Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa jikalau Tuhan menyuruh kita pergi Haji, Tuhan sendiri tidak lantas mencontohi pergi Haji. Kalau Tuhan memerintahkan kita bayar zakat dan suka bersedekah, Tuhan sendiri terang Maha Pemurah dan sangat nyah-nyoh. Kalau Tuhan menyuruh kita berpuasa, dalam makna tertentu Tuhan sendiri selalu sangat berpuasa, menahan diri, menunda hukuman. Kalau tidak, layaklah Pulau Jawa ini longsor seluruhnya ditelan bumi.
Kalau Tuhan memerintahkan insan bersyahadat, meneguhkan kesaksian atas diri-Nya beserta kekasih-Nya, Ia sendiri bersaksi atas diri-Nya. “Kullama nadaita ya Hu, qala ya ‘abdii ana-Llah”. Setiap kali hatimu memanggil-manggil-Ku dengan cintamu, saya menjawab: “Ya, kekasih-Ku, ini Aku Allah kekasihmu…”. Dan jikalau Allah memerintahkan biar insan bershalawat kepada Muhammad kinasih-Nya, Allah sendiri memeloporinya, memberi teladan dan memulainya: “Innallaha wa malaikata-Hu yusholluna ‘alan-Nabi. Ya ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa sallimu tasliima…”
Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya ber-“Shalat” kepada Nabi. Maka wahai orang-orang yang mengimaninya, “shalatlah kepadanya, sampaikan akad keselamatan kepadanya seselamat-selamatnya”. Shalawat itu plural dari shalat. Allah shalat kepada Nabi dan kita semua, dalam konteks bukan menyembah Nabi dan kita, melainkan menyayangi dan memfasilitasi. Nabi shalat kepada Allah dalam posisi menyembah, mengabdi dan bersetia. Nabi “shalat” kepada kita dalam posisi menyayangi, mengasuh dan menyiapkan syafa’at, hak prerogatif dari Allah untuk memperoleh kemurahan ampunan-Nya kepada kita, melapangkan rezeki-Nya kepada kita.
Kita semua “bebekti” kepada Allah dengan shalat lima waktu tiap hari, serta shalat-shalat atau shalawat dalam konteks dan nuansa yang lebih luas dan aplikatif secara budaya hingga politik. Di Komunitas Maiyah dikenal terminologi “Cinta Segitiga”. Yakni saling cinta antara Allah, Muhammad dan kita.
Ada yang tidak paham: Kok mendoakan Nabimu? Apa nasibnya belum beres di depan Allah? Sangat logis dan masuk akal pertanyaan itu. Karena belum memahami dialektika kolusial segitiga itu. Kalau kita minta kepada Allah membawa hanya diri kita sendiri, kita tak punya cukup bargaining power untuk mendapat terusan ampunan atau rezeki dari Allah.
Tapi jikalau kita “sowan” kepada Allah menyertakan kekasih-Nya, Muhammad saw, atau kita mbuntut saja di belakang beliau, berpegangan serban beliau, “gondhelan klambine Kanjeng Nabi”—maka Allah luluh hati-Nya. Allah tidak tega tidak mengabulkan permintaan kita. Allah menjadi lebih murah hati menyejahterakan hidup kita, menenteramkan hati kita, serta mengatakan banyak hal yang kita mustahil tahu hanya dengan bekal intelektual dan spiritual default-nya manusia.
Di dalam penuturan Allah kepada insan wacana “cara menempuh kehidupan”, atau yang biasanya disebut Agama, disepadankan dengan konsep ad-Din – Allah menghamparkan majemuk fenomena informasi. Ada yang sederhana. Ada yang ketetapan padat. Ada aturan tersurat. Ada yang konteks tersirat. Ada yang paparan yang sebagian dimensinya disembunyikan. Ada yang merupakan seruan diskusi, atau biar insan terus berdiskusi dengan dirinya sendiri. Ada yang samar-samar. Ada yang menyerupai kelebatan info tapi susah dikejar.
