Menjadi sangat parah jika aku ketemu sahabat sesama kopoken. Dia menegur: “He, kau pribumi ya?”. Tentu saja aku marah. “Jangan ngawur kamu. Saya ini orisinil pribumi!”. Dia naik juga nadanya, “Lho, semua orang bilang kau pribumi kok”. Untuk menghindari konflik aku tinggalkan beliau sambil menggerundal: “Dasar tukang fitnah… Jelas-jelas aku pribumi gini kok”
Tidak hanya telinga, daya tangkap otak aku juga kopoken. Ada sahabat biasanya rajin jamaah di Masjid, Subuh itu absen. Nabi Muhammad bertanya, ternyata orang itu meninggal. Nabi segera ke kuburannya dan melaksanakan shalat. Saya berkesimpulan, “O, shalat di kuburan itu halal”.
Orang bilang sinar, aku memahaminya tergantung maunya status aku pagi itu. Terkadang aku artikan lampu, bolam, genset, PLN, matahari, Nur Muhammad, bahkan Orkes Melayu Sinar Kumala A Kadir Perak Surabaya. “Allah tidak aib mengambil perumpamaan dengan menyebut nyamuk atau yang lebih kecil”. O, ternyata Allah peternak serangga.
Sampai hari ini aku riset belum selesai untuk memastikan fakta materiil sejarah apakah Nabi Adam punya pusar, berapa tinggi tubuh Nabi Khidlir, serta berapa jumlah tahi lalat di seluruh tubuh Bung Karno. Sebelum menuturkan wacana amsal (amtsal), Tuhan kasih idiom “menyala meskipun tidak disulut” (yakadu zaituha yudli’u walau lam tamsashu nar). Saya selalu GR maknanya yaitu akan ada insiden besar sejarah meskipun insan tidak merancangnya, atau di luar hitungan mereka.
Ternyata yang aku alami yaitu aku menyalakan korek, tiba-tiba bangku yang diduduki tetangga mendadak panas. Sejak itu aku daftar korek api sebagai bab dari kaum intoleran.
Kadipiro, 19 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah
https://www.caknun.com/2017/membaca-amsal/