Sejak pagi ribuan penari yang terbagi menjadi banyak kelompok, menghiasi Trowulan. Siang hari ada Sarasehan Masa Depan Nusantara. Malamnya saya naikkan panggung 1.027 Perodad "Ishari", berpakaian Putih-putih berpeci Merah Putih, bekerja sama dengan KiaiKanjeng. Sangat mahal membiayai itu semua, dana saya mintakan kepada Capres ke-3 menjelang Pilpres 2014.
Para nelayan yang melaut, mengarungi "Banawa", bercengkerama dengan gelombang, bertaruh nyawa, berhari-hari atau berminggu-minggu meninggalkan keluarga mereka yang melepas dengan doa – tidak sempat ingat bunga-bunga ("Sekar"). Dan orang di daratan yang bermesraan dengan bunga-bunga, tidak mendengar gemuruh ombak samudera. Tetapi para pemimpin peradaban, pembangunan dan kebun-kebun keindahan masa depan: merangkumnya menjadi desain "Banawa Sekar". Itulah prinsip desain pembangunan Majapahit.
Acara massal "Banawa Sekar" itu memang dilangsungkan setelah Prabu Brawijaya V, Raja terakhir Majapahit – hadir beberapa kali di lembaga rakyat "Padhangmbulan" Menturo Sumobito Jombang, yang sudah memasuki tahun ke-24. Menturo, sekitar 10 km dari Trowulan, ialah daerah vila-vila tepian sungai untuk para tamu Kerajaan Majapahit. Bapak 117 anak yang di final Majapahit "mandito" di leher Gunung Lawu itu menyatakan di depan komunitas Padhangmbulan bahwa "sudah tiba waktunya Majapahit tegak kembali menyelamatkan Nusantara".
Sebentar. Prabu Brawijaya V Raja terakhir Majapahit naik panggung Padhangmbulan? Mohon merdekakan pikiran. Spektrumkan fenomenologi. Redakan ketegangan politik kekuasaan yang pragmatis dan temporal. Di masa Orde Baru, saya tanya kepada seorang penjual salak di Bangkalan : "Pak, siapa Gubernur Jawa Timur sekarang?"
Dia menjawab : "Pak Nur".
"Lho? Bukannya Sunandar Priyosudarmo?", saya bantah.
"Itu kan cuma penggantinya, Pak"
Baiklah.
"Kalau Presiden Indonesia?"
"O `dak tentu Pak. Kadang Moerdiono, kadang Harmoko. Pak Harmoko itu yang paling pintar. Harga lombok naik di pasar dia tahu, tarif listrik belum naik, dia sudah ngumumkan..."
"Lha jikalau Suharto?", saya kejar.
Si Madura menjawab : "O jikalau Pak Harto itu Raja, Pak..."
Maka alasannya ialah 5.000 hadirin Padhangmbulan itu kebanyakan bukan orang Madura, mereka bertanya-tanya apa benar yang naik podium itu Raja Majapahit Prabu Brawijaya V, dan kenapa saya tanpa keberatan apapun mempersilakannya naik podium. Bahkan hingga tiga kali dalam tiga bulan Padhangmbulan. Saya menjawab: "Kalau ada yang dapat menyerahkan kepada saya berapa jumlah bintang dan planet di Galaksi Bimasakti, atau sekurang-kurangnya jumlah seluruh rambut dan helai bulu-bulu di tubuhnya – akan saya katakan kepadanya siapakah Prabu Brawijaya V itu sebenarnya. Bahkan akan saya bukakan diam-diam kebenaran wacana bumi ini bundar atau datar"
Karena tidak ada yang angkat tangan, saya meneruskan: "Yang saya lihat dan terima dengan penuh kegembiraan dari tamu kita yang Anda semua bertanya-tanya siapa beliau, ialah cintanya kepada Indonesia, kebanggaannya atas Nusantara dan harapan sucinya atas nasib rakyat Negeri Banawa Sekar ini. Beliau meyakini sudah saatnya Majapahit lahir dan tegak kembali, tidak perlu Anda tafsirkan sebagai pernyataan makar terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena dia maupun kita semua ini hanyalah rakyat kecil yang tidak punya daya dan kuasa apapun untuk melaksanakan makar, menghentikan dan mengganti NKRI dengan Majapahit. Pemerintah Indonesia, TNI, Polisi Republik Indonesia dan semua perangkat pemerintahan, tidak perlu menjadi paranoid terhadap suara ekspresi kita. Makar itu kerja besar dan dahsyat, bukan beberapa kalimat literasi"
Prabu Brawijaya V itu mengungkapkan kerinduannya kepada kejayaan Majapahit, sampai-sampai ia mengidentifikasi dirinya sebagai Brawijaya V. Kerinduan kepada "gemah ripah loh jinawi"-nya. Kepada "toto tentrem kerto raharjo"-nya. Kepada "deso mowo coro, negoro mowo toto"-nya. Atau kepada kerukunan, persatuan kesatuan "Selapanan Kendi Emas"-nya.
Atau kepada administrasi pemilahan antara Negara dengan Pemerintahnya, yang NKRI merancukannya, dengan menyatukan fungsi Hayam Wuruk Kepala Negaranya dengan Gadjah Mada Perdana Menterinya. Sehingga tidak mengindahkan anatomi fungsi antara Keluarga dengan Rumah Tangga, antara Bendahara dengan Kasir, atau antara pemegang kebijakan dan sistem kontrol dengan eksekutornya.