Kehidupan insan memang memerlukan keragaman menyerupai itu. Manusia membutuhkan fakta, tapi juga perlu rahasia. Manusia perlu pengetahuan, tapi dalam hal-hal tertentu lebih baik tidak tahu. Kalau insan tahu kapan ia mati, bahkan tahu berdagang akan keuntungan atau tidak, tahu komplit isi hati suami atau istri, sanggup mendengar tetangga jauh ngomong apa, tahu pertandingan besok yang menang kesebelasan mana, juara turnamennya siapa. Dan seterusnya. Maka kehidupan akan disorganized. Peradaban segera bubar. Kiamat tak perlu dinantikan dari inisiatif Allah, alasannya kehidupan insan sendiri sangat efektif mengarah kepadanya.
Maka tatkala hamba Allah yang berjulukan Khidlir mendapat hak-hak Istimewa yang para Nabi dan Rasul lain tidak dikasih oleh Allah, itu juga ambil saja rasa syukur dan ilmunya. Khidlir boleh melaksanakan kriminalitas, bahkan teror. Ia membocorkan kapal yang ditumpanginya. Kemudian membunuh anak-anak. Lantas tanpa dibayar ia memperbaiki pagar besar dan panjang. Musa protes, dan itu yang menciptakan dia lulus secara khusus. Bahwa dia bertanya, itu melanggar akad dengan Khidlir, sehingga Sang Guru meninggalkannya. Hadza firaqun baini wa bainak.
Tetapi Nabi Musa lulus alasannya teguh pertahanan moral dan hukumnya. Bahkan mempertahankan akal sejarah, tidak pribadi memberontak kepada Khidlir, menantangnya berantem atau apapun bentuknya. Perpisahan Khidlir-Musa bukan bencana kegagalan ilmu, melainkan peneguhan pemilahan antara kebenaran dengan kebathilan. Musa mengambil ‘Ilmul Khudlur” dari Khidlir. Ilmu kehadiran. Bahwa sehebat-hebat usaha Musa melawan Fir'aun, ia tetap memerlukan “kehadiran” kuasa Allah. Maka dihadirkanlah Khidlir. Kuasa bumi tidak sanggup bangun sendiri. Tetap ada kuasa langit.
Itulah yang menjadikan secara umum dikuasai penduduk Indonesia yang ialah Kaum Muslimin, selalu bertahan melaksanakan akal Nabi Musa. Kalau bicara massa dan kekuatan politik, mana mungkin melawan Ummat Islam Indonesia. Kalau NU dan Muhammadiyah saja bergandengan tangan menangani pengelolaan NKRI, tidak ada yang sanggup mengganggu-gugatnya.
Akan tetapi mereka sangat bijaksana. Bahkan para Ulama tidak harus mempertahankan martabat untuk hanya mau jikalau “disowani” oleh Umara. Tak apa sebaliknya. Oke diundang ke Istana. Allah berfirman: “Wahai Musa, datanglah kepada Fir’aun”. Idzhab ila Fir’auna innahu thagha. Apalagi tidak ada Fir’aun di Jakarta. Pemimpin tertinggi bangsa ini bersinggasana atas pilihan secara umum dikuasai Kaum Muslimin. Ummat Islam tidak akan menentukan pemimpin jikalau ia bukan representasi dari Nabi Muhammad saw. Pemimpin Indonesia dengan secara umum dikuasai penduduk Muslim tentulah “Waratsatun-Nabi”, pewaris Nabi, “Tabi’ut-Tabi’in-Nabi”, pengikutnya pengikut utama Nabi.
Kaum Muslimin sangat meyakini pemimpin yang dibaiatnya. Percaya kepada kebenarannya. Menjunjung karakternya: Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. Jujur, sanggup dipercaya, sanggup dipegang akad dan perilakunya, komunikatif dan cerdas. Beliau bagaikan Nabi itu sendiri. Era kini ini ialah Hari Raya setelah puasa sangat usang bagi Kaum Muslimin dan rakyat Indonesia. Jangan ada yang mengkritik pemimpin pilihan Ummat Islam. Jangan nyinyir. Jaga lisan dari ujaran kebencian.
Yogya, 11 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/nabi-di-jakarta/