Bagi diriku sendiri saya juga hantu. Kupikir saya kelapa, ternyata semangka. Tetapi di tengah saya berlaku sebagai semangka, ternyata saya kelapa. Ketika kemudian saya turuti fenomena kelapa, ternyata hanya blarak kering. Bahkan terkadang kujumpai diriku hanya kepingan sabut kotor gres lantaran barusan digunakan untuk “pèpèr”, pembersih anus ibarat di hotel-hotel mewah. Sebagai insan biasa hingga hari ini saya belum sanggup move on dari peradaban “cebok” ke peradaban “pèpèr” itu. Sungguh dekaden aku.
Hidup sebagai hantu itu nikmat ketika mancala putra mancala putri. Dilempar orang dengan watu lantaran dipikir saya kaca, padahal saya angin. Di ketika lain ternyata watu itu saya sendiri. Kemudian orang menyimpulkan saya batu, maka “binuldozer”, tapi tak mengenaiku, alasannya ialah saya hinggap di kaki dan tangan orang yang nyetir bulldozer. Kalau perlu saya jongkok sembunyi di sudut hatinya, atau nggandhol di salah satu helai saraf otaknya. Literasi hantu tak ada batasnya. Sedangkan Dalang saja pun tak kurang-kurang lakon di tangannya.
Tapi susah juga jadi hantu pas disuruh tanam jagung padahal nggak ngerti jagung, sehingga tak diakui oleh pemilik sawah jagung. Disuruh mendorong truk mogok, sesudah dapat jalan saya lupa berkenalan dengan sopirnya. Aku dijadikan sandal untuk melindungi kaki-kaki dari kotoran dan duri tajam. Setelah putus dan aus: ditinggal di beranda Masjid.
Disuruh ke Rumah Sakit ada orang koma tidak mati-mati, sesudah kudatangi 20 menit kemudian menarik nafas terkahir. Kemudian istri Almarhum bertanya; “Berapa biayanya, Pak?”. Rupanya saya Dukun profesional. Orang tiba ke rumah atau ketemu di warung, bertanya: “Kalau ngundang Sampeyan tarifnya berapa?”. Kalau yang nanya pakai peci atau serban istilahnya beda: “Bisyarohnya berapa?”
Beberapa waktu yang kemudian di atas panggung stadion milik Pemerintah Daerah Uijeongbu Korea, bersama ratusan TKI yang tiba dari seluruh Korea Selatan, saya menjelaskan kepada Dubes NKRI yang juga naik panggung:
“Pak Dubes, mereka semua ini memanggil saya Mbah. Semacam Kakek, Opa. Mereka tidak memanggil saya Syekh, Kiai, Ustadz atau Habib. Juga bukan Pak, sebagaimana jikalau mereka mengundang orang penting dari tanah air. Makara korelasi mereka dengan saya bukan korelasi profesional, kami ketemu tidak melalui proses transaksi keuangan. Juga tidak ada korelasi politik, tidak terkait dengan parpol, ormas dan apapun. Kami bertemu lantaran mereka ialah cucu-cucu saya yang saya sayangi. Entah korelasi apa itu namanya…”
Demikian juga jikalau saya dengan istriku tiba ke Hongkong, Taiwan, Macau, Malaysia dan Negara manapun yang kumpulan TKI-TKW meminta kedatangan kami. Semua proses “tawar-menawar” yang biasa mereka lakukan, kami tolak, termasuk urusan penjemputan di bandara, kendaraan ke penginapan, bahkan tak perlu hotel. Seadanya saja. “Kami mau tiba mengunjungi kalian asalkan posisi kami ialah Ibu dan Bapak kalian”. Sekarang malah meningkat: Kakek dan Nenek.
Harap diketahui bahwa penolakanku untuk menjadi Kiai, Ustadz atau jenis ketokohan lainnya, bukan lantaran saya orang yang rendah hati. Melainkan semata-mata lantaran saya memang tidak punya kapasitas untuk itu. Sangat banyak dari kehidupan ini, terutama kehidupan modern di Abad 21, yang tak kupahami. Entitas atau satuan yang masih sedikit akrab dengan kemungkinanku untuk paham ialah Keluarga. Maka puji Tuhan secara alamiah mereka di mana-mana memanggilku Mbah.
Ini sangat menyelamatkanku dari banyak sekali tuntutan peradaban modern: kapabilitas, berkarakter, ekspertasi, kredibilitas, leadership, ilmu dan seni untuk mensugesti orang, kharismatis, punya integritas, berkomitmen tinggi, bersikap adil, beretika, tidak takut perubahan, apalagi hingga tingkat antisipatif terhadap segala proses asimetris.