"Majapahit tegak kembali, Majapahit ialah Masa depan", bukanlah kegaduhan politik ambisius wacana kudeta yang mengatasnamakan nama NKRI, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Melainkan harapan yang seakan tak pernah tercapai, pengharapan yang hampir menyentuh garis putus asa, atas berlangsungnya keadilan sosial, kedewasaan politik, akal budaya dan kesejahteraan penghidupan rakyat Indonesia. Kebangkitan Majapahit Bukan kata-kata politik, bukan egosentrisme Kelompok-kelompok pengincar kekuasaan, juga bukan paranoia kaum yang sedang berkuasa. Melainkan bahasa hati, ungkapan penantian yang terlalu lama, atau semacam igauan natural dari ratusan juta rakyat yang terlelap ditidurkan nasibnya oleh kekejaman zaman.
Prabu Brawijaya V dengan sekitar sepuluh punggawanya bahkan menangis di depan saya. "Kasihan rakyat. Kami tiba ke sini untuk menghimbau dan memastikan bahwa Panjenengan akan bertandang dan bertanding. Sudah beberapa tahun kami semua berpuasa Daud dan hampir setiap malam kami bertahajud"
Sudah niscaya saya tidak tega untuk menjawab dengan kalimat yang menambah tangis mereka. Anda tidak akan pernah mempunyai kecerdasan pikiran dan keliaran imajinasi untuk membayangkan bahwa Prabu Brawijaya V beserta punggawa-punggawanya, pengemban terakhir koalisi Hindu-Budha dengan konstitusi "Kutaramanawa": berpuasa Daud dan shalat tahajud.
Lebih tidak terjangkau lagi suatu simulasi sejarah di mana Prabu Brawijaya V meminta saya untuk melaksanakan harapan luhurnya atas bangsa Indonesia. Mungkin saya perlu melacak apakah saya ini ternyata keturunan Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung dan mengambil alih kekuasaannya. Harus segera saya temukan siapa Empu Gandring di masa Reformasi ini, yang niscaya kini tengah menyelesaikan pembuatan Kerisnya. Begitu saya temukan, akan saya paksa dia memasukkan sepuhan ke Sukma Keris itu dengan Pamor Kesaktian Pancasila, plus Warangka Bhinneka Tunggal Ika.
Supaya tidak terpojok untuk menjawab pengharapannya, Prabu Brawijaya V saya seret ke tema Perang Bubat. "Begini, Prabu, kita harus bereskan dulu relasi yang belum legolilo antara masyarakat Sunda dengan masyarakat Jawa, gara-gara Perang Bubat. Kelihatannya rakyat Siliwangi masih sakit hati rombongan Rajanya dicegat secara tidak bertata krama oleh pasukan Gadjah Mada. Di Jawa Barat hingga kini tidak ada Jalan Majapahit, Jalan Gajah Mada atau Jalan Hayam Wuruk. Kita harus melaksanakan tabayyun, yang bersalah minta maaf dan yang disalahi memaafkan"
Kelihatannya merupakan keharusan untuk menengok ke masa silam, erat maupun jauh. Busur masa silam yang jauh akan meluncurkan anak panah pembangunan Indonesia kita ke cakrawala masa depan jauh. Tidak dapat kita meneruskan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan dengan cara sepenggal demi sepenggal, haluan sepenggayuhan demi sepenggayuhan, mancalaputra-mancalaputri berganti-ganti kurikulum menurut ambisi pengurusnya.
Tidak hanya dibutuhkan haluan Negara panjang jauh ke depan yang dipatuhi oleh siapapun Presiden dan Pemerintahannya. Juga alasannya ialah ada ganjalan dan ketidaktuntasan dari masa silam yang menyerimpung kaki kita dalam menempuh masa depan.
"Memasadepankan Masa silam" itu yang menciptakan Brawijaya V saya persilakan naik panggung Padhangmbulan. Serta siapapun saja, tanpa persyaratan etnik, agama atau latar belakang apapun, termasuk andaikan ada hadirin yang bukan insan – naik panggung Mimbar Bebas alias Forum Kemerdekaan di Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Kenduri Cinta, Bangbang Wetan, Papparandang Até, Jamparing Asih, Juguran Syafaat, Maneges Qudroh, Warok Kaprawiran, Tong Il Qoryah dan semua Forum-forum Maiyah lainnya.
Juga di setiap lembaga di Desa-desa, Kota-kota, Kampus-kampus, Sekolah-sekolah, Lapangan-lapangan, Lereng-lereng gunung, tepian-tepian hutan, serta area yang Ijtihad di manapun, yang kini sedang mencapai titik ke 3889. Termasuk di Keraton-keraton, Hamengkubuwanan, Pakualaman, atau yang terakhir 29 September kemarin di Mangkunegaran.
Kita banyak salah pandangan terhadap masa silam. Keliru pengetahuan dan tidak sempurna ilmu dalam memperlakukan diri kita sendiri di masa silam. Karena itu kita akan terantuk-antuk kerikil mistik dalam perjalanan ke masa depan. Tetapi saya dan teman-teman tidak mampu mengurangi atau apalagi membatalkan cinta kepada bangsa Indonesia. Maka tidak pernah pula berhenti melaksanakan perjalanan untuk memasadepankan masa silam.
Kalau itu semua tidak tercapai, tak apa. Toh rakyat Indonesia sudah tinggi jam terbangnya untuk tidak tercapai cita-citanya. Sudah sangat berpengalaman untuk tidak berhasil perjuangannya. Serta selalu tetap tangguh mentalnya di dalam segala macam kesengsaraan dan derita. Dan saya sendiri toh sebagai pribadi, tidak pernah punya cita-cita.
Jakarta, 3 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/memasadepankan-masa-silam-2/