemantapan keyakinan masing-masing. Yang satu yakin sedang dijunjung, lainnya menyimpulkan sedang dijajah. Yang satu beropini mereka hidup dalam sukses demokrasi, lainnya berpegangan bahwa mereka sedang diinjak oleh otoritarianisme kekuasaan.
Andaikan dua keyakinan menggumpal dan dua kekuatan ini meruncing, maka tidak sanggup dibayangkan dahsyatnya benturan horizontal yang sanggup terjadi. Tetapi tampaknya tak akan terjadi sejauh itu. Arena peperangan mereka hanya di hati, pikiran dan mulut. Paling jauh peta uang skala-skala kecil. Semua itu hanya bab dari “auto-crash” atau “auto-conflict” yang merupakan produk dari rancangan global untuk menangani Indonesia dan Ummat Islam, dengan formula penguasaan dan pengendalian yang sudah matang semenjak jauh-jauh hari.
Untuk menjajah Indonesia yang kaya raya dan Kaum Muslimin secara umum dikuasai yang absurd tidak memerlukan formula menyerupai Gorbachevisme, Balkanisasi atau Arab Spring. Cukup sejumlah paket langgar domba, tipu-tipu wacana dan aktivitas iming-iming keuangan. Tidak akan ada yang istiqamah dan telatèn menolong bangsa ini untuk dipandu memproses keseimbangan pandangan, objektivisasi atau proporsionalisasi. Kaum intelektual di level menengah tidak berdialektika dengan publik untuk proses semacam itu. Tidak susah untuk memasukkan mereka ke dalam jala besar tipudaya global, alasannya ialah saku mereka tidak disiapkan untuk menyimpan idealisme, ideologi atau daya juang. Melainkan dikosongkan untuk tawaran karir, saluran politik dan ekonomi.
Saya pribadi yang secara rutin bertemu dengan massa, yang sebut saja “Masyarakat Tahlil“. Tidak sama persis dengan “Masyarakat Tahlilan“. Tahlilan ialah suatu produk Ijtihad sastra spiritual, menghimpun sejumlah ayat pilihan, dikomposisi dengan dzikir dan shalawat, diaplikasikan secara “semi-teater”. Menjadi tradisi berabad-abad dilakukan oleh masyarakat Muslimin tertentu untuk memelihara silaturahmi mereka dengan Allah dan Rasulullah. Mereka ialah “rakyat”-nya Muhammad saw, mengandalkan syafaatnya untuk kesejahteraan hidup mereka dunia akhirat, lebih dari andalan mereka kepada Negara. Pemetaan hidup mereka bukan terutama Globalisasi, dan NKRI berposisi sebagai kekasih yang mereka rawat dan sayangi.
Masyarakat Tahlil mungkin lebih esensial dari itu. Route keinginan mereka bukan Khilafah formal, Negara Islam, penguasaan ekonomi makro, atau kehebatan karir dan prestasi. Mereka juga bukan tidak tahu atau tidak gelisah bahwa mereka dijajah oleh Negara, dikempongi oleh Globalisasi, bahkan ditunggangi, dimanfaatkan dan dijual-jual oleh pemimpin-pemimpin mereka sendiri. Tetapi dalam perspektif nilai hidup mereka: “Sabil” mereka bukan sukses dan unggul di dunia, melainkan Ridhallah Fi Sabilillah. “Syari’” mereka bukan Negara, Kerajaan, Ormas atau satu-satuan padat lainnya. “Thariq” mereka pribadi pakai jalan tol “Shirathal Mustaqim”.
Mereka tidak mau bertele-tele melingkar-lingkar urut kacang di persatuan kesatuan semua atau pseudo-ukhuwah Islamiyah. Nilai-nilai yang menghubungkan masyarakat dengan saya hampir tiap malam di lapangan-lapangan atau diberbagai bentuk interaksi lainnya itu bukan nilai-nilai yang berlaku dalam Negara. Saya mengutamakan silaturahmi massa di tingkat Kabupaten ke bawah. Meskipun yang duduk bersama saya di panggung memang ada Bupati atau Camat atau Lurah, Dandim atau Danramil, Kapolres atau Kapolsek, serta banyak sekali pimpinan Muspida atau Muspika dan perangkat Desa, tetapi tema-tema yang kami diskusikan selama 4-6 jam ialah tema-tema yang Negara dan dunia modern tidak menganggapnya ada.
Tidak mungkin saya merepotkan mereka dengan menguraikan hal-hal wacana neokolonialisme dan neoimperialisme global, peng-emprit-an Garuda, pengkerdilan mental ummat, Freemason, Illuminati, Perang Asimetris, dan apapun, yang menciptakan mereka harus berbaris menjadi prajurit Pasukan Oposisi Zaman, yang Panglimanya kalah tangguh dibanding mereka, dan Komandan-Komandannya tidak pernah menunjukan konsisten dan istiqamah menyerupai mereka.
Saya sekadar membantu mengamankan perasaan mereka, membesarkan hati mereka. Memupuk ketangguhan mental mereka dalam menjalani makin beratnya kehidupan. Menancapkan “sedumuk bathuk senyari bumi”, tanahmu jangan hingga dibeli pemodal besar, kerja keras tanpa putus asa. Saya bantu buka pintu-pintu “yarzuqhu min haitsu la yahtasib”. Anak-anak selamat iman dan sanggup “wala tansa nashibaka minad-dunya”. Keluarga tenteram. Pikiran seimbang. Hati jernih. Mental tidak “gamoh”. Selebihnya saya tidak merasa perlu mengemukakan pendapat fundamental pribadi saya wacana Pemerintah, Negara dan Dunia.
Mereka hidup tangguh di wilayah dimensi yang Pemerintah, Negara, Pemerintah dan Dunia Modern Global tidak menganggapnya ada. Mereka bahagia, “tegen” dengan karomah, kuwalat, ngalap berkah, syafaat, aji, pamor, pusaka, kasepuhan, mantra, hizib, wirid, rajah, suwuk, Wali, Qutub, fadhilah, cinta segitiga, almutahabbina fillah, Panembahan, wamakarallah, sami’na wa atho’ na, Punakawan, shoihatan wahidah, Begawan, amhilhum ruwaida, minta ditampar, minta diludahi, seba mengko sore, wakul ngglimpang, serta banyak lagi, yang menciptakan mereka tak terkalahkan.
Hal-hal itu yang menciptakan mereka tidak terlibat dalam polarisasi nilai fundamental menyerupai di awal goresan pena ini. Dari sisi lain, tema-tema itu yang merupakan peluang sangat empuk bagi Pemerintah untuk tetap kondusif meski melaksanakan kejahatan separah apapun, menipu sekejam apapun, mencuri semuatan seribu kapal keruk pun. Mereka tidak akan terguncang oleh kehancuran Negara. Mereka ialah Masyarakat Tahlil. Negeri mereka ialah “La ilaha Illallah”. Mereka menang, menjadi pewaris, berkuasa atas hidupnya. Tanpo ngasorake siapapun.
Bogor, 16 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/masyarakat-tahlil/