Ya Allah betapa jadulnya aku. Kalau dalam suatu pertamuan denganku, yang hadir sepuluh orang saja sudah kusyukuri luar biasa. Aku ini hidup sekadar jangan menambah problem orang. Syukur dapat membesarkan hati mereka untuk tangguh meneruskan hidup. Orang yang kelelahan kupijiti, meskipun lantas masyarakat menyimpulkan bahwa saya beralih profesi sebagai tukang pijit.
Aku shalawatan dan tahlilan dibilang NU. Aku berijtihad dibilang Muhammadiyah. Aku tiru satu dua Sunnah Rasul dibilang Wahabi. Aku shalat tidak pakai peci dibilang liberal. Aku rengeng-rengeng lagu bawah umur kuno “…rante kapal ayo pal, palu ariiit peee-kaaa-i ayo i…” – dibilang pro-PKI. Kuteruskan “…iwak babi ayo bi…bintang sabiiiit ma-syu-mi ayo mi…” dituduh melecehkan Masyumi lantaran dikaitkan dengan iwak babi. Padahal itu lagu aslinya dan folklore semacam itu tidak ada inter-relasi makna atau maksud antar kata atau kalimat.
Kalau Kartolo sang legenda uro-uro “wak sarinten klelegen ondho, cekap semanten piatur kulo”, itu bukan penghinaan kepada kaum perempuan, yang diceritakan perilakunya sedemikian rupa sehingga dapat ada “tangga” masuk ke tenggorokannya. Manusia era 21 semakin kehilangan humor dan kemesraan.
Untung mereka tak peka bahwa saya seorang radikalis: dari seribu perempuan kupilih hanya satu untuk kunikahi. Aku makan tidak dengan konsep kuliner. Puluhan tahun hidup beruntung tidak mengenal demokrasi. Sebab jikalau atas hak asasi dan demokrasi, saya boleh tidur banyak-banyak dan berkeluarga sakinah, tidak harus melayani ribuan orang dari hari ke hari. Ilmu hidupku sederhana: lapar itu baik, kenyang itu kurang baik, kekenyangan itu tidak baik, kelaparan itu buruk. Tapi lantaran rumus itu saya di-bully: “Dibayar siapa itu mahir kesehatan dadakan?”
Terkadang jengkel benar saya sama Tuhan. Hidup sekali kok ditaruh di daerah yang tidak pada tempatnya. Bikin warung Angkringan saja tidak becus, kok disuruh menjawab konsultasi wacana Migas, Bea Cukai, Pom Bensin, Sekolah Perwira, meredam Perang Suku, mencari nalar biar ledakan “busung”, mendamaikan Gank-gank tawur, sakit kanker, istri minggat, membereskan kontroversi penduduk hal pendirian bandara gres internasional, atau orang pinjam modal.
Gusti Pengeran Allahumma tuhno, Allahumma tèkno…Turun dari pesawat, keluar dari bandara menuju kendaraan penjemput, diserobot seorang lelaki pincang sebelah kakinya: “Cak, istriku selingkuh, saya harus gimana?”. Ini mestinya obrolan dan konsultasi panjang di kantor. Tapi tak sempat mikir dan tak ada waktu, saya menjawab: “Pilih, mulia atau laki-laki”. Aku masuk kendaraan.
Besoknya balik ke bandara itu lagi mau pakai first flight sehabis maiyahan hingga 04.00 plus salaman 4 jam. Turun mobil, diserobot lagi oleh si pincang dari gua hantu itu: “Cak, lanang!”, katanya, sambil menuding dadanya.
Tiap hari menyeterika bumi, lalu-lalang pindah-pindah tempat. Masuk bandara bawah umur cium tangan sebelum urus check in. Tiba-tiba bertanya: “Ada ID-nya, Cak?”. Sehabis program diserbu kerumunan, cincinku ditarik dari jari manis, sendalku direbut, sisa kopiku diseruput, peciku dicuri. Seorang petugas keamanan berlari mengejar si penjambret peci. Berhasil merebutnya kembali.
Datang kepadaku dengan wajah heroik. “Ini, Cak, pecinya sudah saya ambil kembali”. Kemudian wajahnya mendekat dan berbisik: “Untuk saya saja ya Cak…”. Benar-benar indah. Bagaikan Reformasi 1998.
Sekarang bukan hanya peci. Apa saja. Sampai hampir seluruh NKRI. Kupikir ada pahlawan menyelamatkannya dengan merebut dari penjambretnya. Ternyata ia berbisik “Untuk saya saja ya…”
Yogya, 17 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/hantu-dan-peci-reformasi/